Sepenggal Cerita Kereta Pagi

Pagi itu, setiap kereta singgah di stasiun hatiku berdebar. Posisi badan memasang jurus pertahanan diri, bersiap menahan desakan tubuh-tubuh orang. Tangan kanan dan kiri berpegangan kuat pada handle pegangan tangan yang bergantung. Tas kerja dari awal sudah kutaruh di bagasi atas tempat duduk. Napas tertahan menahan debaran jantung.

Cittt…kereta berhenti di Stasiun Sudimara. Mataku mulai menyapu pandangan di luar gerbong kereta. Wow, sudah penuh dengan barisan manusia yang bersiap berebut tempat di kereta. Dan…debaran jantung bertambah keras. Pintu gerbong kereta terbuka.

Apa yang terjadi…puluhan wanita berebutan masuk melalui tiga pintu di gerbong perempuan. Aku menguatkan posisi kuda-kudaku. Benar, tak lama aku merasakan desakan-desakan dari berbagai penjuru. Aku yang sudah mendapat pegangan erat pada sebuah handle tak terasa sudah bergeser menjauh dari handle. Aku hanya bisa terdiam, menahan napas.

Kereta mulai berjalan. Aku mulai terbatuk-batuk. Bukan karena tenggorokan gatal tapi aku merasa kesulitan bernapas. Berusaha menarik napas panjang tapi tak berhasil. Bau parfum bercampur keringat membuatku semakin kacau. Hanya bisa menahan napas dan terus batuk-batuk untuk mencari udara segar.

Tadi baru satu stasiun terlewati, masih ada dua stasiun lagi yang berpotensi meningkatkan jumlah penumpang di dalam gerbong wanita ini. Dan perhentian berikutnya Stasiun Jurangmangu. Deretan manusia masih tampak berdiri di sepanjang peron, tapi tidak sebanyak calon penumpang di Sudimara.

Aku sudah tidak bisa melihat lagi kondisi ruang di depan pintu gerbong ini. Dan pintu terbuka. Aku melihat puluhan wanita berdesakan di tiga mulut pintu. Beberapa berusaha masuk dan beberapa lainnya mengurungkan diri untuk naik gerbong.Termasuk beberapa wanita hamil, dengan wajah pasrah kembali ke bangku tunggu. Hhhm sepertinya gerbong telah terisi penuh dan tidak sedikit menyisakan ruang bagi calon penumpang yang ingin menaikinya. Aku berpikir, pasti mereka mengurungkan niat karena malas berdesakan dan berharap pada kedatangan kereta berikutnya.

Desakan semakin keras. Aku masih tetap batuk-batuk. Kaki ini mulai pegal karena tak tahan menahan dorongan tubuh dari segala penjuru arah. Tangan kiri mulai terlepas dari pegangan, tapi tetap saja tak bisa turun lurus ke bawah. Benar-benar tak ada sisa ruang sedikit pun di sekeliling tubuhku. Akhirnya aku memilih menggantungkan tangan kiriku pada saku jaket.

Ah, masih satu stasiun lagi yaitu Pondok Ranji. Aku berharap sudah tak ada lagi penumpang yang masuk. Rasanya sudah mau pingsan. Tapi harapanku sirna. Sama seperti dua stasiun lainnya, deretan manusia haus kereta berderet di peron. PIntu terbuka di Pondok Ranji. Lagi-lagi gerombolan perempuan berusaha menembus pintu masuk. Kali ini hanya sekitar 10 orang yang bisa masuk dari tiga pintu gerbong perempuan. Lagi-lagi beberapa perempuan mengurungkan niat dan tampak wajah kepasrahan. Hampir saja pintu tak bisa menutup sehingga satpam stasiun harus mendorong beberapa penumpang ke arah dalam.

Lega, tiga stasiun terlewati. Tapi aku belum cukup dapat oksigen. Masih tetap batuk-batuk. Tangan dan kaki pegal. Perempuan di depanku mendorongku ke belakang dan memberiku tanda bahwa dia terjepit. Aku berusaha mundur, tapi sepertinya susah karena desakan puluhan orang di belakangku cukup kuat.

Jarak antara stasiun Pondok Ranji dan Kebayoran Lama cukup panjang. Rel kereta di beberapa titik meliuk-liuk, membuat tubuh-tubuh penumpang bergoyang kanan-kiri. Tak lama terdengar teriakan ‘aduh’, ‘aw’. Terasa seperti cendol yang berada dalam sebuah toples yang jika digoyang akan ‘kocak’ dan keluar isinya.

Sambil menahan penderitaan, aku mulai berpikir. Gila juga ya penumpang-penumpang yang setiap pagi harus mengalami kondisi seperti ini. Setiap pagi sebelum kerja, harus berjibaku menembus kerumunan orang di peron, menembus pintu masuk kereta, bertahan di tengah himpitan penumpang, dan berkeringat. Belum lagi harus berjuang mencapai pintu keluar ketika harus berhenti di stasiun tujuan. Terakhir…berjuang mencari sambungan moda transportasi selanjutnya menuju tempat kerja.

Masih beruntung, aku bisa berangkat agak siang, diluar jadwal kepadatan kereta. Juga pulang malam, diluar jadwal kereta yang padat. Tak terbayangkan jika setiap hari harus naik kereta padat.

Semoga di masa depan, kereta bisa setiap 5 menit singgah di setiap stasiun sehingga tak perlu lagi orang berdesakan di peron stasiun dan di dalam gerbong.

Bermimpi kereta komuter seperti MRT Singapore….. kalau ini terwujud, perlahan tapi pasti jumlah pengguna kendaraan pribadi dari wilayah pinggiran akan menurun dan…..kemacetan teratasi…

I hope my dreams come true

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s