Satpam Galak di Pusat Perbelanjaan

“Pak…Pak…Pak…Pak…”, teriakan kencang satpam Plaza Senayan memaksaku untuk menghentikan motorku. Saat itu dengan percaya diri aku membelokkan motorku ke kanan ke arah gedung parkir Senayan, setelah melewati kompleks perkantoran Plaza Senayan. Aku yakin seratus persen, pintu masuk gedung parkir tidak berubah.

Namun, yang utama membuatku berhenti adalah kelebatan bayangan satpam yang membawa lampu senter mengejar motorku dengan semangat. Aku pikir, “Gila neh satpam teriak-teriak gak jelas. Siapa sih yang diteriakin?” . Motorku terhenti. Satpam yang terengah-engah dengan tampang sok galak menghampiriku. “Pak, pintu masuk motor gak disini.”

“Glek…Pak….aku dipanggil pak”, omelku dalam hati. Pantas tadi aku gak tidak menghentikan motorku karena kata yang kudengar adalah “pak”. Kubuka tutup helm dan kukeluarkan suaraku dengan setengah berteriak karena jengkel. ”Lho emangnya sekarang parkir motor sudah pindah ya? Trus saya harus belok dimana?”

Satpam kaget mendengar suaraku. Pasti si satpam yang sok galak kaget, tiba-tiba bapak-bapak yang dikejar dan diteriakinya adalah seorang perempuan. Tapi…masih dengan gaya sok berwibawa dia menjawab,”Lurus saja, nanti belok kanan. Ada petunjuknya.” Kali ini aku tidak mendengar embel-embel sapaan pak atau bu.

Sambil memutar motor, aku ngomel dalam hati. ”Aduh…lagi-lagi parkir motor terdeskriminasi. Pindah kemana lagi seh?” . Aku mencoba menelusuri jalan. Tapi aku belum juga menemukan papan petunjuk parkir motor. Aku hampir saja mengurungkan niatku untuk mengunjungi Plaza Senayan.

Akhirnya, hampir mendekati Senayan Trade Centre aku melihat papan petunjuk parkir motor di sisi kanan. Ragu-ragu aku berbelok kanan. ”Wooo… ternyata jalan mulai menurun menuju basement. Setelah sampai basement aku baru menyadari bahwa parkir motor tidak berubah tapi pintu masuknya yang berubah.

Pengalaman salah masuk gedung parkir dan dimarahi satpam bukan kali pertama terjadi. Tak terhitung aku salah berbelok di gedung parkir beberapa Pusat Perbelanjaan. Sudah kebal dengan omelan-omelan satpam galak.

Beberapa tahun yang lalu, pertama kali aku berkunjung ke Cilandak Town Square (Citos). Dari pinggir jalan besar aku melihat papan petunjuk pintu masuk ke tempat parkir. Aku belok ke kiri di belakang deretan mobil-mobil. Aku yakin berada pada posisi yang tepat. Namun tiba-tiba motorku terhenti oleh satpam yang membawa pentungan. Hampir saja aku terkena pentungan satpam yang diacung-acungkan ke arahku. ”Motor gak boleh masuk ke sini. Harus lewat sana sambil menunjuk pintu masuk di ujung (tangannya menunjuk ke arah pojokan gedung)”, kata satpam dengan suara keras.

Aku buka penutup helmku karena aku gak melihat pintu masuk yang dimaksudkan satpam. ”Di mana sih pak? Kok gak ada petunjuknya. Kan tadi juga gak ada larangan motor masuk sini”. Aku berusaha merayu pak satpam karena aku malas memutar dan mencari pintu masuk motor. Malas karena beberapa meter sudah terlihat gedung parkir.

Tapi rayuanku gagal. Sambil tetap mengacung-ngacungkan pentungan, di berteriak keras. ”Gak boleh, harus tetap masuk dari arah sana. Coba keluar lagi dan ikuti petunjuk”. Huh…sombong banget sih satpam ini. Dia juga malas berjalan ke arah pintu masuk motor yang ditunjuk. Hanya sekedar menunjuk.

Sambil mengomel aku menuruti perintah satpam galak itu. Motor aku putar ke arah aku masuk dan keluar lagi ke arah jalan raya. Aku coba telusuri jalan tersebut sampai pagar kompleks Citos berakhir. Akhirnya aku menemukan pintu masuk motor yang nyempil di pojokan. ”Alamak…kecil banget…Gak kelihatan pula” .

Pengalaman lain kena semprot satpam galak juga menimpaku di supermarket kecil di dekat rumah. Siang itu, bersama seorang teman dari Lampung aku mengunjungi komplek apartemen dan supermaket Lion Superindo di Pos Pengumben Jakarta Barat. Tujuanku bukan untuk berbelanja tetapi untuk potong rambut di kompleks apartemen tersebut.

Saat hendak memasuki pintu masuk kompleks, motorku berada di belakang sebuah mobil box. Otomatis pandanganku terhalang oleh mobil box tersebut sehingga tidak bisa melihat jalur-jalur masuk ke tempat parkir. Aku agak lupa jalur masuk di kompleks tersebut, apakah dibedakan antara mobil dan motor.

Setelah mobil box melaju, aku segera tancap gas karena posisi motorku tepat di tanjakan. Seingatku, pintu masuk mobil dan motor dipisahkan. Pintu masuk tersebut lokasinya setelah pintu masuk mobil. Namun saat hendak tancap gas, laju motorku terhenti oleh portal yang tiba-tiba saja menimpa kepalaku. Meski memakai helm, tetap saja terasa sakit karena portal itu otomatis dan cukup kencang menimpa helmku. Petugas di loket pintu masuk yang melihatku meringis meminta maaf karena kecerobohannya. Aku menjawab.”gak papa, mbak. Aku yang salah. Trus dimana pintu masuk motor?” Petugas perempuan tersebut belum selesai menjawah pertanyaanku, tiba-tiba datang satpam sambil berteriak-teriak.

”Hoi…mau nyelonong aja. Ambil tiket dulu terus bayar”. Teriakan tersebut sangat kencang, seolah-olah aku ini pencuri. Sontak aku langsung naik pitam dan ikut berteriak. ”Iya pak! Saya tahu. Ini juga mau ambil tiket. Jangan teriak-teriak gitu dong, pak. Kepala saya sakit terkena portal. Saya juga tahu saya salah. Tiket juga akan saya ambil kok. Hampir saja aku pukul satpam itu dengan helmku karena jengkel. Untung aku masih bisa menahan diri karena memang gak mau ribut dengan satpam gila itu.

Mbak petugas tiket masih prihatin denganku. Saat aku mengambil tiket dia kembali meminta maaf dan menanyakan kondisiku. Aku hanya tersenyum meringis. Dan yang lebih menjengkelkan satpam galak itu tetap menganggapku sebagai pencuri karena pandangan bengisnya tidak lepas dariku saat aku memarkir motor.

Temanku mencoba menenangkanku. Tapi tetap saja emosiku tidak surut. Kepala masih senut-senut, hawa panas, dan pandangan satpam bengis itu tetap tidak lepas dari bayanganku. Beruntung aku mengurungkan niatku potong rambut di salon kompleks apartemen itu. Sehingga lambat laun emosiku mereda karena sudah tidak terpantau lagi oleh satpam bengis itu. Karena pengalaman terkena portal parkir, aku tidak pernah lagi mengunjungi supermarket Lion Superindo meski jaraknya relatif dekat dari rumah.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s