Rumah Mungil di Tepi Danau (Bag. II-selesai)

Ini lanjutan ceritanya. Hii serem..ternyata ada unsur misterinya. Hehehe.

Entahlah instingku mengatakan ibu tua tadi sangat tulus dan kelihatannya ingin bersahabat dengan siapa saja yang memperhatikannya. Sayang aku tadi lupa menanyakan namanya.Nanti suatu ketika kalai lewat dirumahnya akan kutanyakan siapa namanya.

Tak terasa sudah lebih dari seminggu aku tidak melewati rumah di pinggir danau itu. Selain berkunjung ke lain kota dan mondar mandir naik subway, route jalan pagiku berpindah-pindah kearah lain karena aku memang ingin menjelajahi kota kecil tempat tinggal adikku yang suasana lingkungannya sungguh cantik dan terpelihara dengan baik. Suatu hari setelah tidur siang, aku bermimpi bertemu dengan ibu tua yang tinggal ditepi danau itu. Aku tidak tahu mengapa bisa bermimpi di siang bolong. Mungkin karena kecapaian atau karena kelamaan tidur siang,.

Maka pagi itu kutetapkan jalan pagiku akan lewat danau didekat ibu tua yang baik hati itu. Hari masih pagi tetapi sinar matahari pagi itu sudah menyilaukan mataku, maka terpaksa kupakai kaca mata hitamku. Mataku memang tidak tahan dengan sinar yang menyilaukan. Ketika aku sampai kerumah mungil ditepi danau itu suasana sepi . Tak terlihat seorang pun berada di halaman. Tetapi rumpun bunga lely orange dipojok halaman. terlihat berbunga semua . Kemarin ketika pertama kali aku datang baru 2 atau 3 batang yang berbunga. Terkesima aku melihat keindahannya.

Tiba-tiba tampak seseorang telah berdiri dibelakang rumpun hortesia Ungu di dekat tangga rumah melambai-lambaikan tanganya dan berjalan menemuiku. “Hai!”, serunya .Rumpun lely ku telah berbunga semua. Cantik bukan.?” Aku Cuma mengangguk setuju. Kemudian cepat-2 kutanyakan namanya, sebelum aku lupa karena kesengsem melihat bunga lely dan hortensia ungu yang semuanya telah mekar.

Akhirnya kami berkenalan. Nama ibu tua tadi Camilla. Usianya kira -70 tahunan.Ini taksiranku saja karena aku tak berani menanyakannya, kurang etis pikirku. Kulitnya tidak putih seprti orang bule umumnya, tetapi agak kecoklatan. Mungkin ada darah Mexico / Amerika Latin dalam tubuhnya. Masih kelihatan kecantikannya ketika muda dulu.

Setelah tahu namaku Maria dia tertawa dan berseru, ”Wow kita se iman rupanya!”. Aku Cuma mengangguk saja, tapi merasa senang juga bertemu dengan kawan seiman. Ketika kutanya dengan siapa dia tinggal dirumah itu, dia menjawab kalau dia sekarang sendirian karena suaminya seorang pensiunan guru sekolah telah meninggal 5 tahun yang lalu.

Tanpa kutanya dia juga bercerita kalau sebenarnya dia mempunyai dua orang puteri yang semuanya sekarang tinggal diluar kota. Si Sulung tinggal didaerah Texas bersama suaminya seorang dosen dan telah punya seorang anak berumur 2 tahun. Sedang si bungsu yang berprofesi sebagai reporter suatu perusahaan televisi bertempat tinggal di New York. Si Bungsu ini belum menikah karena sibuk dengan kariernya katanya.

Kemudian ceritanya dilanjutkan bahw sudah setahun lebih anak-anak dan cucunya tidak mengunjunginya.”Mungkin terlalu sibuk “katanya. Selain menjadi pendengar yang baik aku juga mencoba menghiburnya bahwa tidak mengunjunginya bukan berarti melupakan ibunya. Pasti mereka tetap mendoakan ibu tercintanya. “Ah, paling juga mereka lupa mendoakan ibunya karena sibuk dengan urusan masing-masing”. “Jangan berprasangka buruk dulu Bu!” kataku menghiburnya.

Tetapi ibu tua itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum getir. Ketika kutanyakan mengapa dia tidak tinggal saja dengan salah seorang anaknya, misalnya yang sudah berkeluarga. Dia menggeleng sambil mengatakan bahwa di tidak dapat meninggalkan rumahnya yang penuh kenangan tersebut.

Setiap bagian rumah ini (sambil menunjuk rumahnya) misalnya halaman ini penuh kenangan dengan suaminya. Pohon murple ini kami tanam ketika si sulung lahir. Waktu itu kami memang mengobrol dibawah pohon murple di dekat rumpun lely orange
itu.Juga bunga hortensia ungu itu ditanam bersama suaminya ketika musim panas, setelah suaminya sembuh dari sakit patah tulang kaki, karena jatuh dari sepeda “Semuanya kami tanam dengan rasa cinta kami”, katanya. Mukanya tampak berseri-seri ketika menceritakan tentang suaminya.

Aku juga tersenyum ikut merasakan bgaimana dia berbahagia bersama suami tercintanya. Tiba-tiba dia tersadar kalau kita sudah terlalu lama ngobrol dibawah pohon dan seperti baru teringat dia mempersilakan aku untuk mampir minum teh di teras rumahnya. Suatu tawaran ramah yang terpaksa kutolak dengan halus karena aku masih ingin melanjutkan perjalananku kearah selatan dari danau itu ,yang belum pernah kudatangi. Sepertnya ibu itu memakluminya dan berpesan padaku supaya hati-hati kalu menyeberang jalan tol karena sangat ramai.

