Keluar dari “tempurung kelapa”

Kabar jumat siang itu benar-benar membuatku ‘shock’. Rasanya seperti dipojokkan dan harus menghadapi kenyataan menerima kabar tersebut. Memang sih beberapa bulan yang lalu, suara hatiku berkata akan menerima kabar tersebut. Akan tetapi aku berusaha tepis karena aku sering salah mengartikan suara hatiku. (Hehehe). Selain itu aku memang sedang berkonsentrasi menyelesaikan ‘proyek’ku yang sudah 6 bulan tidak kunjung selesai. Aku benar-benar fokus sampai sering tidak peduli dengan gosip atau informasi dari orang lain.

Namun siang itu, aku benar-benar tidak berdaya. Bahkan aku tidak sanggup untuk berargumen. Aku hanya bisa mengeluarkan kalimat ,”Aku kan belum selesai”. Setelah itu, aku hanya berusaha keras menahan buliran-buliran air mata yang sudah siap mengalir deras. Ah..mengapa aku jadi sangat cengeng. Aku tetap berusaha tegar sambil sesekali berusaha tertawa. Ah..gagal. tes…satu butir air mata mengalir dari mata kiriku. Aku berusaha menutupinya dengan pura-pura membersihkan wajah. Setelah itu….

Aku segera lari menuju toilet. Tempat teraman untuk menumpahkan air mataku. Untung saja toilet sepi. Kembali ke ruangan, aku Cuma mengambil dompet dan segera membeli makan. Aku tetap berusaha tegar dan tersenyum pada orang-orang yang kujumpai dalam perjalanan membeli makan. Kembali ke ruangan, ternyata aku tidak bisa berbohong pada perasaanku. Tangisku tertumpah di ruangan. Untung ruangan kantor benar-benar sepi. Aku bisa puas menangis di pojokan sambil makan dan chatting dengan teman di lain kota.

Aneh..benar-benar aneh. Aku merasa seperti orang gila. Aku sudah tidak tahan tapi aku memang bukan orang yang cukup terbuka dengan semua perasaanku. Aku menunggu respon seorang sahabat yang sudah sejak tadi aku telpon-telpon. Untung satu jam kemudian dia merespon temanku dan aku bercerita tentang kabar siang itu. Sayang aku tidak bisa langsung ketemu dengan sahabat karena harus segera pulang ke Semarang.

Pulang ke Semarang bukan berarti aku bisa lebih terbuka pada orang tuaku. Entah kenapa belakangan ini aku jadi pribadi yang introvert. Apalagi ibu yang bisa menjadi pendengar yang baik sedang ada di luar Semarang. Bicara dengan bapak secara pribadi. Huahaha…entah kenapa aku seperti tercekat. Rupanya bapak menangkap kegelisahan di wajahku dan berulang kali menanyakan kabarku. Dan aku hanya memberikan informasi-informasi singkat sambil menutupi apa yang sebenarnya sedang berkecamuk dalam diriku.

Aku berusaha bersenang-senang di Semarang. Meski tidak dengan bertemu teman-teman lamaku. Aku mencoba menikmati berbagai makanan yang ditawarkan bapak. Duh…rasanya…masih sukar menerima kenyataan itu. Dan minggu malam aku balik lagi ke Jakarta tanpa membawa kelegaan. Bahkan dengan teman perjalananku yang sudah aku kenal baik, tidak kuasa untuk menceritakan kegelisahan yang kualami.

Kembali ke Jakarta, kembali pada kesibukan di kantor menjelang Pilkada Jawa Timur. Aku berusaha berkonsentrasi pada pekerjaan itu sekaligus untuk mengalihkan kegalauanku. Pada setiap orang aku berusaha menampakkan kecerianku. Padahal di dalam hati, rasanya ingin menangis terus.

Untung sebelum aku berangkat ke Jawa Timur, sempat bertemu dengan sahabatku. Bertemu dengan dia di sebuah kedai kopi kecil di daerah Pejompongan membuatku sedikit lega. Sambil menahan butiran-butiran air mata yang keluar. Toh aku gak perlu malu-malu di hadapan sahabat. Lega bercerita dan berusaha menjernihkan kabar yang aku terima. Aku berkesimpulan bahwa aku memang harus menerima kenyataan tersebut. Dan sahabatku mendukungku 100% meski dia mengeluh akan kehilangan teman nongkrong di kedai kopi.

