Nostalgia Banjir Semarang

Nostalgia banjir kali ini sebetulnya tidak sengaja terjadi. Aku hanya ingin menanyakan informasi keberangkatan kereta api jurusan Surabaya di Stasiun Tawang Semarang. Namun no telpon informasi stasiun Tawang sulit dihubungi. Penasaran, aku dan bapak jam 20.00 berangkat ke Stasiun Tawang.

Sebelumnya, aku sudah dapat informasi dari seorang teman bahwa jalan menuju Tawang tergenang selutut mulai dari perempatan jalan Dibya Puri. Genangan tersebut semakin dalam di depan Stasiun Tawang. Informasi tersebut benar karena setelah sampai perempatan Hotel Dibya Puri, belokan ke kiri ditutup karena air yang tergenang cukup tinggi. Akhirnya perjalanan dilanjutkan lewat arah kantor pos besar. Meski tergenang, tapi genangannya hanya sekitar 10 cm dan masih bisa dilewati sepeda motor.

Namun setelah melewati jembatan Mberok, genangan mulai meninggi. Motor yang kami tumpangi masih bisa melaju, meski harus menjaga stabilitas gas. Setelah jalan berbelok, laju motor mulai terhambat dan akhirnya benar-benar mogok dan berhenti. Yaaaaah…padahal aku baru mau menyarankan bapak untuk berbelok ke arah jalan depan Pabrik Rokok Perahu Layar.

Terpaksa motor dituntun menuju Stasiun Tawang. Cukup berat juga perjalanan di akhir sambil mendorong dan menuntun motor. Penerangan minim karena listrik di sekitar kawasan tersebut dimatikan oleh PLN. Untung masih banyak becak yang hilir mudik mengangkut penumpang ke stasiun Tawang. Banyak pula sepeda motor dan mobil yang masih bisa menembus genangan banjir.

Aku cukup kepayahan mendorong motor karena berjalan di dalam air dengan sandal jepit cukup susah. Bapak menyuruhku melepas sandal karena aku sering tertinggal oleh bapak. Setelah sandal dilepas, perjalanan menembus genangan air lebih mudah.

Haus, capek rasanya. Tapi seneng juga bisa merasakan genangan air. Hehehe..maklum dulu tempat tinggalku di Semarang langganan banjir jadi sudah terbiasa dengan genangan air berwarna coklat. Sampai di stasiun Tawang, banyak becak mengantre di depan pintu masuk sebelah timur. Becak-becak bergantian menurunkan penumpang di jembatan kayu yang dipersiapkan menuju jembatan besi penghubung ke stasiun Tawang.

Sebagai informasi, setiap kali banjir terjadi tempat parkir, pintu masuk stasiun yang berfungsi sebagai penjualan tiket KA dan peron, dan ruang tunggu selalu tergenang air. Gak tanggung-tanggung, genangannya bisa sepinggang orang dewasa. Jadi pihak stasiun Tawang sudah mempersiapkan jembatan penghubung di sisi sebelah timur.

Masuk ke stasiun tawang, ternyata masih banyak penumpang yang menunggu. Entah karena kebingungan atau memang menunggu keberangkatan KA Kamandanu yang berangkat pukul 21.00. Aku bertanya pada petugas, dimana tempat penukaran tiket. “Mbak, masuk terus belok kiri”. Hhhmm apakah lokasinya di tempat yang semula? Wah berarti harus menembus genangan tinggi, dong.

Akhirnya pandanganku tertuju pada serombongan orang yang sedang merubung bangku panjang. Hhhmm apa yang terjadi? Apakah ada orang yang pingsan?

Aku segera bertanya untuk menanyakan pada orang yang berdiri di dekat situ. “ooo ini mbak …kalau mau nukarin tiket ya disitu. Aku berusaha untuk menembus kerumunan orang. Berhasil…ternyata aku melihat tiga petugas wanita sedang sibuk melayani penukaran tiket. Wajahnya kuyu, kecapaian. Seorang petugas sibuk memegang segepuk uang Rp 5.000 an. Seorang petugas lagi memegang segepuk tiket, dan petugas terakhir sibuk menelpon …Mungkin menelpon atasannya.

Mereka tampak dengan sabar melayani pertanyaan, umpatan dan pengembalian tiket dari penumpang. Akhirnya tiba giliranku. “Bu, mau menukar tiket RAjawali untuk perjalanan besok pagi. Bisa gak?” . Dia segera menjawab “Coba saya lihat dulu, mbak”. Petugas tersebut mengatakan tiket bisa dikembalikan tapi dipotong biaya 25%. Hhhmm kupikir-pikir…biarlah. Toh aku sudah menembus genangan di depan stasiun Tawang, masa gak jadi kutukar. Motor sudah mogok pula. Akhirnya tiket seharga Rp 150.000 bisa ditukar dengan uang Rp 118.000. Setelah itu aku baru bertanya, “sebenarnya besok pagi, KA Rajawali jalan gak?” . Petugas menginformasikan bahwa KA tersebut jalan tetapi dari pintu timur. Ah pintu timur mana yg dibuka? Pasti besok genangan di Stasiun tawang juga belum surut. Akhirnya kubulatkan tekadku untuk berganti moda transportasi bus menuju Surabaya. Relatif lebih aman lah.

Setelah acara penukaran tiket selesai, petualanganku menembus banjir belum berakhir. Masih banyak lagi genangan yang harus ditembus menuju tempat yang aman. Motor sudah tidak bisa lagi distater karena kemasukan air. Hehehehe…

Akhirnya aku dan bapak menuntun motor dari pintu timur stasiun Tawang menuju gereja Blenduk. Cukup jauh juga karena kami harus sedikit memutar mencari tempat yang aman.

Sampai di depan gereja Blenduk, genangan surut. Bergegas bapak mencoba menyalakan motor. Tapi…sia-sia karena stater motor pun tidak bisa digerakkan. Akhirnya yang bisa dilakukan hanya mencoba mengeluarkan air dari knalpot. Itupun sia-sia.

Putus asa, bapak menelpon temannya dan minta dijemput. Kupikir motor mogok itu mau dinaikkan ke mobil bak terbuka. Ternyata mau ditarik juga dengan sepeda motor. Alamak..petualangan lagi. Heh
ehhee…

Capek…seru….nostalgia banjir bersama bapak yang tidak terlupakan

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s