Jajak Pendapat : Gaya Menikmati Kemacetan Warga Ibukota Jakarta

Ketika macet sudah menjadi makanan sehari-hari warga Jakarta, menunggu macet terurai menjadi pilihan terbaik. Pekerjaan kantor selesai, hobi tersalurkan, serta tali silaturahmi bisa terjaga. Disamping itu bisa sedikit menghemat penggunaan BBM  dan mengurangi kepadatan lalu lintas. Itulah yang sehari-hari dilakukan Raras (33) dan Ruli (37) karyawan swasta yang bekerja di kawasan selatan dan pusat Jakarta.

 Ruli memilih untuk mengisi waktu dengan berolahraga di pusat kebugaran. Berbeda halnya dengan Raras yang  menunggu keriuhan Jakarta di kantor dengan melanjutkan pekerjaan, menonton TV atau sekedar bermain game dari komputer. Pada akhirnya, warga Jakarta mempunyai siasat masing-masing untuk beradaptasi dengan kemacetan.

 Sama halnya dengan Raras dan Ruli, sebanyak 21 persen responden jajak pendapat Kompas juga memilih mundur sejenak dari kepadatan lalu lintas.  Meski persentasenya masih kecil, tapi ini bisa menjadi gambaran bagaimana warga Jakarta mulai beradaptasi dengan kemacetan yang tak kunjung ada penyelesaiannya. Proses adaptasi yang dilakukan adalah menghindari kemacetan tersebut dan mengisinya dengan kegiatan yang lebih efektif dan bermanfaat.

 Seperti cerita Raras, sebelumnya, dia selalu langsung pulang dan memilih terjebak macet karena keterbatasan angkutan umum menuju rumahnya di daerah Lenteng Agung.  Meski masih bisa tidur di angkutan umum, berlama-lama di dalamnya tidak membuat Raras nyaman. Apalagi biaya transportasi lebih besar dibandingkan naik kendaraan pribadi karena harus berganti tiga kali moda. Akhirnya Raras memilih menggunaan mobil pribadi dan mengubah pola kerjanya. “Mending datang ke kantor siang dan pulang malam ketika macet selesai”, kata Raras.

 Hasil jajak pendapat Kompas menyebutkan bagian terbesar responden yang menunggu kepadatan lalu lintas reda, berasal dari kelas menengah atas dan berusia muda. Hampir 80 persen responden yang memilih menunggu kemacetan pengeluarannya lebih dari Rp 2 juta. Dari sisi usia pun, sekitar 40 persennya berumur 17-27 tahun. 

 Menunggu kemacetan usai, baik di tempat kerja/aktivitas atau di tempat lain memang akan menambah pengeluaran. Hal itulah yang menjadi alasan 79 persen responden yang memilih langsung pulang dari tempat kerja/aktivitas, tanpa menunggu macet selesai. Dewi (43), seorang karyawan swasta memilih untuk langsung pulang karena menunggu akan mengeluarkan biaya lebih besar untuk makan/minum ataupun melakukan kegiatan lain. “Menunggu macet sampai kapan? Macet tidak akan berhenti juga”, katanya.

 Hal tersebut yang mendasari mengapa alternatif menunggu macet, banyak dilakukan oleh kelas menengah ke atas. Selama menunggu, separuh lebih responden melakukan aktivitas yang mengeluarkan biaya seperti makan/minum, bertemu relasi atau teman yang dilakukan sambil makan, berolahraga, dan belanja. Dengan kegiatan tersebut, sudah pasti pusat perbelanjaan, kafe dan restoran menjadi tempat favorit untuk menunggu.

 Peluang dari kelompok responden menengah atas yang setia menunggu macet tersebut dimanfaatkan oleh investor swasta. Kafe dan restoran dari harga murah sampai mahal mulai merebak di pusat perbelanjaan ataupun tempat strategis titik kemacetan. Kafe dan restoran tersebut menawarkan tempat nyaman dan fasilitas memadai yang membuat pengunjung betah menunggu kemacetan.

 Selain kafe/restoran dan pusat perbelanjaan, lokasi menunggu macet juga bervariasi. Seperti kantor, kampus,tempat olahraga, rumah teman, dan terminal. Responden laki-laki dan perempuan mempunyai tempat favorit masing-masing untuk menghindari kemacetan Jakarta. Sebanyak 30 persen responden perempuan lebih memilih pusat perbelanjaan untuk memanfaatkan waktu. Sedangkan 35 persen responden laki-laki menghabiskan waktu di kantor.

