Pfff…Akhirnya Selesai Juga

Akhirnya selesai juga proyek sekolah. Proyek yang membuatku stress, tertekan, kacau, dan pusing tujuh keliling. Bukan bermaksud untuk melebih-lebihkan karena semua orang yang sedang menyelesaikan tugas akhir, thesis, ataupun disertasi pasti akan merasakan hal yang sama denganku. Kali ini aku sekedar berbagi cerita agar menjadi pelajaran untuk orang lain.

Pertama kali mengerjakan thesis dengan judul “Strategi Optimasi Daya Dukung Lahan Kota Bekasi”, aku merasa tidak sreg. Alasannya ini bukan topic yang ingin kuteliti. Topik penelitian yang menjadi perhatianku adalah banjir karena hal itu pulalah yang membuatku tergerak untuk mengambil kuliah S2. Rupanya keinginanku ini tidak diluluskan oleh Ketua Jurusan tempat aku kuliah. ”Terlalu sulit bagi kamu untuk mengambil topic banjir Jakarta karena kamu tidak menguasai ilmu hidrologi. Butuh waktu 1 tahun untuk mengerti ilmu hidrologi”. Waks…kecewa sekali mendengar penuturan bapak Kajur, setelah aku presentasi proposal penelitian. Belakangan baru tahu, bapak Kajur mengatakan hal tersebut dalam rangka mengintimidasiku. Dia punya proyek penelitian yang diajukan ke Dikti untuk mendapatkan dana hibah bersaing. PRoyek penelitian tersebut melibatkan beberapa orang temanku. Rupanya masih ada satu topic yang belum tergarap, yaitu mengenai sumber daya lahan.

Bapak Kajur yang tadinya belum mengenal diriku, langsung terkesima setelah aku selesai presentasi proposal penelitian. Apalagi setelah tahu basic S1 ku adalah planologi. Keinginanannya untuk mengintimidasiku melaksanakan proyek penelitian hibah bersaing tersebut semakin kuat. Hehehe…Sebagai informasi, proyek penelitian Dikti tersebut meneliti kondisi lingkungan Kota Bekasi, khususnya kondisi daya dukung yang terdiri atas daya dukung lahan, air (ketersediaan dan kualitasnya), dan social, serta persampahan, dan ketersediaan ruang terbuka hijau. Sebagai ‘gong’ dari penelitian tersebut adalah Penentuan Model Daya Dukung LIngkungan untuk SEbuah Kota yang merupakan penelitian Disertasi.

Awalnya sempat bingung juga mengerjakan penelitian daya dukung lahan. Konsep yang ada masih kabur dan merupakan hal yang baru di Indonesia. Bahkan tahun 2006, Kementrian Lingkungan Hidup baru mengeluarkan ketentuan perhitungan daya dukung air dan lahan untuk sebuah wilayah. Sayangnya ketentuan tersebut tidak bisa dipakai untuk penelitianku karena daya dukung lahan yang dibahas mengenai keberadaan lahan untuk persediaan pangan suatu wilayah. Jelas tidak bisa digunakan karena wilayah studi penelitianku adalah sebuah kota yang bukan merupakan wilayah penghasil pangan.

Beruntung, ada teman satu tim dalam penelitian tersebut yang sangat membantuku. Beliau yang bertugas untuk mengerjakan penelitian dalam skala disertasi, membantu mencari konsep-konsep baru mengenai carrying capacity dan ecological footprint. Hhhm apa tuh? Ah pokoknya ribet, baru pertama kali aku mendengar kata ecological footprint. Bersama-sama kami mencari konsep tersebut di internet. Sampai akhirnya dia pulalah yang menemukan konsep baru tersebut. Hehhehe (sudah tidak mampu pikiranku menjangkau konsep-konsep yang aneh). Sekali lagi beruntung bisa mengenal beliau. Aku banyak belajar mengenai bidang planologi (ilmu yang sudah lama kulupakan). Hampir setiap minggu ketemu untuk diskusi. Hampir setiap minggu pula, bongkar pasang bab II (tinjauan pustaka) dan Bab III (metodologi penelitian).

