KETIKA THR TAK LAGI CUKUP

(ermuat di Kompas 21 jULI 2013)

Tahun ini, Tunjangan Hari Raya (THR) akan sangat berarti bagi masyarakat yang merayakan Lebaran. Harga sejumlah kebutuhan pokok yang melonjak, biaya transportasi yang meningkat akibat kenaikan harga BBM bersubsidi, membuat bayangan biaya kebutuhan lebaran bakal membengkak.

Gambaran tersebut tecermin dalam hasil jajak pendapat Kompas. Terjadi penurunan proporsi responden yang merasa cukup dengan THR-nya dan kenaikan proporsi yang merasa tidak cukup. Sebanyak 65,2 persen responden mengaku, penerimaan THR dari perusahaan tempatnya bekerja diperkirakan cukup untuk berbelanja berbagai kebutuhan lebaran. Jumlah ini sedikit menurun dari jumlah responden tahun 2012 lalu, dimana 76 persen responden menyatakan penerimaan THR dari tempat kerja dianggap mencukupi.

Di sisi lain, tahun ini ada peningkatan kelompok responden yang merasa bahwa perolehan THR-nya bakal tak mencukupi kebutuhan lebaran. Tahun lalu, hanya 16 persen responden yang masuk kategori ini, sedangkan tahun ini naik menjadi sekitar seperlima bagian responden.

Hal ini menguatkan persepsi bahwa lonjakan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok dan harga BBM cukup memengaruhi penerimaan tunjangan lebaran untuk memenuhi kebutuhan lebaran. Seperti yang dinyatakan seorang responden, Cica (37), untuk lebaran kali ini kenaikan pengeluaran untuk puasa, mudik dan lebaran sudah di depan mata.

Selain kenaikan harga bahan pokok yang sudah dialami, komposisi biaya transport diperkirakan akan menjadi berlipat. Cica menyatakan, tahun 2012 lalu untuk biaya mudik dari Jakarta ke kampungnya di Pemalang, Jawa Tengah menghabiskan sekitar Rp 500 ribu. Saat itu Cica menggunakan mobil pribadi yang ditumpangi seluruh keluarga. Namun dengan kenaikan harga bensin saat ini, biaya keseluruhan perjalanan pulang dengan naik mobil pribadi diperkirakan bakal melonjak sampai dua kali lipat. Padahal, kebutuhan pengeluaran lebaran tak hanya itu. Untuk konsumsi lebaran lainnya seperti membeli baju baru, oleh-oleh untuk kampung, serta hidangan lebaran juga sudah pasti harus disiapkan.

Dengan berbagai pertimbangan itu, Cica dan keluarga besarnya memutuskan mudik lebaran tahun ini menggunakan bus umum dengan pertimbangan biayanya bisa lebih dihemat. Dengan siasat mengubah moda transportasi itu pun ternyata masih belum bisa “menyelamatkan” anggaran pengeluaran keluarga Cica dari “keseimbangan” antara THR dan kebutuhan pengeluaran. Alhasil, Cica mengaku terpaksa menggunakan uang tabungan untuk memenuhi kebutuhan lebaran tahun ini.

 

Mengambil tabungan

Sama seperti nasib Cica, hampir separuh responden (47 persen) dari kelompok responden yang mengaku jumlah THR-nya tidak mencukupi, juga memilih langkah untuk mengambil uang tabungan. Bahkan ada 11 persen responden yang terpaksa berhutang, menggadaikan barang, ataupun melakukan pekerjaan sampingan demi kebutuhan lebaran. Ada pula 28 persen responden yang jauh-jauh hari sudah menabung khusus untuk keperluan hari raya tersebut.

Jika ditelusuri dari latar belakang ekonomi, ternyata persoalan THR yang dianggap tidak mencukupi ini juga menjadi problem bagi kelompok ekonomi yang lebih mampu. Tidak hanya responden dengan pengeluaran per bulan di bawah Rp 1,5 juta yang mengeluh, namun juga responden yang berpengeluaran lebih dari Rp 4,5 juta. Sebagian besar menyatakan jika THR yang diterimanya dari tempat kerja tak bakal bisa menutup seluruh pengeluaran lebaran.