 Perempuan yang identik dengan hobi belanja, terlihat dari hasil jajak pendapat ini. Saat untuk menunggu macet masih bisa dimanfaatkan untuk berbelanja atau sekedar window shopping di mall. Berbeda halnya dengan responden laki-laki, kelompok tersebut menganggap menunggu kemacetan usai di kantor lebih efektif. Bisa jadi mereka tidak melanjutkan pekerjaan tapi melakukan kegiatan hobi seperti main game, menonton TV, ataupun berolahraga.

Kelompok responden ‘penunggu macet’ yang memilih untuk bertemu teman/relasi, mayoritas berprofesi sebagai karyawan swasta serta pelajar/mahasiswa. Usianya relatif muda sekitar 17-27 tahun. Kelompok usia berikutnya 28-36 tahun, lebih senang melakukannya dengan makan/minum. Meski bisa saja mereka yang bertemu teman melakukannya sambil makan/minum.

 Cukup menarik pilihan kelompok responden yang mewakili usia tua (diatas 37 tahun). Mereka menyebutkan tetap melakukan pekerjaan di kantor. Bisa jadi pilihan sengaja lembur di kantor dianggap lebih efektif untuk menghindari kemacetan di Jakarta. Seperti alasan Raras, lebih enak bekerja di kantor di malam hari ketika suasana sepi.

 Proses menunggu kemacetan terurai, sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama. Sekitar 55 persen responden menyebutkan paling lama membutuhkan waktu satu jam untuk menunggu lengangnya lalu lintas. Ada juga sebanyak 29 persen responden yang menyediakan waktu dua jam, dengan tetap melanjutkan pekerjaan di kantor, makan/minum serta bertemu teman di luar kantor. Aktivitas menunggu selama satu sampai dua jam dari jam pulang kantor (pukul 16.00 – 17.00) inilah yang membuat puncak jam sibuk saat sore hari adalah pukul 18.00.

 Waktu satu sampai dua jam tidak lagi dirasa lama oleh responden “penunggu setia kemacetan”. Mereka telah mensiasatinya dengan berbagai kegiatan yang disenangi dan dianggap efektif untuk memanfaatkan waktu menunggu. Pada akhirnya, menunggu macet menjadi gaya hidup sebagian warga Jakarta daripada stress dengan masalah transportasi yang tidak jelas penyelesaiannya tersebut. Benar kata Ruli, “Lebih baik menunggu macet daripada bensin terbuang percuma dan stres di jalan.” (M. Puteri Rosalina/Litbang Kompas)

 Grafis:

Responden yang Menunggu Kemacetan Terurai

  • Jenis kelamin                             : laki-laki 55,6 %                                 ;               perempuan 44,4%                          
  • Pekerjaan                                   : Karyawan swasta 42,7 %

 Wiraswasta/pengusaha 21%

                 Pelajar 18,5 %   

                Ibu Rumah tangga 11,3  %

                 PNS 3,2%

               Pensiunan 3,2 %            

  • Pengeluaran keluarga            : kurang dari Rp 1 juta : 21,8 %

                                                          Rp 1 – 2 juta : 22,6%

                                                          Rp 2 – 3 juta : 21 %

                                                           Rp 3 – 5 juta : 19,4%

                                                           Lebih dari Rp 5 juta  : 15,3 %

  • Usia                                               : 17 – 27 tahun : 37 %

                                                                  28 – 38 tahun : 21 %

                                                                 38 –  50 tahun : 26,6%

                                                                  Lebih dari 50 tahun : 15,3 %

Aktivitas saat menunggu macet (bagian terbesar responden)

Aktivitas

Umur (tahun)

Pekerjaan

Pendapatan

Tetap bekerja

38-50 (52,4%)

 

Karyawan swasta (62%)

Lebih Rp 5 juta (42,9%)

Berolahraga

23-38 (33,3%)

38-50 (33,3%)

Wiraswasta (50%)

Rp 2-3 juta  (50%)

Bertemu teman

17-27 (60,6%)

Karyawan swasta (39%)

Pelajar/mahasiswa (39%)

Kurang dari Rp 1 juta ( 36%)

Makan/minum

28-38 (45,2%)

Karyawan swasta (45%)

Rp 1-2 juta (25,8%)

Rp 3-5 juta (25,8%)

Lainnya

38 -50 (35%)

Karyawan swasta (34%)

Kurang dari Rp 1 juta (31%)

(termuat di Kompas Siang 18 Juni 2013)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s