Angkutan Pengumpan : Antara Peluang, Harapan dan Kenyataan

Oleh : Susanti Agustina S dan M. Puteri Rosalina

 Angkutan pengumpan bisa berpengaruh pada perkembangan angkutan umum massal. Moda ini menarik minat calon penumpang untuk menggunakan moda umum. Harapan masyarakat, angkot dan bus berbiaya terjangkau bisa menjadi moda pengumpan menuju halte/stasiun. Sayang, peluang belum bisa ditangkap dan harapan belum bisa terwujud.

 Angkutan pengumpan merupakan angkutan orang yang mendukung angkutan massal. Moda ini akan mengantar masyarakat dari rumah menuju stasiun atau halte terdekat. Juga menjemput dari stasiun/halte menuju tempat aktivitas. Moda ini bisa berupa moda umum atau pribadi. Karena tugasnya ‘mengantar dan menjemput’, menjadi salah satu penentu calon penumpang menggunakan busway dan kereta api. Jika moda pengumpan yang didominasi angkutan umum tidak berkualitas baik, lambat laun masyarakat akan menggantinya dengan moda pribadi. Selanjutnya, jika angkutan massal kualitasnya kian turun, moda pribadilah yang menjadi moda utama.

 Terbukti, kendaraan pribadi masih menjadi moda andalan. Hasil jajak pendapat Litbang Kompas menyebutkan, 49 persen responden masih menggunakan sepeda motor dan 19,8 persen menggunakan mobil sebagai angkutan utama untuk bermobilitas di Jakarta. Pengguna angkutan umum hanya berkisar 24 persen.

 Potensi moda pengumpan tidak dimanfaatkan dengan baik oleh Pemprov Jakarta sejak dulu. Pengadaan moda pengumpan yang dikelola secara khusus mulai ada berbarengan dengan lahirnya busway (2004). Namun, feeder busway tersebut tidak dikelola dengan baik. Moda yang mempunyai tiga rute (Sentra Primer Barat, Salemba UI – Tanah Abang, dan SCBD – Senayan) tersebut tidak laku karena dinilai rutenya tidak tepat sasaran dan jadwalnya kacau. Operator bus merugi karena jumlah penumpang terus menurun sehingga tidak mampu menutup biaya operasional. Ujungnya, feeder busway tersebut berhenti beroperasi di 2012.

 Sebagai gantinya, sejak Maret 2012, Pemprov DKI Jakarta telah menyediakan pengumpan bagi angkutan massal umum busway. Pengumpan tersebut berupa Angkutan Perbatasan Terintegasi Bus (APTB) yang menghubungkan masyarakat di kawasan pinggiran dengan  Jakarta dan Kopaja AC yang beroperasi di tengah kota Jakarta.

 APTB  memiliki tujuh rute yakni Ciputat – Kota, Poris Plawad-Taman Anggrek, Bekasi-Pulogadung, Cibinong-Grogol, Bogor-Rawamangun, Bekasi-Tanah Abang, dan Bekasi-Bundaran Hotel Indonesia (HI). Semua rute APTB beroperasi pukul 05.00 – 23.00.

 Pemerintah juga mengoperasikan Kopaja AC P20 jurusan Lebak Bulus-Senen dan Kopaja AC S602 jurusan Ragunan-Monas sebagai feeder dalam kota Jakarta yang terintegrasi dengan jalur busway. Tarif yang dibebankan kepada penumpang Kopaja AC yakni Rp 5.000 per penumpang.

 Namun, setelah setahun beroperasi, keberadaan Kopaja AC dan APTB belum berpengaruh langsung untuk meningkatkan daya tarik pengguna busway. Jumlah pengguna Transjakarta pada koridor yang tersambung dengan Kopaja AC dan APTB, sejak Maret 2012  tidak meningkat secara signifikan.  Dari 12 koridor, hanya koridor 1 yang menunjukkan peningkatan. April 2012, jumlah penumpang busway di koridor 1, 1,9 juta orang. Sementara April 2013 meningkat 9,5 persen menjadi 2,1 juta penumpang.

 Hal tersebut menunjukkan keberadaan angkutan pengumpan yang berpotensial tersebut belum efektif kinerjanya. Bisa jadi karena kurang sosialisasi, sehingga masyarakat tidak mengetahui keberadaan dua moda pengumpan tersebut.  Faktor kemungkinan lainnya, tarif APTB dan Kopaja AC yang berkisar Rp 8.000 hingga Rp 12.000 tersebut masih dinilai mahal. Sebagai contoh tarif APTB dari Bekasi – Tanah Abang yang dipatok Rp 8.000 dinilai lebih mahal dibandingkan tarif bus regular dengan rute yang sama yang hanya Rp 6.500.

 Meski lebih mahal, sebenarnya feeder busway berupa APTB dan Kopaja AC lebih praktis. Dengan membayar Rp 8.000, penumpang sudah terintegrasi dengan koridor busway (langsung turun di halte) dan tidak perlu membeli tiket lagi. Bandingkan dengan ketika naik angkutan reguler Rp 6.000, penumpang masih harus naik jembatan penyeberangan menuju halte busway. Memang lebih murah tapi tidak praktis.

 Meski terlihat belum terlalu diminati, tapi pengguna pengumpan busway berpotensi akan meningkat karena mayoritas responden menilai positif keberadaan feeder busway. Sebanyak 78 persen responden menganggap keberadaan pengumpan busway cukup efektif. Selain itu, hampir 60 persen responden menilai kualitas feeder busway semakin baik. Tarifnya pun sudah dianggap pas oleh lebih dari tiga perempat responden yang menjadi pengguna. Apabila jadwal lebih jelas, feeder menggunakan bus besar, keamanan dan kenyamanan lebih terjaga, serta pengemudi berkendara dengan baik, pengguna APTB dan Kopaja AC di masing-masing rute berpotensi meningkat.

