Detik…Detik…

Malam tanggal 18 Juni terasa biasa bagiku. Entah mengapa, aku merasa biasa saja melewati jam 00.00. Tidak ada rasa deg-degan, panik, ataupun gembira.

Berbeda halnya dengan 3 minggu lalu, setelah jam jarum pendek melalui jam 12, aku mulai tegang. Aku garuk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Aku bolak balik buku-buku dan kertas-kertas yang berserakan. Sambil ‘menyeruput’ kopi kental manis.

Bagaimana tidak tegang, tugas yang harus dikumpul keesokan harinya belum juga selesai.

Sekarang, setelah semua ketegangan itu berakhir, aku menjadi ilfill terhadap detak lonceng jam 00.00. Tidak ada rasa deg-degan, tegang, was-was. Yang ada hanyalah rasa kantuk. Tetapi bagaimanapun juga aku harus melewatinya untuk menyambut hidup baruku di tahun ke-29. Aku harus meluangkan waktu untuk berdoa mengucap syukur atas berkat Tuhan selama ini. Memohon keselamatan satu tahun ke depan supaya bisa melewatinya dengan lancar. Dan satu hal lagi permohonan khusus kepada Tuhan yang tidak terungkap dengan kata-kata.

Sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu,…….

Oh Tuhan…aku resmi berumur 29 tahun malam ini.

Matur nuwun Gusti…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s