SEBUAH PIANO

Ketika rasa itu masih ada, mengalir deras cerita-cerita gombal dan melow…Ah itu 3 th yll, ketika rasa cinta masih membara.

 

Sebuah Piano. Ya…piano. Alat musik yang harus dipencet tuts-tutsnya itu membuat Ocha jatuh cinta. Ocha sudah mengenal salah satu alat musik klasik tersebut sedari kecil. Jadi Ocha memang sudah jatuh cinta dengan piano sudah lama.

 

Perkenalan Ocha dengan piano karena campur tangan orang tuanya. Meski orang tuanya bukan berasal dari kalangan seni, Ocha tetap diperkenalkan dengan alat musik. Piano lah yang menjadi pilihan orang tua Ocha. Alasannya cukup simpel. ”Jika kamu bisa bermain piano, itu bisa menjadi salah satu alat untuk mencari uang.  Kalau kamu kesulitan mencari kerja, menjadi guru piano solusinya.”

 

Saat itu Ocha belum terlalu mengerti arti perkataan orang tuanya. Ocha hanya mengikuti saran ortunya. Tapi alat musik yang harus dipelajari Ocha berubah menjadi sebuah organ. Piano dan organ memang mirip, sama-sama alat musik yang mempunyai tuts dan harus diketuk untuk membunyikannya. Seingat Ocha, penggantian itu berkaitan dengan harga sebuah piano yang sangat mahal dan tidak terjangkau oleh orang tua Ocha.

 

Singkat cerita Ocha menjalani kursus orgen di sebuah sekolah musik besar di kotanya. Dari TK, Ocha mulai mengenal organ. Mengenal organ juga harus mengenal not balok. Meski saat itu, sulit bagi Ocha kecil, tapi karena Ocha menyukai dan menikmatinya, semuanya terasa mudah.

 

Tak terasa, tahun demi tahun Ocha terus menjalanankan kursus organ. Selama itu pula, orang tua Ocha mulai  mempromosikan permainan organnya ke khalayak ramai. Maksudnya memang baik, supaya Ocha yang pemalu menjadi berani untuk menunjukkan kemampuannya. Sayang semua usaha itu kurang berhasil. Ocha merasa kurang sreg jika harus bermain organ di hadapan orang lain. Malu, merasa dipaksa dan tidak bebas, itu alasan Ocha saat itu. Bahkan keinganan orang tuanya untuk menjadikan Ocha seorang organis di gereja pun gagal. Hahaha…alasannya sama, Ocha malu dan cenderung kurang kuat untuk belajar permainan lagu-lagu Gereja.

 

Sampai SMA kelas II, Ocha memutuskan berhenti kursus organ. Alasannya mau berkonsentrasi untuk ujian SMA. Saat itu, Ocha sudah mencapai tingkatan yang cukup tinggi. Satu step lagi, Ocha bisa menjadi guru organ. Sayang…ya memang sayang. Tapi Ocha merasa kurang bisa berkembang dan tidak bisa seratus persen mewujudkan keinginan orang tuanya. ”Daripada buang-buang duit, dan kurang menghasilkan, lebih baik, aku berhenti”, pendapat Ocha saat itu.

 

Meski hampir 8 tahun berkecimpung dengan alat musik organ, kecintaannya pada sebuah piano belumlah luntur. Bagaimanapun piano adalah cinta pertamanya.

 

Selepas SMA dan memasuki dunia perkuliahan, alat musik organ benar-benar ditinggalkan Ocha. Tapi terkadang kerinduannya muncul. Lagi-lagi karena kesibukan kuliah, kerinduan itu luntur. Meski begitu, Ocha masih ingat semua cara membaca not balok dari sebuah teks lagu.

Akhirnya Ocha-organ-piano, benar-benar terkubur seiring dengan kesibukan dan waktu yang berjalan. Bahkan tidak banyak yang tahu, Ocha bisa bermain organ kecuali saudara dan teman-teman masa kecilnya.

 

Namun dua tahun yang lalu, kecintaan Ocha pada piano muncul lagi. Semua obsesi Ocha untuk bisa bermain piano, organ dengan lancar seperti bangkit dari kubur. Sayang bukan obsesi untuk belajar alat musik ketuk tersebut. Kali ini Ocha jatuh cinta pada seorang pemain piano dan organis gereja.

 

Yah, obsesi itulah yang membuat Ocha jatuh cinta. Seperti cerita dongeng romantis, tapi begitulah adanya. Ketika melihat permainan piano pria itu, Ocha seperti diingatkan akan masa lalunya. Ocha sempat terbius melihat permainan piano sang pria. Permainan piano yang sederhana dalam sebuah perayaan ulang tahun yang sederhana pula.

 

Bahkan ketika pria itu menjadi organis Gereja, Ocha kembali terbius. Smua ingatannya melayang menuju masa kecilnya. Nah, Ocha sedang memilah-milah. Jatuh cinta pada piano atau permainan pianonya atau pada pria pemain piano. Mengapa setelah 13 tahun, obsesi tersebut muncul lagi?

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s