Ratusan Cerita dari Tarif Progresif KRL

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Belum genap seminggu penerapan tarif progresif kereta komuter, sudah beratus-ratus cerita yang mengiringinya. Ada cerita gembira – sedih – lucu – menjengkelkan yang terus keluar dari mulut para pengguna KRL. Bagaimana tidak, gerbong kereta mendadak langsung penuh. ‘Wajah-wajah’ baru dan perilakunya muncul. Plus terakhir, kehebohan penggunaan kartu ekeltronik yang bikin bingung dan repot.

 

Penurunan harga tiket sampai 75 persen pada 1 Juli lalu, memang membawa pengaruh besar pada melonjaknya jumlah penumpang KRL. Tanpa harus melihat data, lonjakan penumpang dapat dilihat pada penuh sesaknya gerbong-gerbong KRL pada setiap jadwal keberangkatan. Jika dulu, gerbong kereta penuh sesak pada jadwal pagi saat masyarakat hendak berangkat kerja- sekolah-beraktivitas lain serta pada sore/malam hari ketika jam pulang kantor. Sekarang hampir setiap jadwal keberangkatan, gerbong penumpang selalu penuh. Bahkan terkadang, jadwal sekitar pukul 11.00 – 12.00 siang sama penuhnya dengan jadwal pagi dan sore hari. Orang seperti berlomba-lomba naik KRL.

 

Dari beberapa catatan stasiun kereta api, lonjakan jumlah penumpang sampai 25-50 persen. Data dari stasiun Sudimara menyebutkan, sebelum 1 Juli, jumlah penumpang rata-rata hanya sekitar 9.500 orang. Sekarang, meningkat pesat menjadi 14.000 Juga pada stasiun Bojong Gede di jalur Bogor-Jakarta yang terkenal merupakan jalur padat. Jumlah penumpangnya naik  26  persen.

 

Sekilas, meningkatnya jumlah kereta membawa indikasi positif bahwa angkutan umum massal sekarang sudah diminati oleh masyarakat. Indikasi ini ke depan memang menguntungkan untuk mengurangi kemacetan di Jabodetabek karena penggunaan kendaraan pribadi akan berkurang dan beralih ke kereta KRL.

Namun, lonjakan jumlah penumpang ini harus dijaga supaya berkesinambungan dan tidak bersifat eforia masyarakat saja. Pasalnya, sesaknya gerbong penumpang selama lima hari ini sudah dikeluhkan oleh para penumpangnya. Penumpang merasa tidak nyaman dengan gerbong yang selalu penuh di setiap jadwal keberangkatan. “Kalau dulu, meski penuh, masih selalu ada celah untuk masuk dalam gerbong. Tapi sekarang, masuk gerbong saja sulit dan pintu tak bisa ditutup” kata Arko (34) karyawan swasta yang berkantor di kawasan Slipi. Keluhan lainnya, penumpang sudah sulit untuk menapakkan dua kaki di dalam gerbong saking penuhnya. Jangan sampai keluhan-keluhan penumpang ini berujung pada beralihnya pengguna KRL ke kendaraan pribadi.

 

Tapi apakah benar, naiknya jumlah penumpang ini berasal dari pengguna kendaraan pribadi? Bisa saja, lonjakan penumpang ini pindahan dari penumpang kereta ekonomi yang sudah mulai dikurangi jumlah perjalanannya. Atau bisa juga pindahan dari pengguna angkutan umum lain seperti bus dan angkot.

 

Jika dugaan ini benar, masalah kemacetan belum teratasi dan malah menimbulkan masalah baru yaitu menurunnya kualitas pelayanan KRL. Dan lagi-lagi berujung pada meningkatnya jumlah pengguna kendaraan pribadi dari kawasan pinggiran Jakarta karena penumpang yang merasa tidak nyaman dengan pelayanan KRL akan beralih lagi pada kendaraan pribadinya.

 

Perilaku Penumpang

Ketidak-nyamanan ini tidak hanya berasal dari gerbong yang penuh. Namun bertemunya dua kelas sosial yang berbeda dalam satu gerbong kereta AC bisa sebagai awal ketidak-nyamanan dan menimbulkan banyak cerita.

Menurunnya tarif kereta api seharga Rp 2.000 untuk lima stasiun dan dihapusnya jadwal kereta ekonomi membuat masyarakat yang biasanya menumpang kereta ekonomi beralih pada kereta AC. Mereka cukup diuntungkan dengan harga Rp 2.000 sudah bisa merasakan nikmatnya kereta yang dingin.

 

Sayang, ‘kepindahan’ eks penumpang kereta ekonomi ke kereta AC tidak serta merta langsung meniru perilaku penumpang kereta AC. Perilaku penumpang kereta ekonomi yang lebih terbuka, suka dengan keramaian, sering makan dan minum di kereta, cenderung tidak tertib, serta ramah, berlawanan dengan

Perilaku penumpang kereta AC. Penumpang kereta AC, cenderung untuk diam, sibuk dengan gadgetnya masing-masing, tidak ramah, serta tertib.

 

Pertemuan dua perilaku yang berbeda ini menimbulkan sedikit ‘gesekan’ diantara penumpang. Penumpang asli KRL AC yang cenderung tertib berulang kali harus protes dan mengelus dada melihat perilaku penumpang ekonomi. Terkadang, ada penumpang yang duduk bergerombol di lantai kereta-menutupi lalu lintas antar gerbong – Bahkan sambil makan dan minum. Tidak berhenti sampai disitu, mereka juga menciptakan keriuhan sendiri, tanpa mempedulikan lingkungan sekitar.

 

Sebenarnya bukan faktor keramaian yang sering diprotes penumpang asli kereta AC, tapi lebih pada perilaku tidak disiplin seperti makan dan minum di kereta, membuang sampah sembarangan, serta duduk di lantai yang mengurangi ruang gerak berdiri penumpang lain.

 

Perilaku sosial ini tampaknya tidak sepenuhnya diantisipasi oleh PT KAI. Mereka lebih memikirkan faktor teknis saja supaya penumpang KRL meningkat dengan peralihan pengguna kendaraan pribadi ke kereta api. Bisa saja mereka tidak mengira kalau terjadi bentrokan perilaku sosial.

 

Namun, jika tidak segera ada penanganan, ketidak-nyaman tersebut menjadi buah simalakama. Jumlah penumpang kereta komuter yang sudah melonjak drastic seminggu ini akan berbalik menurun drastic.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s