Ulangan Penyelamat Pertemanan

Email Ard di milis LC’96 mengingatkanku akan peristiwa 13 tahun yang lalu. Sontak, ingatanku melayang pada peristiwa-peristiwa lucu dan konyol saat aku duduk di bangku SMP. Seketika itu juga timbul rasa kangen dengan Ard. Padahal sebelumnya, aku sudah melupakan Ard dengan segala kenangan indah nan konyol. Ah…aku memang terlalu melankolis (boleh kan sekali-kali aku bergaya melankolis untuk menceritakan pengalaman lucu dan konyol ini)



Kelas 1 SMP
Sungguh merupakan suatu kesalahan aku menceritakan rahasia pribadiku ke teman-teman cewek Ii yg cerewet-cerewet. Rahasia yang sudah aku pendam sendiri bertahun-tahun, akhirnya harus keluar di hadapan Tanti, Dewi, (siapa lagi ya, aku lupa), hanya karena aku tidak tahan untuk menyimpannya sendiri. Hahahaha…kalau ingat itu aku jadi geli sendiri. Saat itu memang cinta monyet sedang menyelimuti kelas Ii. Hampir semua orang sudah berhasil diinterogasi cinta monyetnya. Tak terkecuali aku.


Setelah aku menceritakan cinta monyetku, mereka semua kaget dan tidak menyangka. Segera saja mereka menyebarkan cinta monyetku ke seluruh sekolah. Entah kenapa, mungkin kaget karena aku yang pendiam ini, ternyata juga punya cinta monyet. Mungkin juga maksud mereka baik, supaya cinta monyetku berkembang jadi cinta gorilla. Huahaha….


Tapi tidak bagiku. Karena cinta monyetku sudah tersebar, bahkan sampai ke telinga si Ard, cinta monyetku. Entah mengapa, dia langsung mendiamkanku dan tidak menyapaku setelah peristiwa itu. Yah aku maklum, saat itu kita semua masih ABG. Aku sangat menyesal, padahal sebelumnya aku dan Ard berteman dengan baik, bahkan sangat akrab. Setelah itu hubunganku dengannya sangat terbatas. Aku jadi susah curi-curi pandang ke dia. Hancur hatiku…


Putusnya hubungan pertemanan kami berlangsung cukup lama, sampai kelas III SMP. Tidak seburuk yang dibayangkan, kita Cuma hanya bicara jika perlu saja. Namun, cukup mengganggu pertemanan kita

Kelas III



Di SMP Domsav, pembagian kelas tiap tingkatan kelas tidak pernah diacak. Jadi jika dulu aku dan Ard pernah sekelas waktu kelas 1 SMP, tingkatan-tingkatan berikutnya aku tetap sekelas.







Saat kelas III, hubungan kami tetap kaku. Tapi sudah dibilang lumayan cair. Aku kan tidak mau mengorbankan pertemanan kita selama 7 tahun. Dan aku masih mencintainya (aih….).


Tapi justru di kelas III ini, hubungan kita mencair hanya karena ulangan PSPB. Hahahaha…ulangan penyelamat pertemanan.


Saat itu, Pak Suparyanto, wali kelas III i punya ide untuk mendamaikan beberapa teman-teman cowok dan cewek yang bertengkar dan berselisih pendapat. Caranya, dengan sengaja dia menjejerkan beberapa pasang murid III i yang punya masalah satu sama lain selama satu minggu. Jika satu minggu tidak ada perdamaian satu sama lain, sampai lulus kelas III akan tetap duduk sebangku.


Entah kenapa, pasangan-pasangan tersebut sangat banyak. Jumlahnya hampir separuh kelas. Tanggapan teman-teman pun agak tidak suka dengan perintah Pak Suparyanto. Tapi bagaimana lagi… demi kekompakan kelas IIIi. Oh ya, ada satu hal yang terlupa, Pak Par (panggilan akrab utk Bp Suparyanto), mengetahui adanya pasangan-pasangan yang berselisih pendapat dari Sony Cuplik. Mungkin teman-teman ada yang dendam dengan Cuplik ya.


Bagiku, tidak ada yang istimewa dengan perintah pak Suparyanto. Di sisi lain aku merasa senang karena bisa dekat dan berdamai dengan Ard. Tapi di sisi lainnya aku takut merasa canggung. Bahkan ada pikiran nakal, bahwa aku tidak usah menunjukkan perdamaian dengan Ard supaya bisa terus duduk sebangku sampai akhir kelas III. (hehehehe).


