TRADISI LEBARAN KELUARGA BESAR WASITO

Postingan lama…

“Lebaran sebentar lagi ….. “ Itu adalah sepenggal cuplikan lagu yang biasanya dinyanyikan anak-anak di televisi menjelang lebaran. Nada lagu terdengar riang menandakan bahwa lebaran adalah saat-saat yang menyenangkan. Baju baru, bagi-bagi uang, makanan enak, kumpul dengan seluruh keluarga merupakan saat yang dinantikan setiap tahun. Tidak hanya anak-anak kecil saja yang senang dan bahagia, orang dewasa pun merasakan hal yang sama.

Begitu juga dengan keluarga besar Wasito, lebaran merupakan saat-saat yang indah. Meski mayoritas di antara kami memeluk agama Nasrani, tapi lebaran tetap bermakna. Hari raya yang identik dengan ketupat ini tetap kami peringati karena Mbah Kung dan Mbah Ti, serta keluarga Tante Kiwil memeluk agama Islam.

Sama seperti keluarga-keluarga lain di jawa, lebaran juga merupakan ajang reuni keluarga. Keluarga oom dan tante yang tinggal di luar Semarang pasti akan menyempatkan diri pulang ke Semarang, ke rumah Mbah Kung dan Mbah Ti yang sangat luas di Lemah Gempal. Saat itu, rumah yang tadinya sepi berubah menjadi sangat rame. Jerit anak-anak kecil terdengar sampai keluar rumah. Garasi yang tadinya kosong penuh terisi mobil-mobil.

Rumah Lemah Gempal Ramai

Keluarga yang pertama datang ke Lemah Gempal adalah keluarga oom Paulus dari Sragen dengan dua anak perempuannya yang bandel-bandel. Aku paling senang kalau Nana dan Santi datang karena aku mendapat teman main. Aku pasti merengek-rengek ke bapak dan ibu untuk segera mengantarkanku kesana.

Kalau kita bertiga kumpul, pasti rumah mbah berantakan. Jemuran yang ada di halaman belakang disulap menjadi kemah mini. Jarik-jarik milik Mbah Ti dikeluarkan paksa dari lemari sebagai penutup jemuran. Tikar digelar, bantal pun ikut dikeluarkan. Jadilah kita bertiga berkemah memakai jemuran di halaman belakang. Kalau sudah begitu, terpaksa pakaian dijemur di lain tempat. Hehehe…kita bertiga kalau sudah berkumpul bandel banget.

Sebenarnya cucu mbah tidak hanya kita bertiga, masih ada Lia, Arum, dan Mita. Tetapi mereka masih balita. Jadi seingatku mereka bertiga para balita sibuk bermain sendiri dan berebut mainan di dalam rumah.

Sayang, aku tidak bisa menginap di rumah mbah kalau malam. Eh, tepatnya tidak mau karena belum bisa tidur sendiri. Maklum waktu itu aku masih kelas 2 SD. Tapi ada saat aku tetap ingin berkumpul dengan Nana dan Santi. Sehingga aku merengek-rengek ke bapak dan ibu supaya diperbolehkan ikut menginap di rumah mbah tanpa bapak dan ibu. Akhirnya mereka memperbolehkan. Itulah saat pertama kali aku menginap sendiri tanpa bapak dan ibu. Tapi…rupanya aku masih belum bisa. Alhasil, jam 12.00 malam aku nangis dan diantarkan pulang oleh oom Paulus pulang ke rumah.

Selain keluarga oom Paulus, ada pula keluarga oom Hari yang datang dari Banjarnegara dengan dua anak perempuannya yang masih balita, yaitu Lia dan Arum. Tidak ada yang kuingat dengan masa kecil mereka berdua. Tapi satu hal yang paling kuingat adalah bentuk badan mereka yang berbeda. Lia sebagai kakak lebih kurus dan kalem, fisiknya seperti Tante Kiwil. Sedangkan Arum sang adik berbadan lebih gendut, matanya bulat, mirip orang India.

Eits…. Penghuni saat lebaran di rumah mbah belum habis. Masih ada Tante Dien yang biasa kupanggil Bu Dien dan Oom Bagus yang datang dari Bogor. Mereka belum menikah dan berdomisili di Bogor untuk melanjutkan sekolah di IPB. Kedatangan mereka selalu dinantikan para keponakan karena selalu membawa banyak oleh-oleh dari Bogor.