Beberapa bulan yang lalu aku sudah pernah berdiskusi dengan bapak dan ibu menerima kabar tersebut. Intinya aku harus rela untuk belajar lagi mencari “tempurung kelapa” yang baru. Kata ibu,”Kamu tidak akan bisa tinggal dalam “tempurung kelapa” yang sama selama bertahun-tahun.” Aku sempat merengut ketika ibu berkata hal tersebut. Tapi seperti biasa ibu Cuma mendiamkan aku dan terus berkata panjang lebar. Ibu sudah mengerti kebiasaanku bahwa kalau aku sudah merengut biasanya aku akan menerima omelan panjang lebar ibu.

Sepulang dari nongkrong di kedai kopi, aku mengirim sms pada teman karena sore harinya dia menanyakan kebenaran kabar tersebut padaku. Saat menjawab pertanyaannya aku tidak bisa berkata jujur karena situasi sedang ramai. Karena smsku, seorang teman itu menelponku. Akhirnya kita berbincang-bincang cukup lama dan menghiburku. Diluar dugaanku dia sangat mendukung
ku untuk mencari “tempurung kelapa” baru. ”Terima kasih ya mas atas dukungannya,” kataku dalam hati. Aku ngobrol dengan dia lewat telepon sambil menahan nangis. Sepertinya dia tahu dengan nada pembicaraanku dan dia bicara,”Udahlah Put. Kamu harus berani. Kamu pasti bisa. Kalo ada apa-apa kamu bisa menelpon atau meng-sms aku kapan saja.” Perkataan dia sedikit banyak memberi kelegaan padaku. Setelah telpon ditutup aku menangis sekeras-kerasnya. Hik..hik…

Pekerjaan pilkada di Malang sedikit banyak menyita kegiatanku dan bisa sarana pelampiasan sementara. Seorang teman yang berbeda lagi-lagi menelponku menanyakan kebenaran kabar tersebut. Hik.hik…lagi-lagi tangisku pecah dalam pembicaraan lewat telepon. Sekali lagi aku mendapat dukungan positif yang membuatku tidak ragu-ragu untuk mencari “tempurung kelapa” baru.

Sebenarnya jumat siang itu aku bisa saja menolak. Toh aku punya hak untuk menolak. Beberapa orang saja bisa menolak kabar itu. Entah kenapa aku tidak kuasa menolak. Apakah tanpa sadar aku sudah menuruti nasihat ibu beberapa bulan lalu? Atau aku memang orang yang tidak bisa berkata ”tidak”. Oh kalau ternyata pilihan yang kedua…betapa mudahnya orang akan memanfaatkan aku.

Setelah merenungkan beberapa lama aku bisa menjawabnya. Aku berusaha untuk menurut nasihat ibu supaya aku belajar mencari “tempurung kelapa” baru. Aku percaya perkataan seorang ibu itu hampir 100% benar. Cuma mengapa kabar itu datang di saat aku sedang banyak masalah. Masalah cinta, proyek yang tidak kunjung selesai, kepindahan teman dekat ke kota lain, dan lain-lain. Berbagai macam kabar datang bertubi-tubi membuatku shock, terbengong, terhantam.

Hhmmm aku memang tidak boleh terlarut-larut pada kemarahan, kekecewaan, kesedihan. Aku harus bangkit menghadapi semua kenyataan yang ada di depan mata. Beruntung Tuhan sudah memberiku proses pembelajaran bertubi-tubi yang semakin membuatku makin dewasa. Sahabat-sahabat, teman dekat berlomba-lomba memberikan dukungan dan aura positif. Yah…karena aku sudah memutuskan untuk mencari “tempurung kelapa” baru, aku harus berusaha keras untuk mencari, memperbaiki, merenovasi, kalau perlu membangunnya lagi. Semua niat baik pasti hasilnya akan baik.

Terima kasih untuk mas-mas, mbak-mbak, bapak ibu yang terus memberikan dukungan positif padaku. Maafkan jika aku harus berdiam diri beberapa saat. Aku tidak boleh patah semangat, harus berusaha keras mencari lagi tempurung-”tempurung kelapa” berikutnya. Aku harus belajar keluar dari zona kenyamanan “tempurung kelapa”ku yang lama.

Hhhm mau keluar dari ‘tempurung kelapa’ kok rasanya mau meninggalkan dunia ini. Aku benci dengan kata perpisahan.

NB: Buat kakakku yang nun jauh disana. Terima kasih untuk semuanya. Salam kangen…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s