Berharap Jakarta yang Tertata dan Manusiawi

“Memperlakukan manusia seperti layaknya manusia” itulah konsep manusiawi versi pemimpin terpilih Jakarta periode 2012-2017. Ya, dalam visinya, pasangan Jokowi-Ahok ingin menjadikan Jakarta sebagai kota modern yang tertata rapi dan manusiawi.

Jakarta dengan deretan gedung bertingkat, infrastruktur fisik yang modern serta anggaran keuangan yang besar berpotensi menjadi kota modern. Kota yang tak kalah bersaing dengan kota modern di dunia seperti Singapura, Hongkong, dan Kuala Lumpur.

Sayang, semua potensi tersebut tidak terkelola dengan baik karena tata kotanya masih kacau serta tidak manusiawi. Lihat saja kemacetan yang panjang dan mengular di antara deretan gedung-gedung bertingkat. Di balik angkuhnya gedung bertingkat, tersembunyi deretan permukiman kumuh yang juga berjejer di sepanjang bantaran sungai dan rel KA. Di dalam angkutan umum/massal, penumpang berdesakan berebut moda. Juga dengan cerita orang miskin yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan yang layak.

Keinginan menjadikan Jakarta sebagai kota yang manusiawi tersebut diturunkan ke dalam delapan program kerja unggulan: penataan kota, mengatasi banjir, transportasi, kesehatan, pendidikan, ekonomi masyarakat, kebudayaan, serta reformasi birokrasi. Meski belum semua permasalahan di Jakarta terjawab dengan 8 program kerja tersebut tapi pekerjaan rumah yang mendesak untuk dikerjakan sudah mulai ada upaya penyelesaian. Sebut saja persoalan banjir, macet, permukiman kumuh, serta akses pendidikan dan kesehatan gratis.

Selain bercermin pada visi yang telah diciptakan, keberhasilan menerapkan sejumlah program kerja di wilayah pemerintahan sebelumnya menjadi pertimbangan khusus bagi Jokowi yang sebelumnya menjadi walikota Solo serta Ahok yang pernah memimpin Belitung Timur.

Sebut saja yang cukup terkenal yaitu relokasi pedagang barang bekas di Kota Solo. Proses relokasinya tidak lagi menggunakan kekerasan dengan penggusuran tapi diawali dengan dialog intensif dengan para pedagang dan diakhiri dengan proses pemindahan menggunakan kirab boyong. Urusan pedagang kaki lima yang selama ini menjadi momok bagi sebuah kota, bisa diselesaikan dengan baik, meski harus dengan proses 54 kali pertemuan.

Banjir juga menjadi masalah bagi kota Solo yang dilewati oleh sungai besar Bengawan Solo. Upaya yang telah dilakukan untuk penanganan banjir adalah perbaikan tanggul, pemasangan pompa, serta relokasi permukiman di bantaran sungai. Dari 1.500 KK yang dulu tinggal di bantaran, saat ini hanya tinggal 600 KK yang masih dalam proses relokasi dengan sukarela. Lahan bekas permukiman tersebut digunakan sebagai hutan kota sekaligus untuk kawasan.

Kesehatan dan pendidikan gratis juga merupakan program kerja yang pernah diterapkan di Solo dan Belitung Timur. Tak saja pernah diterapkan tapi juga berhasil dilaksanakan. Jokowi berhasil merintis Program Kartu Sehat dan Kartu Pendidikan (PMKS). Sedangkan Ahok yang pernah menjadi Bupati Belitung Timur selama 1,5 tahun tersebut membuahkan Asuransi kesehatan dan pendidikan gratis.

Program Kerja Lanjutan

Program Kerja Gubernur DKI Jakarta terpilih ini tak melupakan rencana kerja yang telah ditetapkan oleh Pemprov DKI Jakarta. Sejumlah kebijakan masih meneruskan program-program yang sedang dan akan dilaksanakan. Seperti upaya penanganan banjir: normalisasi sungai, pembangunan polder, revitalisasi situ, serta pengembangan kapasitas drainase dan sungai. Meski dalam usaha lainnya Jokowi-Ahok mempunyai gebrakan baru dengan membeli daerah tangkapan air di hulu DAS serta menerbitkan regulasi untuk mengatur tutup lahan jalan dan ruang terbuka yang mewajibkan penyediaan pori.