Malam Takbiran

Malam takbiran, puncak acara reuni keluarga Wasito. Malam sebelum hari raya Idul Fitri ini diadakan makan malam bersama seluruh angota keluarga. Menunya ? Tentu saja khas lebaran, seperti ketupat, lontong, opor, dan sambel goreng. Tidak ketinggalan pula nasi putih dan sop jagung, serta dessert puding fla coklat. Munculnya menu sop dan nasi putih ini karena saat itu banyak diantara kami para cucu mbah Wasito tidak suka dengan menu khas lebaran.

Ada cerita tersendiri mengenai persiapan menu makan malam ini. Saat almarhum Mbah Kung masih hidup, beliaulah yang memasak ketupat dan menyembelih ayam sendiri. Dengan cekatan, kakekku ini merubah selembar janur kuning kelapa menjadi sebuah ketupat. Kita para cucu pun dilibatkan dalam pembuatan ketupat. Sayang tidak ada yang menguasainya. Yah karena sangat susah dan ruwet. Tetapi kita dapat tugas untuk memasukkan beras yang telah dicuci ke dalam ketupat.

Dandang besar yang dimasak di atas tungku tumpukan batu bata telah disiapkan di bekas kandang ayam di belakang rumah. Sengaja meletakkan tungku di situ supaya asapnya tidak masuk ke dalam rumah dan kita anak-anak bisa ikut melihat proses pembu
atan ketupat. Tidak jauh dari dandang besar, Mbah Kung dengan cekatan menyembelih ayam. Aku yang ingin tahu segera mendekat. Tetapi apa yang terjadi ? aku malah jijik melihat darah ayam yang tercecer-cecer.

Setelah Mbah Kung meninggal, menu ketupat hilang, diganti dengan lontong. Itupun, karena sukar membuatnya dipesan dari penjual lontong di Sampangan. Lontong mbak Jum inilah yang menemani makan malam takbiran di Lemah Gempal. Sedangkan opor ayam dan sambel goreng yang biasanya dimasak Mbah Ti, dibuat oleh Bu Dien dan ibuku karena belakangan kesehatan Mbah Ti terganggu. Plus menu tambahan sup krim jagung dan puding coklat yang dibuat oleh ibuku.

Semua makanan dihidangkan di atas meja makan kayu yang umurnya sudah bertahun-tahun, di ruang tengah. Taplak meja diganti. Di tengah meja dipercantik dengan rangkaian bunga segar. Opor dimasukkan ke dalam mangkok besar. Ayam besar sudah dipotong kecil-kecil sehingga tidak sulit memakannya. Lontong yang terbungkus daun pisang sudah dikupas dan dipotong kecil-kecil pula. Biasanya yang bertugas memotong adalah Nana. Dia paling cepat dalam hal potong-memotong lontong.

Setelah semua makanan siap di atas meja, semua anggota keluarga berkumpul mengelilingi meja makan. Acara makan akan segera dimulai. Tak lupa doa pembukaan dipanjatkan sebelum memulai acara makan. Dalam waktu singkat, hidangan yang disediakan telah tersantap habis.

Tibalah pada puncak acara. Pemberian ucapan selamat Idul Fitri sekaligus sungkem pada mbah Kung dan Mbah Ti serta pada keluarga Tante Kiwil. Meski acara ini santai tapi membawa kesan mendalam bagi kami semua. Suara tawa terdengar dimana-mana.

Dilanjutkan dengan acara bincang-bincang keluarga untuk melepas kangen. Sedangkan kami para cucu memilih untuk menyalakan kembang api dipimpin oleh Oom Bagus. Sebatang lilin dinyalakan di halaman depan sebagai sumber api kembang api. Setumpuk kembang api kecil dan panjang telah dibeli Mbah Kung tadi siang di Pasar Bulu. Disiapkan pula beberapa potongan batang pisang kecil untuk pegangan kembang api bagi kami yang tidak berani terkena percik-percik kecil api.

Nana, Santi, aku, Lia, Arum, dan Mita mulai bergantian menyalakan kembang api. Sekali-kali kembang api dipegang dengan cara diputar-putar membentuk lingkaran cahaya. Sangat indah sekali. Ada pula kembang api yang dicantolkan di ranting pohon melati. Dari jauh, tampak pohon melati seperti bersinar. Jeritan anak-anak pun sangat ramai. Membuat orang-orang yang lewat di depan rumah Mbah pasti menengok melihat aktivitas kami.

Jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Para ortu kamu memanggil kamu satu-persatu untuk menghentikan acara bermain kembang api. Dan beberapa diantara kami sudah mengantuk. Tak beberapa lama kemudian aku dan bapak ibu kembali ke Sampangan. Pulang ke rumah kami dengan kegembiraan dan kesan yang mendalam. Siap melanjutkan kegiatan lebaran besok pagi.

