Terpaksa Kucium Aspal Basah Itu

Lokasi Perempatan Carrefour Permata Hijau

“Wah kok turun hujan neh. Masa ke Gereja berbasah-basah. Ah aku mau pake jas hujan di depan situ. We lha kok pinggir jalan sudah penuh motor. Gak jadi aja ah”, kataku dalam hati. Aku masih sibuk berpikir apakah akan berhenti atau lanjut, tiba-tiba dari sisi kanan sebuah sepeda motor yang dikendarai cowok dan cewek menyalip motorku yang sedang melaju pelan.

Tiba-tiba ekor mata kananku menangkap sekelebatan pandangan tali tas cewek tersebut nyantol di stang kanan. Aku kaget. Dalam hitungan detik, belum sempat kulepaskan tali tas itu, motorku sudah terseret oleh motor yang ditumpangi cewek tersebut. Aku sudah tidak dapat mengendalikan kendaraanku. Aku pasrah…(Cuma bisa menyerahkan diriku pada Tuhan) dan berpikir pasti akan jatuh karena sudah tidak mungkin aku mempertahankan diri.

Benar, aku terjatuh ke sisi kiri motor. Sebenarnya tidak tepat di sisi kiri karena aku sudah kadung terlempar ke aspal. Aku rasakan badanku menyentuh aspal. Bahkan kepalaku. Helm cakil masih menempel di kepalaku. Aku merasakan benturan yang menekan rahang bawahku. Bibir bawahku terasa tebal karena tertekan gigiku.

Akhirnya…tanpa aku sadari kucium aspal basah itu dengan perantaraan helm cakil. Beberapa detik kemudian, aku tersadar. Motorku 50 cm di belakangku. Aku bangkit sendiri. Aku lihat ada bapak-bapak yang meminggirkan motorku. Motor yang tadi menarik stang motorku juga berhenti. Cewek tersebut turun. Tanpa kusangka dia marah-marah dan mengomel,”Ibu ini gimana, stang kok nyantol ke tas saya.” Aku jawab,”Lho ngapain saya nyantol-nyantolin stang motor. Tas mbaknya yang nyantol ke stang saya.” Aku sudah malas berdebat, aku dengar cewek itu masih ngomel-ngomel panjang lebar. Cowok yang membonceng pun tidak turun dari motornya. Dan mereka pun pergi.

Sebenarnya aku sudah ada firasat buruk saat akan pergi ke Gereja sore itu. Aku sudah berniat tidak naik motor karena mendung tebal. Tapi mengingat waktu terbatas aku mengurungkannya. Dan terjadilah peristiwa itu.

Kembali ke cerita semula.

Huah rasanya deg-degan, syok, pingin nangis. Tapi gak bisalah, aku menangis pun tidak bisa menyelesaikan masalah. Aku cek motor, agak susah distater. Gawat. Gimana neh? Aku lihat penutup stang agak bergeser dari tempatnya. Orang-orang disitu menyarankanku untuk memukul penutup stang tersebut. Aku berhasil menemukan paving block utuh. Gila..berat banget. Aku agak kesulitan mengangkatnya, apalagi memukulkan ke stang motor.

Aku hanya bisa mengeluh keras. Aku mulai merasakan tangan kiriku sakit. Astaga, telapak kiriku bengkak dan lebam membiru. ”Wah kali ini aku tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Aku harus menelpon salah seorang temanku”.

Tanganku sudah gemetar memegang HP.Aku sempat kesulitan memencet nomer karena ’ndredeg’. Orang pertama yang kuingat adalah Soni. Dia adalah sahabatku, kebetulan rumahnya gak begitu jauh dari kontrakanku. Pasti dia akan cepat datang. Yah tapi lagi-lagi mentari gak bisa diajak kerjasama. Susah banget menelpon dia. Rasanya hopeless deh.

Akhirnya aku menelpon orang kedua. Dia adalah Tanti. Sahabat kecilku itu rumahnya juga gak jauh dari rumahku. Telpon berhasil nyambung tapi dia masih di gambir mengantarkan ibu dan kakaknya. Huah,semakin panik diriku.

Aku sudah gak kuasa membendung air mataku. Aku teringat pada Diman. Dia teman kantor yang kost di belakang kantor. Aku pikir dia pasti bisa cepat menjangkau lokasiku. ”Dim,loe dimana? Aku habis jatuh neh,” sambil menahan tangis. Ternyata saat itu Diman ada di lokasi yang jauh dari tempatku. Cepat aku tutup telpon karena ingin menelpon teman yang lain.