 Pengumpan Kereta Api

Berbeda dengan busway, pengumpan moda kereta api belum dikelola khusus. Selama ini kelompok responden pengguna kereta api yang menggunakan pengumpan berupa angkot (75 persen responden), sepeda motor (16,7 persen), dan sisanya menggunakan mobil pribadi dan ojek.

 Di sisi lain, kereta api mulai diminati oleh masyarakat hinterland Jakarta. Hingga akhir 2012, penumpangnya mencapai 134 juta orang, meningkat 10 persen dari tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah penumpang ini, bisa jadi karena akses jalan wilayah pinggiran – Jakarta keadaannya macet sehingga masyarakat lebih memilih untuk menggunakan kereta api. Selain itu, PT KAI, mulai memperbaiki kualitas dan kuantitas kereta api, seperti revitalisasi gerbong, perubahan jadwal, dan penyediaan fasilitas park and ride.

 Selain ketidak-nyamanan, biaya angkutan pengumpan yang lebih tinggi dibandingkan angkutan utamanya juga sering menjadi keluhan. Responden jajak pendapat Kompas menyebutkan biaya maksimal moda pengumpan mencapai Rp 80.000. Bahkan ongkos untuk membayar angkutan pengumpan bisa mencapai lebih dari 67 persen dari biaya transportasi sehari. Sebagai gambaran, seorang penumpang kereta api bisa menghabiskan Rp 15.000 hanya untuk membayar ongkos ojek dari stasiun menuju tempat kerja/aktivitasnya. Padahal tiket kereta api hanya separuhnya (Rp 8.000).

 Harapan

Biaya yang tinggi serta ketidak-nyamanan moda pengumpan yang belum dikelola dengan baik menjadi titik perhatian utama bagi penyediaan angkutan pengumpan. Biaya yang diinginkan untuk ongkos sekali naik angkutan pengumpan berkisar Rp 3.000 – 5.000. Wajar saja, dengan ongkos maksimal Rp 5.000 sekali naik, nilainya masih berimbang dibandingkan moda utamanya seperti busway (Rp 3.500) dan kereta api (Rp 8.000).

 Hampir 40 persen responden menghendaki angkot bisa membantu akses menuju dan dari stasiun/halte. Sekitar 24-36 persen responden menginginkan bus sebagai pengumpan. Dan sisanya sekitar 15 persen berharap masih bisa mengandalkan kendaraan pribadi.

 Dari harapan tersebut terlihat, bagian terbesar responden masih mendamba angkutan umum bisa berperan sebagai angkutan pengumpan. Tentu saja, angkutan umum tersebut harus dibawah manajemen yang teratur. Tak perlu armada baru, tapi armada yang nyaman, layak pakai, biaya murah, perilaku sopir yang sopan, rute yang jelas, serta jadwal yang teratur. Selama ini, angkot dan bus memang sudah menjadi pengumpan busway dan kereta api. Hanya saja, pemerintah belum menyediakan sarana-prasarana memadai.

 Jika kuantitas dan kualitas angkutan umum baik, lambat laun akan terus digunakan oleh masyarakat. Selanjutnya penggunaan kendaraan pribadi bisa berkurang. Dalam kondisi ideal, angkutan pengumpan bisa turut andil untuk menarik masyarakat menggunakan kendaraan umum massal. Siapapun pasti akan memilih naik kereta api atau busway menuju dan keluar dari halte/stasiun jika sudah tersedia angkutan pengumpan yang murah, nyaman, dan terjadwal. (Litbang Kompas)

 Grafis :
Moda Pengumpan yang Diharapkan Menuju/dari halte bus Transjakarta

Angkot

35,2 %

Bus

29,9 %

Sepeda Motor

15,5 %

Ojek

4,9 %

Bajaj

1,9%

Bus Khusus

1,8%

Lainnya (monorel, taksi MRT, delman)

1 %

 Moda Pengumpan yang Diharapkan Menuju/dari Stasiun KA

Angkot  

39,8%

Bus         

23,5%

Sepeda motor                      

14,7%

Mobil pribadi

5,5%

Ojek

4,1%

Bajaj                                       

2,6%

Bus Khusus

1,7%

Busway

0,3%

MRT

0,2%

 Ongkos Maksimum yang Diharapkan untuk sekali naik Angkutan Pengumpan

Kurang dari Rp 3.000

41,1 %

Rp 3.000 – 4.000

9%

Rp 4.000 – 5.000

32,3 %

Lebih dari Rp 5.000

17,6 %

Biaya moda pengumpan dibandingkan Biaya Transportasi Sehari

Kurang dari 23 persen

8,5 %

23 – 67 persen    

10,2%

Lebih dari 67 persen

25,9%

               

Metode jajak pendapat

Pengumpulan pendapat melalui telepon ini diselenggarakan Litbang Kompas pada 15-16 Juni 2013. Sebanyak 586 responden berusia minimal 17 tahun dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis dari buku telepon terbaru. Responden berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok Tangerang dan Bekasi. Menggunakan metode ini, pada tingkat kepercayaan 95 persen, nirpencuplikan penelitian ± 3,9 persen. Meskipun demikian, kesalahan di luar pencuplikan dimungkinkan terjadi. Hasil jajak pendapat ini tidak dimaksudkan untuk mewakili pendapat seluruh masyarakat di negeri ini.

 

Sumber: Litbang Kompas

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s