Bulan Maret akhirnya konsep itu selesai, berarti siap dengan proses analisis. Waks…ternyata tidak semudah itu. Meski data sudah ditangan, masih ada hal lain yang harus dikerjakan sebelum menginjak proses analisis. Bagian tersebut adalah pemetaan. Sebel…karena aku tidak menguasainya dan harus tergantung pada orang lain. Benar-benar sangat menyusahkan. Sebenarnya di kantor ada beberapa teman yang menguasai sistem perpetaan (GIS), tapi sungkan untuk meminta tolong karena pekerjaan kantor juga banyak. Akhirnya urusan perpetaan aku serahkan pada orang lain, tapi justru ini juga yang menghambat thesisku.

Pada saat yang bersamaan ada proyek besar di kantor yang mengharuskan untuk Dinas Luar Kota selama berminggu-minggu. Meski rada menghambat, aku masih curi-curi waktu di sela-sela bekerja untuk terus mengerjakan thesis. Tetap profesional kan. Aku sudah memperhitungkan waktu, dengan segala keterbatasan data dan masalah teknis, thesis ini bisa selesai bulan Juni.

Bulan Mei saat yang tepat untuk konsentrasi mengerjakan thesis. Hhhmm bukan berarti meninggalkan pekerjaan kantor. Thesis aku kerjakan sore sampai malam hari. Kalau perlu sampai lembur. Harapanku, akhir mei selesai dan Juni bisa dilanjutkan dengan proses sidang. Bulan Juli aku sudah lulus dan siap melaksanakan proyek besar dari kantor. Tapi harapan Cuma harapan…smuanya berubah.

Akhir Mei, tiba-tiba saja Kajur sekaligus dosen pembimbingku mengatakan bahwa aku harus menggunakan data primer untuk melihat daya dukung sosial. Padahal selama ini, aku merencanakan menggunakan data sekunder untuk analisis daya dukung sosial, toh analisis tersebut merupakan bagian kecil dari penelitianku. Perintah tersebut tidak bisa ditawar. Hari sabtu beliau memerintahkan untuk membuat kuesioner dan senin sudah harus jadi. Gawat…aku sama sekali belum berpengalaman membuat kuesioner, apalagi masalah sample. Waks tidak terbayang bagaimana susahnya.

Bagaimanapun meski banyak keluhan, aku tetap mengerjakan perintah itu. Aku Cuma percaya bahwa bisa mengerjakannya. Di luar dugaanku, aku bisa menyelesaikan kuesioner tersebut selama setengah jam dengan mencontek beberapa kuesioner dari penelitian-penelitian kantor. Padahal saat itu, aku harus menahan sakit tenggorokan yang sudah mulai kumat.

Senin pagi, kuesioner itu kuserahkan kepada pak dosen. Dengan beberapa perubahan sedikit, jadilah kuesioner itu. Nah sekarang masalah sample. Hhhmm kali ini aku menyerah, benar-benar bingung. Untung teman satu timku bisa membantuku untuk menyelesaikan urusan sampel. Padahal sebenarnya kami bertiga pun sama-sama tidak berpengalaman.

Malam itu puncak kepanikan kami. Besok pagi, kuesioner harus segara disebar, tapi kami tetap bingung menentukan berapa besar sampel untuk kelurahan-kelurahan yang telah terpilih. Aku tidak bisa tidur nyenyak memikirkan hal itu. Sekitar pukul 6.00, temanku menelpon sambil kegirangan telah menemukan rumus untuk menentukan sampel. Setelah dihitung, didapatkan jumlah sampel adalah 25 KK untuk masing-masing kelurahan. Awalnya kami agak heran dengan rumus tersebut, mengapa dengan jumlah populasi yang berbeda, jumlah sampel yang didapat adalah sama. Namun karena waktu sudah sangat mendesak, kami tidak memedulikannya. Belakangan jumlah sampel tersebut malah menjadi bumerang bagi penelitianku saat sidang akhir. Hehehee….