Minggu yang ditunggu-tunggu tiba. Aku duduk bersebelahan dengan Ard di lajur dekat meja guru. Di depanku duduk pasangan Gatot dan Maurin yang duduk berselisih pendapat. Sedangkan di belakangku, duduk pasangan Kurniati dan Dedi. Kalau pasangan yang satu ini tidak ada perselisihan pendapat, cuma salah satu diantara mereka naksir.


Selama tiga hari, suasanya benar-benar tidak enak. Pandanganku hanya bisa ke depan dan samping kanan karena Ard duduk di samping kiri. Benar-benar suasana yang lucu karena antara aku dan Ard rasanya duduk bersebelahan dengan makhluk yang menjijikkan. Aku Cuma bisa berkomunikasi dengan Gatot, Maurin, Dedi dan Kur. Sebenarnya aku berusaha untuk membuka komunikasi dengan Ard. Entah kenapa, mulut ini rasanya terkunci.

Ulangan PSPB, Ulangan Penyelamat Pertemanan
Kalau tidak salah, hari itu hari Kamis. Seingatku, hari itu ada 2 ulangan : sejarah dan PSPB. Dua-duanya membutuhkan hapalan yang kuat. Tentu saja banyak diantara kami yang tidak sanggup menghapal kedua-duanya. Juga termasuk diriku dan Ard. Meski tidak sanggup belajar kedua-duanya dalam waktu singkat, aku punya cara lain. Dua hari sebelum hari ulangan, aku sudah nyicil belajar PSPB. Kebetulan, aku dikaruniai Tuhan ingatan yang kuat.









Mungkin lain bagi Ard yang lebih menyukai pelajaran hitung-menghitung daripada menghapal. Saat itu dia tidak siap dengan ulangan PSPB. Aku pun bisa membaca gelagatnya dari sikapnya yang terus gelisah. Tapi selama dia tidak meminta bantuan, aku akan tetap diam.


Tak kusangka tak kuduga, saat guru PSPB sudah membacakan soal PSPB ke dua, ada yang menyenggol-nyenggol kakiku. Kaget… Selanjutnya dia berbisik-bisik minta dicontekkin seluruh ulangan PSPB. Alamak…setelah tiga hari, baru kali ini dia ngajak ngomong. Senangnya hatiku. Dengan senang hati pula aku membagi jawabanku ke dia. Bahkan seluruh jawaban ulangan. Aku memang senang berbagi kepada siapapun, bukan hanya ke Ard. Untung saja, guru PSPB gampang dikibuli.


Setelah kertas ulangan dikumpulkan, dia mengucapkan terima kasih. Dan terbukalah perdamaian di antara kita. ”Thanks God…”. Jam-jam pelajaran selanjutnya, hubungan kita sudah mulai cair. Akhirnya contek-contekkan berlangsung sampai ulangan berikutnya. Saat aku tidak bisa menebak jawaban, dia membantuku. Begitu pula sebaliknya. Sayang aku lupa berapa nilai yang kudapat saat itu.


Hari berikutnya, dilalui dengan sangat indah (maaf tidak memakai EYD). Aku hanya ingin menggambarkan suasana perdamaian yang sangat indah. Aku pun tidak canggung lagi untuk mencuri-curi pandang ke arahnya.
Namun, dibalik perdamaian itu aku sedih. Berarti minggu depan aku bakal tidak duduk sebangku lagi dengan Ard.





Hari Jumat, Pak Par menanyakan kepada pasangan teman-teman yang berselisih pendapat, termasuk dengan diriku dan Ard. Secara spontan, aku dan Ard berjabat tangan erat di hadapan pak Par dan teman-teman. Namun, tidak semua teman-teman bernasib sama, masih ada beberapa pasangan yang belum bisa menunjukkan perdamaian duduk sebangku selama berminggu-minggu.

Ah….itu kenangan cinta monyet yang tidak kulupakan. Meski penuh kekonyolan, tapi aku akan tetap menyimpannya di dalam hati. Seperti aku tetap menyimpan cintaku utk Ard di lubuk hatiku yang paling dalam.







NB: Ini sebenarnya postingan lama. Jadi teringat lagi setelah ngobrol dengan seorang teman.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s