Cacing Juga Manusia

Dilarang protes dengan kalimat diatas sebelum membaca cerita selengkapnya.

Cerita ini berawal dari sebuah mata kuliah Pengembangan Wilayah dan Penataan Ruang sebuah jurusan di Universitas Indonesia. Pagi itu, seorang dosen yang sudah sepuh mengajar mengenai materi Etika Lingkungan. Kuliah yang biasanya selalu ramai oleh diskusi dan perdebatan mendadak hening. Pasalnya, bahasan yang disampaikan pagi itu sangat serius dan filosofis. Semua mahasiswa menyimak dengan serius untuk mengerti bahan yang disampaikan.

Sampailah pada bahasan mengenai bioreginoalisme. Dalam penjelasannya, cabang filsafat ”Deep Ecology” tersebut merupakan suatu ideologi, teori dan pendekatan untuk hidup. Salah satu pokok-pokok bioregionalisme meminta kita menyadari bahwa manusia adalah sekedar satu diantara sekian banyak spesies yang semunya sama pentingnya. Bianpoen, nama dosen tersebut menerangkan, berdasarkan pokok bioregionalisme tersebut, kita tidak boleh ’membunuh semut’, ataupun ’membunuh cacing’, meskipun kadangkala dua makhluk tersebut merugikan kita.

Tiba-tiba, Suwardi, salah satu mahasiswa di kelas tersebut menunjukkan tangannya. Pria yang selalu duduk di depan tersebut bertanya,”Kalau begitu kita harus berprinsip cacing juga manusia ya pak?” Dosen yang tadinya terlihat serius, tertawa terbahak-bahak, bahkan tidak bisa berhenti. Tidak hanya itu, suasanya kelas yang tadinya hening berubah menjadi ramai oleh suara tawa para mahasiswa. Wardi rupanya belum puas dengan pernyataan yang dilontarkan. Kembali dia berucap,”Lho…sebuah lagu bisa menyebut Rocker juga manusia. Mengapa kita tidak bisa menyebut cacing juga manusia?” Rupanya dia hendak menerangkan, pernyataannya yang aneh tersebut hanya untuk mempermudah penyadaran kepada manusia bahwa semua makhluk mempunyai hak hidup yang sama di dunia ini. Manusia sebagai komunitas besar makhluk hidup berkewajiban untuk mengenal dan memelihara spesies-spesies di sekitarnya.

Dosen yang bertubuh kurus hanya bisa tertawa mendengar penjelasan Wardi. Tetapi kemudian dia meluruskan pernyataan Suwardi bahwa Cacing juga manusia tidak bisa digunakan dalam konteks yang umum dan harus hati-hati menggunakan istilah. ”Anda mau disamakan dengan cacing?”, katanya.

Wardi pun seperti biasa tetap pada pendiriannya dan tersenyum kecut. Dasar Wardi, tiada hari tanpa pernyataan aneh yang keluar dari mulutnya. Sejak itu, cowok yang selalu tertidur di depan kelas tersebut mendapat julukan Mr. Cacing.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s