Sahabat, Pacar, atau TTM?

Beberapa hari yang lalu, aku membaca sebuah postingan di sebuah milis mengenai “Sahabat, Pacar, atau Teman Tapi Mesra (TTM)”. Sebenarnya itu topik yang basi dan sudah sering dibahas oleh berbagai media gaya hidup. Akan tetapi tergelitik juga untuk membahasnya, sekaligus membagikan pengalaman pribadiku.

Menurutku tiga kata tersebut pengertiannya sangat berbeda. Perbedaannya pada adanya ikatan atau tidak. Kalau persahabatan, menurutku adalah pertemanan antara sesama jenis atau lawan jenis yang tingkatannya lebih tinggi dari sekedar teman. Hubungan persahabatan lebih intens dari pertemanan. Hampir mirip dengan hubungan persaudaraan. Terkadang, ada orang yang bersahabat sangat dekat sampai kemana-mana bareng. Tapi ada juga yang bersahabat dengan hati.

Pacaran, tingkatannya lebih dekat lagi dengan persahabatan. Beda tipis dengan persahabatan tetapi ada unsur ikatan yang tidak resmi (legal). Nah kalau yang terakhir, TTM. Aku agak bingung mendefinisikannya. Menurutku TTM itu identik dengan persahabatan. Tapi mungkin juga ada orang yang beranggapan berbeda.

Hhmm soal persahabatan. Selama hampir 30 tahun, aku mempunyai banyak sahabat. Hehehe. Gak sampai 100 lah. Seingatku dari aku kecil sampai besar, aku punya 10 sahabat baik cewek maupun cewek. Tapi aku memang tidak pernah meresmikan hubungan persahabatan kami. Cuma karena teman sekelas, pulang dan berangkat sekolah sering bareng karena rumah kami berdekatan. Jadilah kami berdua dekat dan gak sadar bersahabat. Artinya aku mempercayai dia untuk mendengarkan semua keluh kesahku. Begitu sebaliknya. Tapi setelah berbeda sekolah, hubungan persahabatan kami renggang. Jadi ingat dengan Nunik. Bagaimana kabarnya ya?

Sahabat-sahabatku yang lain terbentuk karena kami bertiga selalu satu sekolah dari TK-SMA. Meski setelah kuliah, Perguruan Tinggi yang kami pilih berbeda, terpaksa hubungan persahabatan kami sempat renggang. Akan tetapi terkadang satu waktu, kami bertiga menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama. Sekarang aku dan satu sahabatku tinggal dan bekerja di Jakarta. Sedangkan satu sahabatku masih tertinggal di Semarang sampai sekarang.

Setelah sahabat-sahabat cewek, menginjak bangku kuliah, aku mempunyai sahabat cowok. Kali ini menurutku, persahabatan kamu dibilang cukup unik. Sahabatku itu, sebut saja Mr O ’melamarku” sebagai sahabat seperti ’melamarku” menjadi pacar. Padahal sebenarnya aku agak tidak suka dengan peresmian sebuah persahabatan seperti itu. Lucunya, dia ’melamar’ku menjadi sahabat saat antri akan asistensi dosen. Dan aku menerimanya. Toh, maksudnya baik. Meski sebelumnya aku dan dia selalu bertengkar dan saling cela kalau ketemu. Akhirnya kami berdua resmi bersahabat. Kemana-mana kita berdua selalu bareng. Saat kuliah, mengerjakan tugas, ke perpustakaan. Tapi karena namanya persahabatan, aku berkomitmen untuk tidak meningkatkan hubungan itu lebih jauh. Dan hubungan kita Cuma hubungan di dalam lingkup perkuliahan. Meski pada akhirnya, diantara kamu mulai bercerita soal-soal pribadi.

Kami tetap bersahabat sampai lulus kuliah. Persahabatan itu berlanjut sampai saat aku sudah bekerja di Jakarta. Di luar waktu kerja, aku dan dia masing sering jalan berdua untuk nonton, makan, ngopi, karaoke, dan diskusi-diskusi kecil. Namun seiring berjalannnya waktu, karena kesibukan kami berdua, hubungan tersebut menjadi renggang. Awalnya sempat sedih karena sebelum hubungan itu merenggang, sedikit ada pertengkaran kecil diantara kami. Dan dia sempat memintaku untuk mencari sahabat lain. Jadi sedih.

Akhirnya aku menemukan sahabat cowok lain. Kali ini tanpa hubungan resmi. Hubungan itu mengalir alami, tulus, tanpa pamrih apapun. Sebenarnya sahabatku yang satu ini, Mr S adalah teman kuliah juga. Kami sama-sama berasal dari Semarang, rumah kami cukup dekat di Semarang, dan belakangan aku baru tahu bahwa kami berdua masih ada hubungan saudara meski jauh. Dengan Mr S, aku lebih terbuka menceritakan masalah-masalah pribadiku. Begitu juga dengan dia. Kami juga saling mendukung dalam pekerjaan. Singkatnya dia selalu ada waktu kubutuhkan. Dan sebaliknya. Di waktu senggang, aku dan dia sering jalan-jalan sekedar untuk makan, nonton, hunting foto atau travelling bareng. Meski sekarang dia sudah menikah, aku masih berusaha untuk menjalin persahabatan dengannya. Huahahaha..gak ada hubungannya ya.

Satu lagi sahabatku yang belum kusebut. Kali ini sih seorang wanita. Persahabatan yang terjalin gak sengaja. Hanya karena sering keluar untuk diskusi tentang pekerjaan sambil ngopi. Akhirnya topik berkembang menjadi hal-hal pribadi. Kebetulan kami berdua memiliki hobi yang sama:
ngopi, makan, jalan-jalan. Klop sudah.

Jadi tidak benar jika ada orang mengatakan persahabatan antar lawan jenis identik dengan pacaran. Atau persahabatan antara cowok-cewek identik dengan TTM. Bagiku ketiganya adalah berbeda.

Terima kasih untuk sahabat-sahabat dan teman-teman dekat yang gak dapat disebut satu-persatu. Cintaku untuk kalian semua.

(Sekali-sekali posting hal yang gak serius. Capek nulis-nulis yang serius terus.Hehehe)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s