Malang I love u

“Put kamu akan ditempatkan di korwil Malang”…

Wow…senang rasanya. Ingatanku kembali melayang ke tahun 1999. Kembali ke Malang, serasa nostalgia saat kuliah. Tahun 1999, bersama teman-teman jurusan planologi UNDIP mengadakan KKL di kawasan Malang dan sekitarnya. Saat itu, tema KKL (kuliah kerja lapangan) yang diusung adalah pariwisata. So pasti, tujuan utamanya adalah obyek2 wisata. Seperti Taman Safari Prigen, Gunung Bromo, Kusuma Agro Wisata apel di Kota Batu, Selain obyek wisata, acara resminya kami melakukan presentasi di Bappeda prov Jawa Timur, Kota Malang, dan anjangsana ke jurusan planologi Brawijaya.

Nah sekarang, saat ditugaskan lagi ke Kota Malang, ingin rasanya napak tilas jalur KKL tersebut. Beberapa tempat persinggahan di kota Malang sudah berhasil dijelajahi kembali. Seperti kampus Brawijaya dan hotel Mutiara tempat kami dulu menginap. Tapi obyek2 wisatanya blum berhasil ditelusuri kembali karena jadwal pekerjaan yang cukup padat.

Entah mengapa setelah beberapa hari di Malang, aku langsung jatuh cinta dengan kota ini. Kotanya yang dingin, banyak ruang terbuka hijaunya, langsung mengena di hati. Penataan kotanya mirip Bandung, tapi masih terkendali di Malang. Jalan-jalannya juga tidak padat, kecuali di kawasan kampus. Zoning pemanfaatan lahannya dikelompokkan menurut fungsi lahan sejenis. Seperti kawasan kampus, kawasan permukiman kelas atas, permukiman kelas bawah, komersial.

Sayang, keasyikanku mengagumi Malang sedikit terganggu oleh beberapa bangunan fisik modern yang lokasinya menyalahi Rencana Tata Ruang Wilayah. Bangunan mal dengan angkuhnya berdiri tepat di tengah-tengah kawasan kampus. Ya ampun…benar-benar ‘nyepetke mripat” (mengganggu pemandangan). Kawasan pendidikan yang seharusnya tempat para mahasiswa menimba ilmu dengan serius, harus diganggu dengan kehadiran mall. Malang Town Square atau disingkat Matos adalah nama mall tersebut.

Meski sebel, tergoda juga untuk memasuki mall tersebut. Malam minggu, Matos sangat ramai. Mayoritas pengunjungnya adalah mahasiswa. Dengan adanya mall, mahasiswa Malang seperti dipaksa untuk mengikuti arus modernisasi. Sedikit demi sedikit budaya cangkrukan (kumpul untuk diskusi bersama) di pinggir-pinggir jalan di kawasan pendidikan tersebut luntur. Mereka memilih untuk main ke mall, bahkan nongkrong di kafe-kafe yang harganya relatif mahal untuk mahasiswa.

Yah bagaimana lagi. Arus modernitas memang tidak bisa dihindari. Aku berharap semoga Malang yang tenang, dingin, tidak berubah seperti Bandung. Smoga juga aku bisa napak tilas ke obyek-obyek wisata saat KKL 1999 lalu. Someday, aku ingin tinggal di Malang. Hihihihihi…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s