Penanganan Banjir Jakarta: Upaya ‘Kembali ke Alam’ yang Terabaikan

Oleh : M. Puteri Rosalina dan Susanti Agustina S

Tidak ada yang salah dengan segala upaya penanganan banjir yang telah dilakukan pemerintah Jakarta dari jaman penjajah Belanda sampai pemerintahan Jokowi sekarang ini. Hanya saja, fakta bahwa ibukota Indonesia ini berdiri pada sebuah dataran banjir cenderung diabaikan dan semakin diperparah oleh tidak adanya kesadaran untuk menjaga kondisi lingkungan alam Jakarta. Alhasil banjir yang sudah terjadi sejak empat abad lalu akan terus terjadi sampai kapanpun.

Tidak banyak yang menyadari jika Jakarta terletak pada sebuah cekungan. Topografi Jakarta yang seperti mangkuk ini semakin meningkatkan resiko terjadinya banjir. Air sungai yang melewati Jakarta dan bermuara di Teluk Jakarta cenderung balik dan terjebak di cekungan Jakarta. Drainase di dalam kota  tidak siap menampung debit air yang tinggi dari hulu. Celakanya, pada saat yang bersamaan terjadi pasang air laut yang airnya bisa ikut menggenangi cekungan Jakarta bagian utara. Dan terjadilah bencana banjir yang hampir setiap tahun menggenangi sebagian wilayahnya.

Fakta alam tersebut tidak bisa dilawan, hanya bisa diminimalisir resikonya dengan berbagai usaha pengendalian banjir secara struktur dan non struktur yang selama ini telah dilaksanakan.

Pengendalian banjir jaman kolonial yang paling dikenal adalah pembangunan Kanal Banjir Malang oleh Herman van Breen tahun 1919. Kanal yang dibangun melintang untuk menangkap aliran Sungai Ciliwung di Matraman tersebut berguna mengalirkan arus sungai keluar – mengeliling kota – langsung dibuang ke laut

Konsep pengendalian banjir yang bertujuan untuk mengalirkan atau membuang sebanyak-banyaknya air sungai ke laut ala van Breen tersebut menjadi prinsip pengendalian banjir Jakarta sampai sekarang. Kanal Banjir Timur yang baru selesai dibangun tahun 2011, menggenapi rencana van Breen setelah 92 tahun.

Tidak hanya itu, sejumlah konsep pengendalian banjir jaman Belanda juga ditiru oleh pemerintah Jakarta. Sebut saja normalisasi sungai dan saluran, pemasangan pompa di wilayah bertopografi datar, membuat saluran pengendali banjir, serta pembuatan waduk.

Baru sekitar tahun 1980-an pemerintah menyadari bahwa tidak selamanya upaya teknis sukses menghindarkan banjir di Jakarta. Pemerintah mulai berpikir untuk menggunakan konsep non struktur yang berpangkal pada akar masalah banjir yaitu penurunan infiltrasi air ke dalam tanah serta penyempitan sungai/saluran karena sampah dan sedimentasi. Muncullah berbagai kebijakan pengendalian tata ruang di hulu dan hilir, penataan sempadan sungai, manajemen persampahan serta himbauan untuk membuat sumur resapan dan lubang biopori.

Namun, segala bentuk penanggulangan teknis dan non teknis tersebut belum bisa memperkecil wilayah terdampak banjir serta meminimalisir kerugian. Semua jenis upaya tersebut baru serius dilakukan setelah kejadian banjir besar berulang terjadi. Usaha yang muncul juga terkesan tambal sulam berorientasi proyek. Di sisi lain, penanganan non struktur baru diributkan dan serius ditegakkan setelah bencana muncul.

 Peran Masyarakat

Peran masyarakat dalam kasus banjir ini bagai pisau bermata dua. Masyarakat termasuk di dalamnya pihak swasta turut andil meningkatkan potensi terjadinya banjir. Di sisi lain masyarakat jugalah yang berperan untuk mengendalikan banjir dengan beragam kegiatan menjaga lingkungan dan ‘kembali ke alam’.

Penyebab banjir di Jakarta lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia dibandingkan alam. Sebut saja tindakan pemanfaatan bantaran sungai/danau untuk permukiman, alih fungsi kawasan lindung untuk kegiatan budidaya, membuang sampah di sungai serta eksploitasi air tanah berlebihan.

Ketidak-sadaran manusia yang mengakibatkan tingginya potensi banjir tersebut bisa jadi muncul karena masyarakat tidak menyadari tinggal di daerah rawan banjir. Penelitian Litbang Kompas di beberapa kawasan padat penduduk 2011 lalu menyebutkan sekitar 80 persen responden yang tinggal di kawasan bantaran sungai merasa lingkungannya aman dari genangan banjir. Cukup mengherankan karena bisa saja tempat tinggal mereka berjarak kurang dari 5 meter dari bibir sungai atau bahkan ada di atas sungai.

