Kriminalitas Meluas, Minim Upaya Antisipasi Masyarakat

 

                Jakarta dan wilayah penyangganya sudah menjadi daerah rawan kejahatan. Penyebaran kriminalitas yang terkait langsung dengan perkembangan kota tersebut menyebabkan setiap sudut wilayah Jabodetabek tak lagi menyisakan rasa aman. Namun, aksi kriminalitas yang terus mengancam belum sepenuhnya diantisipasi masyarakat secara serius. Kewenangan penangaannya masih bergantung pada aparat kepolisan.

      Wilayah kriminalitas yang meluas mengikuti perkembangan Kota Jakarta. Ketika semua aktivitas masih terpusat di Jakarta, aksi kriminalitas mengumpul di Jakarta. Namun, saat pusat-pusat pertumbuhan baru mulai bergesar ke wilayah Bodetabek, tindak kejahatan mulai meluber ke wilayah pingiran tersebut. Meski demikian, Jakarta masih tetap menjadi daerah rawan kejahatan.

Munculnya aksi kriminalitas berakar pada beberapa masalah kota besar seperti urbanisasi, kemiskinan, pengangguran serta kepadatan penduduk yang tinggi. Ketika masalah tersebut berkumpul di satu tempat yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan aktivitas manusia, akan berpotensi munculnya aksi kejahatan. Di lain waktu, saat kutub pertumbuhan mulai bergeser ke wilayah pinggiran, tak hanya perubahan spasial saja yang nampak. Masalah yang sama akan muncul kembali di wilayah pinggiran yang tidak hanya berpotensi meningkatkan kuantitas dan kualitas kejahatan. Akan tetapi juga memicu munculnya konflik antara pendatang dengan penduduk asli.

 

Terkonsentrasi di Jakarta Pusat

                Sekitar tahun 1980-an, perkembangan kota Jakarta masih terkonsentrasi di wilayah Jakarta Pusat. Rencana Induk DKI Jakarta 1965-1985 menyebutkan, kota Jakarta dikembangkan ke segala arah dalam radius 15 kilometer dari Monas. Pusat perdagangan ditempatkan membujur sepanjang Jalan Gajah Mada- Hayam Wuruk, Senen, serta sepanjang Kramat- Jatinegara. Sementara pusat pemerintahan dan perkantoran ada di sekitar lapangan Merdeka, Monas. sertaThamrin-Sudirman.

Penempatan pusat perdagangan, pemerintahan, serta perkantoran di kawasan pusat Jakarta menggerakkan aktivitas perekonomian dan menjadi magnet bagi masyarakat untuk melakukan segala aktivitas di Jakarta Pusat. Alhasil kepadatan penduduknya cukut tinggi. Tahun 1980, dengan luasan wilayah hanya 7.2 persen Jakarta menampung 227 jiwa tiap hektarnya. Bandingkan dengan Jakarta Timur (28 persen bagian Jakarta), yang tiap hektarnya bisa menampung 79 jiwa.

Kepadatan tinggi di Jakarta Pusat menyebabkan ruang gerak masyarakat terbatas. Dari hasil penelitian Susanto (2005), tahun 1983 lahan terbangun di Jakarta Pusat sudah mencapai 67 persen. Kawasan terbangun yang berupa bangunan masif vertikal ataupun horisontal akan membatasi mobilitas masyarakat. Sementara kawasan non terbangun, sebagai taman atau ruang publik hanya tersisa sekitar 33 persen saja yang bisa digunakan bebas untuk sekitar 1,2 juta jiwa masyarakat. Kepadatan tinggi ini merupakan tekanan lingkungan yang dapat menimbulkan kesesakan bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya. Tekanan lingkungan ini bisa memicu tingginya pergesekan sosial antar masyarakat yang ujung-ujungnya bisa menimbulkan konflik sosial dan aksi kriminalitas.

Hasil penelitian Tadie (2009) mengenai ”Wilayah Kekerasan Jakarta” menunjukkan sekitar 1970-1980, kriminalitas banyak terjadi di Pasar Baru, Senen, Kramat, serta Jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk. Kriminalitas yang muncul berupa kejahatan ringan seperti pencopetan, penjambretan, ataupun penodongan. Dalam penelitian tersebut, kriminalitas dominan terjadi di pusat-pusat keramaian seperti kawasan Senen yang terdapat pasar, terminal, dan stasiun.

Periode berikutnya, wilayah Jakarta mulai meluas ke arah Barat dan Timur. Rencana Tata Ruang 2005 dan 2010 menetapkan pengembangan Jakarta ke arah koridor Timur dan Barat dan mengurangi tekanan pembangunan di wilayah selatan. Pusat pertumbuhan juga mulai tersebar merata seperti Glodok (barat), Jatinegara, Manggarai, dan Pulogadung di Timur, Tanjung Priok (utara), serta Senen dan Tanah Abang (pusat).