Akhirnya kepanikan itu mereda setelah kuesioner mulai disebar. Setelah 350 kuesioner selesai diisi, bergegas dientry dengan meminta bantuan seorang teman. Hasil kuesioner dalam bentuk exel sudah kudapat. Tapi…glek…duh kok hasilnya begini ya. Ada beberapa yang tidak diisi, salah pengisian, dan sebagainya. Harus kreatif neh untuk mendapatkan hasil kuesioner yang bisa dipertanggungjawabkan. Akhirnya setelah ’pemolesan’ data exel tersebut siap dimasukkan ke program SPSS. Kali ini tantangan bagiku karena aku tidak terbiasa menggunakan SPSS. Hhhm tapi bagaimanapun kalau sudah kepepet apapun bisa kulakukan. Tanpa kuduga, aku berhasil melakukannya.

Hasil kuesioner dengan bantuan olahan SPSS, sudah ditangan dan siap dianalisis. Tiba-tiba aku mendapat ide untuk mengolah data tersebut dengan sistem skoring. Entah dapat wangsit darimana, dengan cepat aku bisa menganalisisnya. Agaknya karena kepepet waktu yang semakin pendek, kreatifitasku yang aneh-aneh mulai muncul. Sayang, saat itu juga analisis overlay peta belum tergarap.

Tepat tanggal 19 Juni, aku menghadap dosen pembimbing dengan setumpuk draft thesis yang belum jadi karena analisis spasial memang belum tergarap. Aku Cuma ingin menunjukkan inilah hasil kerjaku selama ini karena beliau terus marah-marah pada tim kami yang tidak becus bekerja. Aku tahu bahwa tidak mungkin selesai pada semester IV karena masih ada beberapa analisis yang belum dikerjakan. Selain itu, akhir semester IV tinggal beberapa minggu saja. Oh ya, sekalian juga pamit untuk tidak mengerjakan thesis selama 3 minggu karena ada pekerjaan kantor yang tidak bisa ditinggal.

Sebenarnya aku sendiri yang memutuskan untuk mundur semester depan. Akan tetapi keluar dari ruang dosen, perasaanku berkecamuk. Sesuatu yang sudah aku usahakan sekuat tenaga dengan mengorbankan semua waktu dan kesenanganku belum bisa terkejar juga. Keluar ruangan dengan muka ditekuk-tekuk dan menahan emosi. Rupanya perubahan mukaku ini diperhatikan oleh Bu Irna sekretaris Jurusan. Karena inilah aku mendapat berkah yang lain. Hehe…

Sepanjang perjalanan dari kampus – kantor aku menangis sambil naik motor. Semuanya emosiku teraduk-aduk. Apalagi saat itu aku sedang berulang tahun. Sampai di kantor, terpaksa aku ubah air mukaku. Gak enak dengan teman-teman yang sudah dengan ceria memberikan ucapan selamat untukku. Karena gak kuat menahan emosi, aku lari ke kamar mandi dan menumpahkan tangisku di sana. Saat bersamaan, mbak Dyta teman satu timku menelpon untuk menanyakan hasil asistensi. Aku gak bisa menyembunyikan tangisku di hadapan dia. Mbak Dyta cukup kaget mendengar aku menangis. Di mata dia, sepertinya aku tidak pernah menangis. Kekagetan dia inilah yang juga menjadi berkah lain bagiku. Hehehehe…

Tangis-menangis tidak bisa diteruskan, tepat jam 10.00 ada pelatihan di lantai 5. Aku mati-matian menyembunyika
n kesedihanku. Berhasil, tidak ada orang kantor yang mengetahui kekecewaanku. Bahkan sampai malam hari saat keluar makan dengan beberapa teman, aku berusaha tidak memperlihatkannya. Akan tetapi di dalam hati rasanya sudah sangat pedih apalagi melihat tingkah beberapa teman yang semakin membuatku ’sakit’.

Hari-hari berikutnya, thesis benar-benar kutinggal. Tutup buku untuk sementara. Aku memilih untuk berkonsentrasi mengerjakan pekerjaan kantor di Malang. Sedikit terhibur melihat keindahan kota Malang dan melupakan semua kekecewaanku.