 Belum lagi masyarakat yang menempati kompleks perumahan pada bekas urugan rawa dan reklamasi. Seperti kawasan Pluit yang beberapa minggu lalu kebanjiran. Mungkin saja kelompok masyarakat tersebut tidak menyadari bahwa kawasan Pluit daerah rawan banjir karena terletak di bawah permukaan laut. Ketidak-tahuan tersebut berujung bencana karena salah memperlakukan daerah yang seharusnya menjadi tempat parkir air laut ketika gelombang pasang tersebut.

Meski demikian masih ada kelompok masyarakat lain yang peduli untuk menjaga lingkungan demi terhindar dari banjir. Munculnya ‘kelompok-kelompok peduli lingkungan’ tersebut menurut Kluckhohn dan Strodtbeck yang dikutip oleh Koentjaraningkrat (1990) karena manusia berusaha menjaga keselarasan dengan alam setelah tahap sebelumnya manusia berhasrat menguasai alam. Masyarakat mulai sadar bahwa tidak selamanya lingkungan alam Jakarta yang memang telah ‘cacat’ sejak dilahirkan terus bisa dieksploitasi meski dengan bantuan teknologi.

Komunitas –komunitas tersebut hadir untuk membangun partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungannya. Mereka bergerak secara mandiri di lokasi-lokasi yang dipilih dengan fokus berbeda-beda. Semangat mereka hanya satu mengurangi resiko bencana banjir di Jakarta.

Sebut saja Komunitas Hijau Muda Jakartaku yang menawarkan resolusi hijau terkait tata ruang sesuai peruntukannya. Sementara Komunitas Nol Sampah menanamkan prinsip ‘Reduce, Reuse, Recycle, Replace’ terhadap masyarakat dalam menangani sampah. Beberapa komunitas lainnya yang bergerak dalam pengelolaan sampah adalah Posko Hijau (Kelola Sampah Berbasis Komunitas), Gemash Jak (Gerakan Masyarakat Peduli Sampah Jakarta), Grombolan Peduli Sampah (Gropesh). Sedangkan Teen Go Green Jakarta menekankan pada upaya penghijauan kota.

Namun, komunitas-komunitas akhirnya bergerak secara terkotak-kotak. Gerakan setiap komunitas seakan berjalan sendiri-sendiri pada masyarakat tertentu. Pendidikan kepada masyarakat berlangsung tidak merata. Kebiasaan memelihara lingkungan demi terhindar dari banjir tidak berkembang menjadi kultur seluruh masyarakat DKI Jakarta. Akibatnya, sampah tetap menumpuk setiap hari di kali, sungai, waduk. Bantaran sungai tidak bisa lepas dari bangunan liar. Hanya segelintir masyarakat paham pentingnya sumur resapan dan biopori.

Jangan salahkan komunitas masyarakat yang belum berhasil mengembangkan budaya hidup ramah dengan lingkungan. Seharusnya ini juga menjadi bagian dari upaya penanganan banjir yang dilakukan pemerintah selain upaya struktur dan non struktur yang menghabiskan dana triliunan rupiah.

 Harapan Baru

Setelah banjir besar Januari lalu, upaya strukturlah yang langsung tercetus untuk menanggulangi banjir. Pemerintah pusat melalui Kementrian Pekerjaan Umum merencanakan pembangunan saluran koneksi antara Sungai Ciliwung dan Kanal Banjir Timur. Proyek yang diperkirakan menghabiskan dana Rp 545 miliar tersebut berupa terowongan sepanjang 2,1 kilometer yang berguna mengurangi beban sungai Ciliwung ketika debit air dari hulu tinggi. Di sisi lain, upaya non struktur muncul dari pemprov DKI Jakarta yang akan mengeluarkan Pergub kewajiban bagi perusahaan swasta untuk membuat sumur resapan.

Cukup menggembirakan ketika Pemprov DKI Jakarta mulai mendukung gerakan sosial masyarakat dalam aksi bersih ibukota. Sekitar 500 relawan Jakarta Bersih:Aksi Cepat dan Tanggap pada (4/2) mulai membersihkan dua wilayah bekas banjir:Lagoa dan Penjaringan. Dukungan tersebut tidak hanya berupa penyediaan alat-alat kebersihan tetapi juga keikutsertaan PNS Pemprov untuk mengembalikan budaya kerja bakti di ibukota.

Jika kesadaran hidup selaras dengan alam terus menjamur di seluruh lapisan masyarakat penghuni Jakarta dan mendapat dukungan Pemprvo, lambat laun resiko banjir akan bisa terkurangi. Tentu saja dengan tidak melupakan penanganan struktur dengan kecanggihan teknologi serta non struktur yang mengutamakan penegakan hukum.

 

     
     
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s