Untuk program penataan ruang, program kerja yang diterapkan masih sejalan dengan RTRW Jakarta yang berstrategi untuk mengatasi kebutuhan lahan. Mendorong pembangunan bangunan hunian vertikal serta pembangunan superblok menjadi salah satu pilihan program kerja penataan ruang. Meski pembangunan kawasan superblok versi Jokowi-Ahok diterapkan untuk warga menengah ke bawah.

Masalah yang Belum Tersentuh

Delapan program kerja telah ditetapkan, tapi masih ada tiga masalah Jakarta yang belum terjawab dengan tuntas yaitu kriminalitas, air bersih, dan sampah. Pekerjaan rumah tersebut memang belum terlalu urgent untuk diselesaikan dengan cepat. Akan tetapi bisa memunculkan masalah besar bagi sebuah kota.

Ketersediaan air bersih di Jakarta tidak cukup berkesinambungan untuk kebutuhan masyarakat kota. Ketergantungan suplai air dari luar Jakarta yaitu Waduk Jatiluhur cukup tinggi. Air bersih yang disalurkan ke konsumen dengan jaringan pipa PDAM baru bisa melayani 44 persen rumah tangga saja. Sisanya menggunakan air tanah yang cadangannya kian menipis karena eksploitasi berlebihan. Saat ini, air bersih memang belum menjadi hal yang mendesak untuk diselesaikan, akan tetapi di masa depan, kekurangan air bersih bisa menjadi masalah krusial bagi sebuah kota. Sebut saja kasus kecil ketika tanggul saluran terbuka Kalimalang yang menyalurkan air bersih dari Waduk Jatiluhur bocor. Sebanyak 60 persen pelanggan Palyja tidak mendapatkan aliran air bersih.

Juga dengan sampah. Volume sampah yang dibuang ke TPA (6.500 ton per hari) masih cukup tinggi. Program 3R yang dicanangkan pemerintah untuk mengurangi volume sampah terbuang ke TPA belum sepenuhnya berjalan. Padahal, Jakarta masih bergantung pada TPA Bantargebang di wilayah Bekasi.

Persoalan lain yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan adalah keamanan. Secara kuantitas, kriminalitas di Jakarta tahun ini menurun 44 persen dari tahun sebelumnya. Akan tetapi dari sisi kualitas, modus dan pelakunya semakin brutal. Sebut saja perampokan minimarket, bank, ATM, dan toko emas. Pelaku mulai berani menggunakan senjata tajam dan api. Pelaku juha tak segan melukai korban serta dilakukan di siang hari.

Perjuangan Jokowi-Ahok untuk berebut simpati masyarakat Jakarta memang telah berakhir dengan indah. Namun, tantangan perjuangan lain muncul. Visi untuk menjadikan Jakarta Baru sebagai kota modern, tertata dan manusiawi, menunggu untuk diwujudkan.

VISI

Jakarta Baru, kota modern yang tertata rapi dan manusiawi, dengan kepemimpinan dan pemerintah yang bersih dan melayani.

Misi

  1. Mewujudkan Jakarta sebagai kota modern yang tertata rapi serta konsisten dengan Rencana Tata Ruang Wilayah.
  2. Menjadikan Jakarta sebagai kota yang bebas dari masalah-masalah menahun seperti macet, banjir, pemukiman kumuh, sampah dan lain-lain.
  3. Menjamin ketersediaan hunian dan ruang publik yang layak serta terjangkau bagi warga kota dan ketersediaan pelayanan kesehatan yang gratis sampai rawat inap dan pendidikan yang berkualitas secara gratis selama 12 tahun untuk warga Jakarta.
  4. Membangun budaya masyarakat perkotaan yang toleran, tetapi juga sekaligus memiliki kesadaran dalam memelihara kota.
  5. Membangun pemerintahan yang bersih dan transparan serta berorientasi pada pelayanan publik.

Program Kerja Unggulan

  1. Penataan Kota
  2. Mengatasi Banjir
  3. Bidang transportasi
  4. Bidang Kesehatan
  5. Bidang pendidikan
  6. Bidang ekonomi masyarakat
  7. Bidang kebudayaan
  8. Bidang reformasi birokrasi
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Berharap Jakarta yang Tertata dan Manusiawi

  1. suryasenja says:

    Berharap Jakarta jadi lebih ramah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s