Seminggu berikutnya kembali ke Jakarta. Aku sudah bisa tersenyum tapi aku malah sakit batuk pilek. Saat sakit, aku diminta untuk menghadiri Seminar Hasil Penelitian teman kuliah di kampus, Suwardo. Rasanya malas untuk pergi ke kampus karena itu akan membangkitkan rasa kecewaku. Akan tetapi merasa tidak enak dengan Suwardi.

Aku naik ke lantai 6 bersama dengan Tika teman kuliah sambil kebingungan mencari ruang ujian. Sampai di koridor lantai 6, aku melihat dosen pembimbingku sedang asistensi dengan Maika, temanku di ujung lantai 6. Aku malas untuk berbasa-basi dan tenggorokanku sangat sakit tidak bisa bicara. Aku memilih untuk masuk ke ruang ujian lewat pintu I, yang berarti tidak harus berbasa-basi dengan beliau. Sedangkan Tika memilih masuk lewat pintu II karena mengira pintu I terkunci. Rupanya dosenku melihat perubahan sikapku. ”Kok Putri jadi aneh ya. Sepertinya menghindari saya. Jangan-jangan dia marah. Jadi gak enak saya,” kata dosen pembimbingku pada Maika. Di dalam ruangan pun aku dia, tidak banyak omong dan tidak tersenyum. Aku memilih duduk di pojokkan belakang, gelisah dan terus melihat jam tangan.

Presentasi Suwardi tidak menarik perhatianku. Akhirnya setelah Suwardi menyelesaikan presentasinya, aku diam-diam kabur dari ruang sidang. Selain malas, ada pelatihan lain di kantor. Temanku berkali-kali sudah menelponku dan memintaku segera datang.

Tanpa kuduga, perubahan sikapku tersebut membuat dosenku merasa tidak enak. Akibat positifnya dia memutuskan untuk membayar uang kuliahku semester V. Hhhm sebenarnya beliau bukan membayar dengan uang pribadinya, tapi dengan uang proyek Hibah Bersaing. Sebenarnya itu hak kami juga untuk mendapatkan honor dari pengerjaan penelitian tersebut. Lucunya, bapak dosen tidak berani mengungkapkannya padaku karena takut denganku. Dia memilih mengatakannya pada temanku yang lain.

Kaget, geli, sekaligus senang mendengar cerita mbak Dyta tersebut. Hahaha…ini hikmah dari muka ditekuk-tekuk dan tangisan sepanjang jalan.

Beberapa hari kemudian, aku sudah harus berangkat lagi ke Malang untuk mengerjakan proyek besar kantor. Sebelum berangkat aku sempat mengucapkan terima kasih dan meminta maaf atas perbuatan tidak sengajaku pada bapak Dosen. Toh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya kesal pada keadaan yang ada.

Sampai di Malang, bukan berarti aku sama sekali tidak mengerjakan thesis. Hari pertama di Malang aku berusaha merevisi bab IV Tinjauan Wilayah Studi dengan menambahkan data primer hasil kuesioner. Setelah itu, aku berkonsentrasi pada pekerjaan kantor.

Sepulang dari Malang, aku sudah bisa bernapas lega karena sudah mendapat titik cerah untuk melanjutkan Thesis. Tapi…apa daya aku kaget dengan berita yang disampaikan supervisor di kantor. ”Kamu akan dipindah ke Surabaya”. Waks…apalagi neh. Belum selesai dengan cobaan pertama, datang cobaan berikutnya.

Lagi-lagi emosiku teraduk-aduk. Marah, kecewa, bingung…Oh…tidak….

Satu pekerjaan belum selesai, sudah ada pekerjaan lain. Aku semakin kecewa ketika tahu bahwa sebenarnya ini bukan jatahku untuk pergi ke Surabaya. Hhmmm tapi sudahlah… Aku sudah memutuskan dan kantor menerima keputusanku untuk menunda kepergian ke Surabaya. Di sisi lain, hal inilah yang membuatku terpacu untuk segera menyelesaikan
thesis. Juga menjadi ’alat’ supaya dosen pembimbingku tidak menambah materi lagi.

