Renungan Menjelang 35 Tahun

Enam bulan di awal tahun 2013 dan menjelang usia ke-35, aku banyak melakukan hal bodoh dan tidak dewasa. Aku terlalu focus pada pekerjaan, bahkan terlalu serius. Hal-hal menyenangkan yang menjadi hobi, aku kesampingkan. Meski terkadang masih aku lakukan.

 Berawal dari ‘bincang-bincang’ gak penting dengan seorang teman di meja makan rumah. Bincang-bincang  mengenai nilai KPI. Sampai akhirnya aku tersadar menemukan fakta bahwa nilaiku lebih rendah dari teman-teman lain, bahkan ada di posisi no.5. Mungkin juga karena pengaruh ‘PMS’, aku cepat tersulut emosi. Dan kekesalan pun dimulai. Kebodohan dan kesalahan pertama karena selama ini aku sudah berikrar tidak akan meributkan nilai KPI.

 Aku hanya merasa kesal, sudah cukup kerja keras di semester sebelumnya. Produktifitasku berkarya lewat tulisan berkurang karena aku terlalu lelah mengurusi survey Pilkada Jakarta. Muncullah perasaan bodoh lainnya ‘merasa tak dihargai’.

 Cukup lama aku terbelenggu rasa itu. Berusaha melepaskan diri, tapi memang susah karena aku mendapat cobaan selanjutnya. Apa itu?

 Kebodohan kedua. Stress urusan Pilkada Jabar. Bukan karena aku tak sanggup mengurus Pilgub, tapi lebih karena ketidak-jelasan posisiku dalam proyek kali ini. Tertulis sebagai wakil, tapi mengapa aku mengurus smua-muanya. ???? sampai akhirnya aku mendapat jawaban dari PO bahwa dia memberikan kesempatan padaku untuk menjadi ketua. Hhhmmm tapi aku tetap tak suka dengan caranya.

Aku salah melangkah. Protesku dengan cara yang salah. Yang tampak oleh publik adalah mukaku yang penuh beban dengan proyek ini. Padahal aku senang dengan melaksanakan proyek ini.

Aku brusaha menyelesaikannya. Sayang baru dengan kadar 80 persen. Aku brusaha sharing dengan sahabatku yang kebetulan psikolog. Dia memberikan nasihat, smua bentuk kecrewetan bapak PO adalah ungkapan kekhawatiran dia. Katanya aku tak perlu khawatir. Justru yang menarik perhatian sahabatku adalah sikap ibu SPV.

 Setelah peristiwa itu aku belajar lagi bagaimana bisa menahan emosi. Baik tindakan ataupun ekspresi mukaku. Susah…tapi aku tetap belajar. Aku mencoba mencari pelampiasan dan pelarian jika merasa emosi sudah penuh. Beruntung …kesempatan selalu datang untuk membuang kekesalan…

DLK ke Medan…yah membuatku melupakan sejenak kesesakan di Jakarta. Sampai akhirnya berkesempatan menikmati udara segar di Danau Toba, meski aku didera sakit batuk parah.

Balik ke Jakarta….kembali melakukan kesalahan. Tapi ini kesalahan yang kuperbuat sebelum berangkat ke Medan.

 Aku tidak mengikutkan ibu spv dalam pembahasan sebuah tema tulisan. Hanya karena enggan berkomunikasi dengan ibu SPV. Dan berharap banyak pada bapak editor. Harapanku padanya tak muluk-muluk, aku hanya ingin berdiskusi dan ‘haus’ masukan mengenai ilmu perkotaan.

 Tapi ya itu, aku salah langkah lagi. Bapak editor ternyata tak menguasai materi dan malah membikin rumit tulisan. Kesalahan selanjutnya, aku malas untuk ‘mendebat’. Hanya karena aku malas ribut dan berkonflik aku mengikuti sarannya. Pikiranku tertutup dan hanya mencoba memfasilitasi smua informasinya.

 Beberapa kali harus bongkar pasang – dengan sabar aku ikuti. Yah itu tadi hanya karena aku ingin bersikap sabar….

 Tapi….itu berbuah buruk. Tulisan itu di’cap’ tak ada yang baru. Aku lagi juga yang kena getahnya. Tulisan kerja keras itu tak dipakai.

 Aku terluka…Aku tak kuat menahan bendungan emosiku.

Lagi-lagi beruntung, aku berkesempatan untuk tugas luar kota. Kekesalanku tak terlalu tampak di kantor. Cuma bergejolak dan berdentum-dentum dalam hati ini.

 Aku mencoba memperbaiki sistem. Mencoba berkomunikasi, meski belum direspons. Yang penting aku sudah mencoba.

 Mencari solusi, …akibatnya harus mulai dari nol lagi.

Menulis dengan tema yang sama, dengan angle yang berbeda. Harus bongkar data lagi, harus bikin polling lagi.

 Kekesalan masih ada, apalagi aku masih berseberangan pendapat dengan bapak editor. Seakan-akan aku yang bersalah. Yah tapi memang aku salah kok. Sudahlah terima saja.

 Yang penting sekarang mengumpulkan semangat lagi untuk memulai lagi. Aku masih penasaran dg tema ini. Aku harus bisa menampilkannya . Inilah kemenanganku dalam sisi yang lain.

 Dengan sisa-sisa semangat, berusaha berpikir keras dan membangkitkan roh untuk tema tulisan transportasi.

 Wish me luck…

Masih berusaha menahan sakit dan lelehan air mata yang siap menganak sungai..

Smoga aku semakin bijaksana, pintar mengolah rasa emosi, dan dewasa.

Umur 35 tak muda lagi. Kedewasaan yang dituntut…

Smoga juga aku tak lagi membodoh-bodohi diriku lagi. Cukup berakhir di tulisan ini.

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s