Setengah Jam di KA Ekonomi

Tak sengaja naik KA Ekonomi pukul 9.45 hanya karena sebelumnya terlalu sibuk berburu galon air.

Pagi itu, kereta tak terlalu penuh. Begitu masuk, pandanganku langsung tertuju pada bangku kosong oranye di samping seorang anak umur 2 tahun yang ditemani oleh ibunya.
Masih dengan kesibukan mendengarkan musik dari ‘cube’ dan membaca buku, membuatku tenggelam dalam duniaku sendiri. Apalagi novel “Perahu Kertas” berhasil membuat imajinasiku melayang-layang dan sempat tak sadar dengan kondisi sekitarku

Sampai ibu di sampingku berteriak khawatir karena ada dua bocah umur 1 dan 2 tahun berlari-lari dalam gerbong sambil memegang botol dot. Wajar, ibu itu berteriak. Goncangan keras dalam kereta ekonomi yang tidak tertutup cukup untuk melempar orang keluar dari gerbong. Orang dewasa pun jika tidak berpegangan dan menguasai keseimbangan, bisa ikut terlempar juga keluar. Alhasil, 2 bocah itu berhasil disuruh duduk tepat di sampingku. Dan kembali aku tenggelam dalam imajinasiku.

Hhhmmm baru 3 menit duduk, dua bocah itu kembali turun dari bangku dan kembali berjalan-jalan. Aku sempat bertanya pada ibu yang duduk di sampingku, ini anak siapa?
Ternyata dua bocah itu, ibunya adalah ‘gelandangan’ yang menyapu gerbong sambil menyapu-nyapu gerbong kereta.

Kereta berhenti di Stasiun Sudimara, aku memilih berdiri dan memberikan bangkuku pada seorang ibu berjilbab. Sambil tetap bergelantungan, aku kembali membaca dan mendengarkan musik.

Cukup kaget ketika ada yg mencolek-colek kaki bawahku. Untung aku tidak bereaksi berlebihan dengan melompat. Ternyata ibu dua bocah itu muncul di sampingku sambil terus menyapu dan mengemis. Kurogoh saku dan kukeluarkan selembar ribuan.  Dan 2 bocah ber’dot’ itu masih sibuk mengikuti ibunya.
Sempat berpikir merasa iba, tapi aku cuma berdoa supaya menemukan jalan yang terbaik untuk dua orang itu.

Kembali tenggelam dalam imajinasiku.
Tapi aku tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan musik. Alunan suara lagu dangdut menyayat hati terdengar. Rekaman lagunya yang tidak bagus, cukup mengganggu telinga ini. Tak lama terlihat sepasang suami istri saling berpegangan. Suaminya yang buta memegang mike dan berperan sebagai penyanyi. Di belakangnya, istrinya yang juga buta membawa semacam tape dan sound system kecil. Selain sebagai penyanyi, sang suami juga berperan sebagai penarik uang. Tak tega, kembali aku masukkan recehan Rp 2000.

Masih setengah perjalanan, konsentrasiku untuk membaca dan mendengarkan musik sudah buyar.
Tak lama lewat penjaja minuman, penjaja tisue, penjaja jepit, penjaja aksesoris HP, lagi-lagi sepasang pengamen buta, dan tukang sapu gerbong.

Ah aku memang tidak bisa ‘cuek’ atau hidup dalam duniaku sendiri di gerbong KA Ekonomi. Harga tiketnya memang murah, tapi suasananya bernilai mahal. Bisa membuatku tetap merasa bersyukur atas segala berkat yang diberikan Tuhan, bisa menarikku kembali ‘membumi’ jika aku sedang merasa ‘melayang-layang’ di udara.

Dan siang ini, 31 Agustus 2012, aku kembali menaiki KA Ekonomi. ….
Meski tak ada pengalaman unik, tapi someday, banyak pengalaman2 yang menyentuh batinku.

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s