Di satu sisi, kenaikan harga barang-barang bisa dituding menjadi penyebab ketimpangan pengeluaran itu. Namun, hal itu juga mengindikasikan semakin tinggi kelas ekonomi masyarakat, kebutuhan juga makin besar. Artinya, berapapun nilai THR yang diterima, tampaknya tidak bisa menutupi pengeluaran lebaran yang juga ikut membengkak. Jadi dari sudut pandang teori perilaku konsumen, semakin besar pendapatan dalam hal ini THR, justru jumlah konsumsi cenderung semakin besar.

 

Pesta Lebaran

Bagaimanapun, lebaran masih dipandang sebagai momen untuk melaksanakan “pesta nasional”.  Pemanfaatan uang tunjangan lebaran bagi kelompok yang habis tak bersisa, berlebih ataupun kurang, pada umumnya sama, dihabiskan untuk kegiatan konsumtif. Membeli pakaian atau sepatu baru adalah favorit separuh lebih bagian responden selain untuk untuk menyiapkan hidangan ekstra saat lebaran.

Penggunaan lainnya yang bersifat lebih fungsional proporsinya lebih kecil, seperti untuk membayar THR karyawan dan menabung. Ada juga sebagian kecil responden yang menggunakannya untuk beramal atau bahkan menabung. Ada 1,4 persen responden yang berencana bersedekah dan 2,7 persen responden menggunakannya untuk membagi semacam ‘angpao’ kepada saudara-saudara di kampung halaman.

Namun meski bakal ada pembengkakan dan kekurangan biaya disana sini, Lebaran adalah sebuah momen yang dianggap sebuah pesta yang harus dirayakan. Dan untuk pesta, semua pengeluaran sah saja dilakukan.  (M. Puteri Rosalina/Litbang Kompas)

 

Grafis :

Bagaimana penggunaan THR untuk mencukupi kebutuhan lebaran :

 

2012

2013

Berlebih

3,5%

4,8 %

Cukup

76,2%

65,2%

Tidak cukup

15,9%

24,1%

Tidak tahu/tidak jawab

4,4%

5,4%

 

Jika THR tidak cukup atau tidak menerima THR, manakah sumber pendanaan paling besar untuk menutup pengeluaran lebaran kali ini?

  • Mengambil uang tabungan                                                                                                  46,9%
  • Meminjam kepada teman/saudara                                                                                     9,1%
  • Menjual/menggadaikan barang                                                                                           1,8%
  • Menabung khusus untuk pengeluaran di bulan puasa dan lebaran                      27,6%
  • lainnya                                                                                                                                                 2 %
  • Melakukan pekerjaan sampingan                                                                                         0,3 %
  • Tidak tahu/tidak jawab                                                                                                             12,3%

 

 

N = 559 – 714                                                                                      

Sumber: Litbang Kompas

Pengumpulan pendapat melalui telepon ini diselenggarakan Litbang Kompas pada 30-31 Juli 2012 dan 22-23 Juli 2013. Sebanyak  559 dan 714 responden berusia minimal 17 tahun dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis dari buku telepon terbaru. Responden berdomisili di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Manado, Makassar, Denpasar, Bandung, Medan, Palembang, Banjarmasin, Pontianak, dan Semarang. Jumlah responden di setiap wilayah ditentukan secara proporsional. Menggunakan metode ini, pada tingkat kepercayaan 95 persen, nirpencuplikan penelitian + 3,5 s/d ± 3,7 persen. Meskipun demikian, kesalahan di luar pencuplikan dimungkinkan terjadi. Hasil jajak pendapat ini tidak dimaksudkan untuk mewakili pendapat seluruh masyarakat di negeri ini.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s