Aku segera meninggalkan rumah itu tanpa menoleh, meneruskan perjalananku. Selama berjalan meneruskan program jalanku, aku teringat pada almarhum ibuku yang juga berpikiran sama,setiap kami anak-anaknya menawarkan ibu untuk bergabung dengan salah seorang dari kami, dari pada sendirian tinggal dirumah ibu yang besar itu.setelah bapak meninggal.” Sayang bila rumah ini kutinggalkan. Rumah ini kubangun berdua dengan bapakmu dengan penuh cinta dan banyak kenangan yang terukir disetiap sudut rumah ini “,selalu begitu alasan beliau

Walau ibu sudah sakit parah dan tak bisa berbuat apa-apa beliau masih tidak bergeming dan tetap tak mau meninggalkan rumahnya. Dimana- mana orang tua selalu sama dalam hal mengurus rumahnya. Akankah demikian pula kelak aku bila sudah tua? Waktulah nanti yang akan menjawabnya.

Baru 2 jam kemudian aku sampai dirumah kembali. Setelah makan siang aku terus tidur karena badan terasa capai sekali. Sore hari ketika adikku pulang dari kantornya kuceritakan bagaimana pertemuanku dengan ibu tua yang tinggal ditepi danau itu. Kuceritakan pula bagaiman keramahanya menawariku mampir, tapi terpaksa kutolak dengan halus.

Adikku merasa penasaran, karena menurut dia di tepi danau itu tak ada rumah. Kalau dekat danau kira jarak sepiluh meter dari memang ada kompleks perumahan, katanya Kemudian adikku mengajakku untuk menunjukkan rumah itu hari minggu besuk kalau akan pergi ke gereja, karena dari jalan di depan danau itu dapat juga sampai ke gereja meskipun jaraknya agak jauh karena jalannya memutar.

Aku menyesal juga mengapa tak kubawa kamera yang bisa kugunakan untuk memotret rumah mungil itu. Dua hari kemudian ketika hari minggu pagi tiba kami,(aku dan keluarga adikku) sengaja berangkat ke gereja lebih pagi karena akan melewati jalan dimuka danau untuk menunjukkan kepada adikku rumah kenalan baruku yang ramah itu. Sesampai didepan danau kami sengaja berhenti dan mencari rumah putih itu. Heran!! ternyata rumah itu tidak tampak. Rumpun bunga lely orange memang ada, bunnga hortensia juga ada meskipun bunganya hanya satu atau dua batang saja. Pohon murple tempat saya mengobrol dengan ibu tua itu juga ada,tetapi dipohon itu tertulis pada sebuah papan :tulisan :FOR SALE.

Aku heran kemana rumah mungil yang putih itu? Dan kapan papan tulisan dijual itu terpasang disitu? Ketika aku mengobrol dengan penghuni rumah itu, papan dengan tulisan tersebut tidak ada. Dibelakang rumpun bunga hortensia kira-kira dua meter terdapat puing-puing kayu bekas terbakar.

Kemudian adikku bertanya serius kepadaku, apa yang pernah kuceritakan tentang rumah itu benar atau hanya illusiku saja. Dengan agak tersinggung kukatakan bahwa yang kuceritakan itu betul. “Buat apa mengarang-ngarang cerita semacam itu” kataku agak ketus. Akhirnya adikku bercerita, bahwa setahun yang lalu memang pernah terjadi kebakaran yang menghanguskan sebuah rumah yang letaknya paling dekat dengan tepi danau itu dan agak jauh dari kompleks perumahan disekitarnya.

Rumah tersebut dihuni oleh seorang janda tua yang tinggal sendirian dirumah itu, sehingga ketika terjadi kebakaran (yang kemudian diketahui karena terjadinya hubungan arus listrik pendek), tak dapat meminta tolong kepada tetangga-tetangganya. Kejadiannya memang diperkirakan tengah malam ketika janda itu diduga sedang tidur nyenyak. Letaknya yang agak jauh dengan tetangganya menyebabkan pertolongan yang dilakukan untuk memadamkan kebakaran dirumah itu terlambat.

Tragisnya janda tua penghuni rumahitu sudah meninggal ketika ditemukan oleh para petugas pemadam kebakaran. Jenasahnya masih utuh dan tidak ada tamda-2 bekas terbakar, sehingga diduga janda tersebut meninggal karena sesak napas atau kekurangan oksigen. Setelah kejadian itu oleh anak-anak janda tua itu rumah atau tepatnya tanah itu akan dijual. Tetapi sampai sekarng belum laku.

Kata adikku menurut cerita-cerita orang yang tadinya akan membeli tanah itu, ketika para calon pembeli itu datang untuk melihat tanah itu, merasa dilihat atau diikuti oleh seseorang yang tak terlihat tetapi terasa kehadirannya. Bulu kudukku merinding ketika aku mendengar cerita adikku.Jadi apakah ibu Camila yang pernah mengajakku mampir ke rumah itu adalah arwah janda tua yang meninggal karena rumahnya terbakar itu.

Pertanyaan yang tak perlu kucari jawababannya. Tetapi aku terus mengajak adikku segera ke gereja dan berdoa untuk ketenangan arwah ibu tua itu. Semoga Tuhan segera menerima dan menempatkan arwahnya disisiNya. Dalam hati kuberkata Cinta memang Universal. Cinta suami isteri, cinta ibu kepada anak-anaknya ternyata sama dimana-mana dibelahan bumi ini. Sungguh pengalaman yang amat mengesankan bagiku dan sampai sekarang sering kurenungkan betapa kuatnya cinta kasih itu.menyebar kemana – mana tanpa melihat tempat dan jarak.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s