Rumah Mungil di Tepi Danau (bag. I)

Ini sebenarnya cerpen bikinan ibuku. Setelah beliau pergi ke AS mengunjungi adiknya, dia membawa ‘oleh-oleh’ yang membuatku menakjubkan. Bukan sebuah barang bermerk. Melainkan ketrampilan baru berinternet. Nah ternyata di balik itu, ada tambahan kemampuan tambahan yang mungkin terpendam lama, yaitu menulis. Sebenarnya beliau mampu menulis karena dulu sering mengajariku membuat karangan. Karena kesibukan sebagai dosen dan ibu rumah tangga, bakat itu menjadi terpendam. Di hari-hari tuanya, menjelang pensiun, ternyata bakat tersebut muncul lagi. Semoga yang satu ini bisa menemani hari-hari tuanya.

Hari telah terang ketika pelan-2 mataku kubuka. Rasa kantuk yang menggelayuti mata tiba-tiba hilang. Hujan semalam membuatku tidur lelap,sehinnga rasanya malas untuk membuka mata. Aku ingat pagi ini aku punya rencana untuk menjelajahi jalur hijau disekeliling perumahan tempat tinggal adikku. Rasa penasaran untuk melihat-lihat bagaimana di kota besar ini jalur hijau masih terpelihara dengan baik dengan bentangan area yang cukup luas.

Di negeriku yang konon terkenal sebagai negara yang indah bak zamrud katulistiwa, sangat sulit mendapat kompleks perumahan dengan jalur hijau yang luas dan terpelihara baik. Apalagi di kota-kota besar. Yang kita jumpai justru hutan beton dengan lalu lintas yang sangat padat. Di negeri yang jauh dan terkenal sebagi negeri adikuasa ini justru banyak kutemukan areal-areal lingkungan perumahan yang sungguh ideal lingkungannya.

Mulai pagi hingga sore hari angin lembut terasa membelai wajah. Udara terasa sejuk meskipun katanya musim panas sudah tiba. Aku sering betah sekali duduk dibangku taman dibawah pohon murple yang daunnya rimbun dan melambai-lambai lembut bila tertiup angin. Suara serangga yang dinegeriku dikenal sebagi “gareng pung” terdengar sepanjang hari bagaikan suara seruling yang mengiringi desir angin lembut yang bertiup pelan-pelan antara ada dan tiada. Sungguh suatu orkestra simfoni alam yang belum pernah kujumpai di negeriku sendiri, bahkan didaerah pedesaan sekalipun

Sudah hampir seminggu kutinggalkan negeriku tercinta yang konon sangat indah itu. Tetapi sebenarnya sekarang justru sangat penuh polusi baik udara ataupun daratan dan lautannya. Disini di negeri asing ini justru kutemukan lingkungan bersih yang sudah lama didambakan orang dan tak lagi ditemukan dinegeri tercinta.

Pagi ini aku memang merencanakan untuk berjalan-jaln disekitar rumah yang tak kalah menariknya dengan museum-museum yang beberapa sudah kulihat di pusat kota . Selain itu ada rasa jenuh juga setiap kali berpikir mempelajari peta dan jadwal subway agar bisa sampai kerumah lagi tanpa nyasar. Tetapi untuk jalan-jalan disekitar rumah pun aku masih perlu sketsa peta jalan untuk bisa sampai kerumah lagi dengan selamat.

Dari adikku yang tahu betul bahwa aku suka berpetualang terutama di daerah baru, kudapatkan peta jalan-jalan yang harus kulewati. Sebuah peta yang sederhana, mudah diingat karena beberapa jalan sudah pernah kulewati. ”Kalau kamu berjalan di jalan besar yang tampak dari belakang rumah kearah selatan dan menyeberang jalan, kemudian belok kekiri langsung kearah jalan pedestrian yang naik tak terlalu tinggi nanti akan kau temukan danau indah. Danau buatan disekitar perumahan yang sangat indah pemandangannya” Begitulah iming-2 adikku.

Aku makin tak sabar saja untuk berangkat. Kira-kira pukul 8.00 pagi. Matahari mulai naik, tetapi angin yang bertiup teras dingin menyegarkan, ketika aku mulai meninggalkan rumah dengan berjalan santai. Tujuanku memang hanya untuk melihat-lihat dan merasakan udara segar yang bersih. Selama perjalanan aku didahului oleh satu -dua orang yang berlari-lari kecil dan jogging. Mereka dengan ramah menyapaku “Hello” atau “morning Mam!”. Ternyata bangsa ini ramah sekali pada orang-orang asing.Padahal negerinya adalah negara adi kuasa yang sangat sulit untuk dimasuki bangsa lain. Maksud ku untuk masuk ke negara ini tidak mudah mendapat izin nya.

Setelah bebrapa lama berjalan kutemukan juga danau buatan yang dikatakan adikku itu. Ternyata agak dekat tepi danau ada rumah bercat putih yang mungil dengan pekarangan yang cukup luas mengelilinginya. Rumah tersebut memang agak terpisah dengan perumahan-perumahan yang berderet di belakangnya yang juga sangat tertata rapi meskipun satu sama lain tidak berpagar. Jadi tampaknya hubungan antar tetangga cukuphangat, tanpa mengurangi privacy masing-2.

Rumah mungil putih yang paling dekat danau tadi halamannya ditumbuhi rumput hijau yang kelihatannya tidak begitu rapi karena mungkin sudah beberapa waktu rumputnya tidak dipotong. Tetapi bunga-bunga yang tumbuh di dekat danau di bagian depan rumah tadi berkembang dengan warna-warni yang segar, putih, merah, pink dan ungu terkombinasi dengan baik. Agak kesengsem juga aku melihat indahnya pemandangan di halaman rumah itu

Tiba-tiba penghuninya seorang wanita tua kira usianya 70 tahunan keluar dan ramah menegurku.”Morning Mam” . ”Morning”, jawabku tergagap, karena tak mengira dia akan menyapaku, malah aku tersipu malu karena lama berdiri sambil memandang rumahnya. Akhirnya terjadilah dialog singkat denganku. Ibu tua tadi menayakan asalku dan kapan aku datang ke daerah itu. Tanpa diminta dia menerangkan nama-nama bunga yang beraneka warna itu.

Beberapa saat kemudian aku pamit untuk meneruskan perjalananku. Dia menawariku untuk mampir kerumahnya kalau kapan-kapan aku lewat di jalan itu. Aku dengan sungguh berjanji akan mengunjungnya lagi di lain waktu. Tak terasa setelah berjalan 2 jam aku sudah kembali kerumah dan ketika kuceritakan tentang pertemuanku dengan ibu tua yang tinggal ditepi danau itu. Adikku berkomentar bahwa itu bagus dan pada dasarnya orang-orang dinegeri itu memang ramah dengan orang-orang asing. Kamu malah bisa berlatih ngobrol dengan bahasa inggris, kata adikku dengan tertawa karena di tahu bahasa Inggrisku sangat minim.

Bersambung…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s