Teman ke-4 harapanku adalah Sugito. Dia sedang ada di mess kantor yang lokasinya juga gak jauh dari tempat aku jatuh. Sugito berhasil aku dihubungi. Tapi dia sedang ada di Cilegon.

Aduh …gimana neh. Alternatif terakhir adalah bapak kostku. Dia ada di rumah. Akhirnya aku berhasil menghubungi dan bersedia datang.

Orang-orang yang berteduh mulai meninggalkan tempat karena hujan mereda. Tinggal aku sendiri dengan motorku yang ada di pinggir jalan. Aku berusaha meminggirkan ke tempat yang aman. Akan tetapi tangan kiriku cukup sakit untuk digerakkan. Ya sudahlah…aku hanya bisa menunggu.

Tiba-tiba telponku berdering.Soni menelpon balik.Thanks God. Akhirnya. Sambil terbata-bata aku menerangkan kejadian secara singkat dan posisiku. Aku minta dia segera datang. Aku sudah cukup panik.

Tak beberapa lama, bapak kostku datang. Dia meminggirkan motorku ke tempat yang aman dan memeriksa kondisi motorku. Ternyata masih bisa dinaiki dan distarter. Tapi lagi-lagi aku gak bisa mengendarai karena tangan kiriku yang bengkak.

Kemudian soni datang. Lega rasanya. Motorku dikendarai Soni, dibawa pulang ke rumah. Bapak kost mengiringi dari belakang. Motor Soni dan aku ditinggal di tempat kejadian.

Soni balik lagi. Soni bersikeras mengantarku ke RS karena dia berasumsi telapak kiriku retak. Wah bikin deg-degan aja. Tapi kuturuti aja kemauannya. Eh lucunya sampai di RS Medika Permata Hijau, dia membalikkan motornya. ”Put, jangan di sini deh. Ada klinik dekat sini gak. Dah lama, mahal pula”, katanya. We lha..terserah deh. Aku dah malas mikir.

Akhirnya aku dan dia pergi ke klinik 24 jam depan kantor KONTAN. Yah masih nunggu lama karena banyak pasien. Tapi setidaknya aku sudah lebih tenang. Tanti akhirnya datang juga setelah mengantarkan ibunya ke Gambir. Aku minta Soni membelikanku minuman karena aku benar-benar haus.

Seteleh menghadap dokter, beliau mengeluarkan resep tiga buah. Satu salep, dan dua obat anti radang dan sakit. Dokter meyakinkan itu hanya terkilir, bukan bengkak karena aku masih bisa menggerakkan jari-jariku.

Singkat cerita aku balik ke kontrakan diantar soni dan tanti. Tapi aku masih kesulitan memakai helm sendiri.

Sampai di rumah, ibu kost menyarankan untuk langsung dipijat. Aduh jadi ngeri karena pasti sakit. Aku jadi teringat saat kuliah dulu, terjatuh dari tangga di rumah, kaki terkilir dan harus dipijat pula. Tapi aku harus melawan rasa takut itu, biar cepat sembuh.

Tukang pijat datang dan memulai memijat seluruh badan. Ternyata memar gak hanya di tangan. Di lengan kiri, pantat kiri, bahkan lutut kanan ikut memar merah tapi gak terkilir. Saat tukang pijat menyentuh jemari kiriku, aku sudah mulai meneteskan air mata…di samping sakit aku juga ingin menumpahkah seluruh air mataku biar lega. Ibu tukang pijat sampai tertawa melihat aku menangis terisak-isak gak karuan.

Satu jam kemudian pijat memijat selesai. Tanti mengajakku makan bakso. Hhhmm meski gak terasa lapar, tapi kehadiran Tanti memberikan kelegaan padaku.

Sekali lagi ..Terima kasih Tuhan. Aku masih bersyukur tidak terluka parah, motor tidak rusak, dan ditema
ni sahabat-sahabatku Soni dan Tanti.

Thanks for all.

NB: Bagi cewek-cewek kalo naik motor atau membonceng motor, saat membawa tas jangan sampai membahayakan diri sendiri dan pengendara lain. Gantungkan tas pada bagian tubuh yang aman dan terlindung. Supaya tidak dicopet dan nyantol di motor orang lain.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s