Penetapan pusat pertumbuhan baru tersebut menggerakkan mobilitas penduduk ke wilayah timur, selatan, barat, dan timur. Sensus Penduduk 2000 mencatat, sebanyak 15 persen penduduk tinggal di wilayah timur, 20 persen di barat, 23 persen di selatan, dan mayoritas (27 persen) menempati wilayah timur Jakarta.

Persebaran magnet pertumbuhan ekonomi dan penduduk ini juga mendorong tumbuhnya angka kriminalitas. Pencatatan Polda Metro Jaya tahun 1999 menyebutkan angka kriminalitas di Jakarta Timur (2.003 kasus) lebih tinggi dari Jakarta Pusat (1.723 kasus). Hal ini menunjukkan kriminalitas telah tersebar dan tidak hanya dominan terjadi di wilayah pusat.

Sampai tahun 2011, tingkat kriminalitas di Jakarta Timur juga masih tertinggi (993 kasus) meski jumlahnya menurun. Sebut saja kasus kekerasan seksual RI (…) yang dilakukan oleh bapak kandungnya sendiri (….) dan pembunuhan mutilasi seorang istri oleh suami  BS hanya terpicu rasa cemburu.

Maraknya kriminalitas di Jakarta Timur terkait dengan kemiskinan, urbanisasi dan letak geografis. Jumlah penduduk miskin di Jakarta Timur tahun 2010 mencapai 91 ribu jiwa dan tingkat pengangguran terbukanya mencapai 13 persen. Meski bukan angka tertinggi di wilayah Jakarta, tapi kemiskinan dan pengangguran bisa menyumbang potensi munculnya kriminalitas. Dalam keadaan serba kekurangan dalam kebutuhan hidup, orang mudah terpancing untuk melakukan tindak kriminalitas. Kejahatan yang bersumber dari kemiskinan adalah perampokan, penodongan, pencurian, penipuan, dan penjambretan.

Dari sisi urbanisasi, jumlah pendatang di Jakarta Timur lebih banyak dari wilayah lainnya. Tahun 2011, data dinas Kependudukan menyebutkan 33 persen penduduk pendatang berkumpul di Jakarta Timur. Terkonsentrasinya kaum pendatang di Jakarta Timur juga memunculkan banyak gesekan-gesekan sosial seperti perbedaan budaya dan tingkat ekonomi.

Di luar faktor kemiskinan, pengangguran dan urbanisasi yang tinggi, faktor geografislah yang bisa menjawab tepat mengapa Jakarta Timur menjadi tempat idola pelaku kriminalitas. Secara geografis, wilayah timur ini terletak berbatasan dengan Depok dan Bekasi yang memudahkan pelaku untuk bisa lari ke wilayah Depok-Bekasi bahkan keluar wilayah Jabodetabek seperti ke Jawa Tengah atau Jawa Barat.

Meski kejahatan telah menyebar merata ke lima wilayah, tapi, tetap saja Jakarta Pusat masih rawan kejahatan. Kiranya hal ini masih terkait dengan ramainya aktivitas manusia dan kepadatan penduduk yang meningkat di tahun 2010 menjadi 237 jiwa per hektar di Jakarta Pusat. Sehingga tekanan ekonomi karena persaingan perebutan ’kue’ pendapatan  serta semakin terbatasnya ruang gerak masih memicu tumbuhnya kriminalitas.

 

Kriminalitas di Pinggiran

                Seiring dengan fenomena urban sprawl ke Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, kriminalitas juga telah berkembang ke wilayah penyangga tersebut. Tahun 2005, angka kriminalitas di Jakarta khususnya untuk pembunuhan, pencurian dengan kekerasan, pencurian dengan pemberatan, serta penganiayaan dengan pemberatan sempat mencapai hampir 20.000 kasus. Sementara di wilayah Depok- Tangerang – Bekasi, angkanya masih 6.540 kasus. Tahun 2011, angka kriminalitas antara wilayah pusat dan pinggiran ’bersaing’. Dari Jakarta, dilaporkan terjadi 3.505 kasus dan di Depok- Tangerang-Bekasi terjadi 3.629 kasus.

Meski di atas kertas, angka kriminalitas di Jakarta lebih tinggi dari wilayah hinterlandnya, tapi angkanya yang ’bersaing’ menunjukkan kriminalitas telah melebur ke kawasan sekitar Jakarta. Bahkan dari catatan Polda Metro Jaya Januari 2013, jumlah kasus kejahatan di Tangerang mencapai 211 kasus, lebih tinggi dari 5 wilayah Jakarta.

Sama seperti wilayah Jakarta, kejahatan yang marak terjadi berupa curat dan curanmor. Tempat-tempat umum seperti terminal, pasar, jalan, dan angkutan umum juga menjadi tempat favorit melakukan kejahatan. Tidak hanya itu 2011 lalu, minimarket yang buka 24 jam juga menjadi sasaran perampokan. Bahkan pelakunya tak segan melukai dan membunuh penjaga minimarket.