Seperti biasa muncul keajaiban lain. Hanya dalam waktu sebulan aku berhasil menyelesaikan thesis sampai pada bagian kesimpulan. Bahkan sudah menjadi draft Thesis yang siap untuk diseminarkan.

Tapi bukan berarti aku terus mengurung diri untuk mengerjakan thesis. Aku masih tetap ke kantor, membantu pekerjaan kantor Jakarta, bahkan dolan ke Bandung. Nah saat dolan ke Bandung inilah, aku kehilangan kamera kesayanganku. Yah ..gak usah disesali, saat itu aku memang lagi ”dudung” hehehehe…

Awal september, draft thesis masuk ke reader. Seminggu kemudian harus kurevisi kembali dan harus segera masuk ke dosen pembimbing. Akhir September, aku sidang Seminar Hasil Penelitian dengan pembahas teman-teman. Tanpa kuduga, nilai yang kudapat adalah A+. Waks…padahal aku sempat bingung juga dengan pertanyaan teman-teman yang cukup kritis. Hhmm tapi rupanya inilah penghargaan dosen pembimbingku pada kerja kerasku selama ini.

Aku bisa liburan lebaran dengan tenang di Semarang. Setelah itu, aku harus berkutat kembali dengan thesis. Untung tidak banyak revisi yang kulakukan, hanya menambah satu analisis SWOT pada analisis terakhir. Itupun bisa kulakukan semalam.

Puncak dari perjuanganku adalah tanggal 27 Oktober lalu. Aku menghadapi Sidang Akhir dan Komprehensif. Aku hanya punya waktu belajar hari Jumat-Minggu. Pasalnya hari-hari sebelumnya aku harus bolak-balik ke Surabaya-Jakarta-Yogyakarta-Jakarta-Surabaya. Waktu belajar itupun tidak bisa kulakukan dengan sempurna karena aku capai banget. Hasilnya aku Cuma tidur-belajar sebentar-makan-tidur lagi. Hehehehe…

Saat sidang, perasaanku sudah tenang karena pasrah dan kecapaian. Apapun yang terjadi, aku siap menerimanya. Tanpa diduga olehku dan dosen pembimbing, ada dosen penguji yang menanyakan hal yang konseptual. Pertanyaan pertama dibuka dengan ”Apa beda lahan dan tanah?” Wow…aku Cuma bisa melongo beberapa saat. Untung aku bisa menguasai diri dan bisa menjawabnya dengan baik. Aku berusaha keras untuk mengingat materi saat aku kuliah S1 dulu dan menggabungkannya dengan beberapa pengetahuan yang kudapat selama ini.

Rasanya 2 jam itu lama sekali. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan sangat banyak. Yang bisa kulakukan hanya tersenyum-senyum dalam hati sambil mengumpat-umpat dengan kebodohanku. Hehehe…Setelah dua jam lebih 10 menit, sidang selesai. Lega rasanya…Napas tersengal-sengal, serasa seperti habis lari marathon 10 km. Aku pasrah karena merasa kacau dalam menjawab pertanyaan.

Tak berapa lama kemudian nilai hasil ujian keluar. Aku dapat nilai A- dengan nilai YUDISIUM sangat memuaskan. Huah…lega…Meski ada beberapa teman yang menyayangkan aku hanya mendapat nilai A- bukan A+. Ah sudahlah, aku sudah cukup bersyukur dengan hasil yang kudapat. Perjuanganku tidak sia-sia.

Hhhm..rupanya aku tidak bisa berlama-lama bergembira. Tiga jam setelah dinyatakan lulus, ada perintah aku harus segera ke Surabaya. Waks..itu konsekuensi yang harus kuterima. Aku bersiap untuk lari marathon lagi. Hanya dalam waktu dua hari, aku packing barang untuk pindahan.

Sekarang aku sudah di Surabaya dan siap menerima pekerjaan baru. Hhhmmm tapi sebenarnya aku pun belum tahu mau membuat program seperti apa. Lagi…lagi aku Cuma bisa mendesah…Ah sudahlah. Aku siap terjun bebas. Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu. Aku percaya pasti ada jalan baik untukku.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s