Foto Keluarga

Acara foto keluarga tidak pernah ketinggalan pada lebaran keluarga Wasito. Dari tahun ke tahun, lokasi foto tidak pernah berubah. Ruang tamu depan dengan latar belakang lukisan harimau hasil karya Oom Bagus selalu menjadi latar belakang foto keluarga lebaran. Kursi-kursi coklat tua dari kayu jati juga selalu ikut sebagai saksi bisu foto keluarga Wasito.

Hanya satu perubahan yang tampak dalam foto keluarga setiap tahun. Anggota keluarga yang ikut berfoto jumlahnya tidak tetap. Terkadang komplet, terkadang hanya beberap anggota kelurga saja yang bisa ikut. Tetapi bagaimanapun acara foto keluarga juga tetap dilakukan dan menjadi acara rutin.

Saat aku kecil, anggota keluarga yang ikut berfoto selalu komplet. Keluarga ibuku dengan 3 orang anggota keluarganya. Keluarga Bulik Mul juga dengan 3 orang anggota keluarganya. Diikuti keluarga tante Kiwil dengan jumlah yang sama. Anak-anak mbah yang berjumlah lima orang juga melakukan foto bersama.

Namun lambat laun, karena berbagai macam peristiwa yang terjadi. Anggota keluarga yang berfoto berkurang jumlahnya. Pasalnya Bulik Mul dan Mbah Kung telah meninggal. Namun, yang menggembirakan ada tambahan anggota keluarga baru. Keluarga Oom Bagus dengan Tante Jelly serta kedua anak laki-laki dan perempuannya menjadi anggota keluarga baru di keluarga besar Wasito. Juga ada keluarga baru lagi, yaitu keluarga Bu Dien dengan anak lelakinya Bagus yang menikah dengan Oom Paulus. Keluarga besar Wasito semakin komplet dengan kehadiran keluarga-keluarga baru ini. Jumlah cucu mbah Wasito pun semakin bertambah. Yang dulunya selalu didominasi oleh cucu-cucu perempuan, tahun 1990-an mulai bermunculan cucu laki-laki.

Dan acara foto keluarga ini tidak pernah lepas dari keceriaan. Meski terkadang adik-adik sepupu yang masih kecil terlihat menangis karena tidak mau difoto. Sehingga kami yang besar-besar selalu sibuk membujuk para adik-adik kami agar diam dan mau difoto.

Hari Raya Lebaran

Pada saat hari raya lebaran, tidak ada acara istimewa di keluarga besar Wasito. Masing-masing keluarga mempunyai acara sendiri-sendiri. Biasanya keluargaku pergi ke Kudus untuk merayakan lebaran bersama keluarga besar bapak. Keluarga Oom Paulus pergi ke Klaten. Begitu pula dengan keluarga tante Kiwil yang memilih merayakan lebaran di Temanggung. Sementara mbah Kung dan Mbah Ti memilih merayakan lebaran di Semarang. Sembari menunggu kunjungan dari kerabat-kerabat lain.

Setelah tiga tahun bekerja di Jakarta, baru tahun ini, aku merayakan lebaran di Semarang. Sudah terbayang dalam pikiranku, akan indahnya hari lebaran. Ketupat, lontong, opor, sambel goreng, serta kue-kue lebaran selalu menghiasi pikiranku menjelang lebaran. Rindu rasanya berkumpul dengan anggota keluarga yang lain.

Rindu berkumpul dengan bapak ibu, dan Mita. Juga dengan Nana, Santi, Bagus Unyil, Lia, Arum, Bagus Gong, Ariel dan Melati. Ingin rasanya berkumpul lagi dengan mereka melakukan hal-hal yang indah saat lebaran masa kecil.

Sayang… sepertinya tidak bisa terwujud. Mita dan Bagus Unyil ada di Singapura, melanjutkan sekolah. Santi ada di Yogyakarta dan memilih tidak merayakan lebaran di Semarang. Nana yang sedang hamil tua tentu saja belum bisa pulang ke Semarang. Ariel dan Imel serta keluarga Oom Bagus tinggal beribu-ribu kilometer dari Semarang.

Sekali lagi, ada kerinduan untuk membuat foto keluarga komplet di ruang tamu depan. Kapan keinginanku ini dapat terwujud ? Tahun depan ? Dua tahun lagi ? Atau tidak akan pernah terwujud sampai satu-persatu anggota keluarga hilang.


This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s