 

Antisipasi Kriminalitas

                Jakarta dan wilayah penyangganya tidak lagi menyisakan rasa aman bagi penduduknya. Hasil jajak pendapat Kompas menyebutkan kekhawatiran menjadi korban kriminalitas timbul tidak hanya ketika berada di tempat umum atau kendaraan umum saja. Akan tetapi juga muncul ketika berada di dalam rumah atau lingkungan sekitarnya meski kadarnya lebih berkurang.  Rasa tidak aman tertinggi dirasakan ketika berada di tempat umum. Sebanyak 56 persen responden merasa tidak aman di tempat umum pada siang hari yang meningkat menjadi 80 persen di malam hari.

Meski secara umum, sembilan dari sepuluh responden jajak pendapat merasa khawatir dengan tindak kriminalitas yang terjadi. Akan tetapi upaya yang paling banyak dilakukan masih berupa tindakan preventif dan belum secara aktif ikut serta menjaga keamanan lingkungan. Sekitar 80-90 responden hanya memberi peringatan pada anggota keluarga, memerhatikan informasi dari media, tidak memakai perhiasan mencolok, serta tidak melewati daerah rawan kejahatan dan tempat sepi. Bahkan masih ada 60 persen responden yang tidak melakukan upaya keamanan.

                Munculnya rasa khawatir belum menjadikan masyarakat Jakarta paranoid terhadap kriminalitas yang terus bisa mengancam. Terbukti upaya keamanan seperti menyewa petugas keamanan, memelihara anjing, memasang CCTV, membangun pagar tinggi dan teralis besi, memasang alarm, sampai pindah ke tempat yang aman hanya dilakukan oleh sekitar 20-30 responden saja.

                Kiranya hal ini terkait dengan pemikiran bahwa upaya menjaga keamanan adalah tugas aparat kepolisian dan penjaga keamanan seperti hansip dan satpam saja. Terungkap, hanya 22 persen responden saja yang terlibat langsung menjaga keamanan lingkungan, meski 86 persen menyebutkan ada upaya menjaga keamanan di lingkungan sekitar rumah. Harapan besar pada peran aparat kepolisian juga terlihat dari pendapat separuh lebih responden yang menginginkan polisi untuk meningkatkan patroli di daerah rawan kejahatan dan di malam hari, memberantas premanisme, serta menempatkan polisi di tiap lingkungan RT. Tidak hanya pada aparat polisi, sekitar 8 persen responden juga berharap besar pada pemerintah untuk bisa mengantisipasi kriminalitas dengan memperbaiki kesejahteraan masyarakat. (M. Puteri Rosalina/Litbang Kompas)

 

Kriminalitas di Wilayah Polda Metro Jaya

Wilayah

1989

1999

2005

2009

2010

2011

2013**

Jakarta Pusat

 

1723

3047

1314

1222

845

108

Jakarta Utara

 

1324

1896

884

793

602

64

Jakarta Barat

 

1018

4075

968

631

444

89

Jakarta Selatan

 

1694

5978

971

863

621

98

Jakarta Timur

 

2003

4108

853

1164

993

107

Tangerang

2527

 

1524

1938

2154

2362

211

Bekasi

2242

 

2390

1228

1133

795

108

Depok

677

 

2398

710

678

472

5

Kasus kriminalitas tahun 2005, 2009-2010, 2013 hanya kasus pembunuhan, curas, curat, dan anirat

Kasus kriminalitas tahun 1989 dan 1999 meliputi seluruh kasus kriminalitas

Tidak tersedia data di wilayah Jakarta tahun 1999 dan di wilayah Tangerang, Bekasi, Depok  tahun 1989

**: data sampai Januari

 

Sumber : Litbang Kompas/PUT, diolah dari Polda Metro Jaya dan BPS DKI Jakarta

 

Perkembangan Proporsi Luas Lahan Terbangun di Jakarta (persen)

Tahun

1973

1983

1993

2002

Jakarta Utara

14.67

36.73

55.86

68.92

Jakarta Barat

10.24

37.79

55.45

76.93

Jakarta Pusat

42.37

67.57

73.78

81.84

Jakarta Timur

7.84

25.7

42.13

65.42

Jakarta Selatan

8.21

26.64

37.02

72.03

 

Upaya Pengamanan Pribadi yang dilakukan Untuk Mengantisipasi Kriminalitas (persen)

Tidak melakukan upaya pengamanan

60

Memerhatikan informasi dari pemberitaan media

88,8

Memberikan peringatan kepada anggota keluarga

94,8

Tidak melakukan aktivitas di luar rumah pada malam hari

74,8

Tidak melintasi kawasan rawan kejahatan/sepi

80,9

Tidak memakai perhiasan mencolok

88

Tidak naik kendaraan umum yang sepi penumpang

76,8

Menyewa jasa petugas keamanan

13,5

Memelihara anjing

14,2

Memasang CCTV

14,4

Membangun pagar yang tinggi (kawat berduri) dan memasang trails

29

Memasang alarm

15,7

Pindah ke tempat yang aman

14,6

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s