Sang Pemain Piano

Setelah melepas helm cakil, Bulan tampak terengah-engah memasuki jenjang tangga rumah tua itu. Sudah hampir satu jam, Bulan tertinggal perayaan kecil ulang tahun Bintang. Sambil menaiki tangga, Bulan melepas jaket tebal yang membalut tubuhnya. Entah kenapa, Bulan merasa deg-degan memasuki rumah itu. Hal yang sama dirasakan ketika Bulan memasuki ruang ujian.

Tanpa diduga, kedatangannya diujung tangga disambut oleh Bintang sang pemilik rumah. Bintang tampak senang sekali dengan kedatangan Bulan. Bulan segera menyodorkan tangan mengucapkan selamat ulang tahun untuk Bintang. “Hi Tang, met ultah ya.” Belum selesai perkataan ucapan tersebut, tangan Bulan telah ditarik oleh Bintang.

Surprise bagi Bulan, Bintang tiba-tiba mengecup pipi kanan dan kiri Bulan dengan semangat. “Makasih ya, Lan.” Tiba-tiba, klotak…kacamata Bulan lepas karena beradu dengan kacamata Bintang. Untung saja kacamata Bulan tidak pecah karena terbuat dari plastik.

Keterkejutan Bulan belum usai. Tiba-tiba saja Bintang menarik tangan Bulan untuk duduk di kursi tamu. Muka Bulan memerah karena malu. Di ruang tamu itu sudah tampak ramai adik-adik kelas Bulan dan Bintang. Mereka memandang Bulan dan Bintang dengan pandangan aneh.

Setelah Bulan duduk, Bintang segera memotong kue ultah yang sudah setengan terpotong. “Ini untuk kamu ya. Mau minum apa? Sprite atau Coca Cola”. Karena masih terkejut, Bulan hanya menjawab Sprico. Sontak seluruh penghuni ruang tamu tersebut tertawa keras. “Ha..ha…mbak Bulan grogi ya.” Bulan tak kuasa lagi menyembunyikan rasa malunya. Tetapi sebagai seorang senior, Bulan tetap berusaha menjaga wibawa. “Hehehe..salah omong. Maksudku mau dua-duanya”.

Bintang hanya cengar-cengir melihat tingkah laku Bulan. Segera Bintang menyodorkan dua botol plastik minuman soda dan cangkir. ”Nih, katanya mau Sprico, campur sendiri ya.” Bulan hanya tersenyum dan segera menuang dua jenis minuman tersebut karena dia merasa sangat haus setelah setengah jam kesasar.

Belum selesai menegak minuman dan cheesecake belum sempat dimakan, Bintang sudah mulai menarik tangan Bulan ke arah piano. ”Ayo Bin, kamu mau request lagu apa? Semua sudah request lagu kecuali dirimu.” Bintang memang seorang pemain piano tetapi hanya sebagai hobi. Meski begitu, permainan pianonya cukup indah dan sering mengiringi koor Gereja. Bulan hampir tersedak mendengar pertanyaan Bintang. Dia tahu, Bintang sangat berbahagia malam ini sehingga tingkahnya aneh dan berlebihan.

Bulan mulai berkata,”Bintang sayang, sabar ya. Aku habiskan dulu rotinya nanti aku akan mendengar permainan pianomu.” Bintang lagi-lagi nyengir mendengar pernyataan Bulan. Tiba-tiba Bintang berkata aneh,”Sini aku suapin biar cepat dan kita bisa bernyanyi bersama.”

Sontak anak-anak mulai berteriak ”Uhuy…suit-suit” Tetapi bukan Bulan jika tidak bisa menguasai keadaan. Dia menerangkan pada para junior jika mas Bintang ini sedang bergembira karena perayaan ultah. Makanya tingkahnya agak gila. Maklum..maklum…sudah tua.

Setelah Bulan menghabiskan cake dan Spriconya, dia menuruti permintaan Bintang. Sebenarnya saat itu, Bulan juga tidak punya ide ingin mendengarkan lagu apa. Akan tetapi tiba-tiba dia teringat dengan lagu favoritnya saat les organ dulu. ”Tang, aku ingin lagu My Way. Bisa gak? Tapi aku gak bisa nyanyi lho.” Bintang segera menyanggupi dan perlahan dia mulai memainkan lagu yang dipopulerkan Frank Sinatra tersebut.

Meski tidak mahir bernyanyi, Bulan larut dalam lagu tersebut. Khayalannya melayang-layang gak karuan. Perasaannya campur aduk. Senang, sedih, terharu. Senang melihat temannya, Bintang tampak ceria setelah peristiwa pahit yang menimpanya. Ya, tiba-tiba di akhir perkuliahan, Bintang memutuskan untuk keluar dari bangku kuliah. Padahal tinggal selangkah lagi, gelar sarjana disandangnya. Keinginan bermusiknya lebih kuat dibandingkan untuk menyelesaikan kuliahnya. Keputusan mendadak tersebut membuat kaget dan marah beberapa Dosen dan teman. Berhari-hari Bintang mengurung diri di kamarnya. Bahkan lupa dengan ulang tahunnya. Beruntung, masih ada beberapa orang termasuk Bulan yang mendukung keputusan Bintang.

Dalam nyanyian itu, Bulan merasa sedih dan terharu karena merasa sangat kehilangan Bintang temannya. Meski Bintang masih di tetap tinggal di kota ini tetapi tetap saja Bulan tidak bisa setiap saat bertemu Bintang. ”Tapi bagaimanapun ini untuk kebahagiaan dan kesuksesan Bintang juga,” kata Bulan dalam hati.

Akhirnya Bulan dan Bintang tidak bernyanyi sendiri. Adik-adik kelas mulai bergabung bernyanyi bersama. Terciptalah paduan suara kecil yang mengelilingi Bintang yang sedang bermain piano.

Dua jam berlalu. Tidak terasa hari sudah larut malam. Malah sudah berganti hari karena sudah pukul 01.00 dini hari. Perayaan kecil ini sudah harus usai. Esok, masing-masing harus kuliah lagi.

Bulan kembali mengendarai motor bututnya diikuti rombongan adik-adik kelas. Dalam kesunyian Bulan melamun tidak percaya peristiwa yang sedang terjadi. Semuanya berjalan begitu cepat. Ciuman dan perkataan Bintang mendadak menimbulkan perasaan aneh padanya. ”Duh masa gara-gara tadi aku bisa jatuh cinta dengan Bintang?” batin Bulan. Hhhmmm sambil terus melamun Bulan menemukan jawabnya. Ini pasti karena aku kepincut dengan permainan piano Bintang. Sejak kecil Bulan memang terobsesi dengan pemain piano. Entah kenapa Bulan melihat Bintang dalam sosok lain, mendadak obsesi masa kecilnya muncul. Ah, Bintang Sang Pemain Piano telah membuka kebekuan hatinya kembali.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s