Ada Dangdut di dalam Busway (Koridor Pulogadung-Kalideres)

Bukan pertama kali aku naik bus Trans Jakarta. Tetapi kali ini terasa berbeda dan sempat membuatku jengkel. Pagi itu (31/3), aku dan 8 orang rombongan MOSAIK, ikut mengantri di depan pintu masuk halte busway Jelambar. Halte yang terletak di samping Citraland terlihat sepi dari hari-hari biasanya. Hanya ada sekitar 15 orang termasuk rombonganku. Mungkin karena Sabtu dan masih pukul 7.00 pagi.

Sepuluh menit kemudian Busway warna oranye datang. Pintu dibuka, aku cepat-cepat melangkah karena di belakang masih ada beberapa orang yang harus masuk ke Busway. Begitu masuk dan duduk, tiba-tiba rombongan ribut. ”Wah Alex dan Rudi ketinggalan,” teriak Icha pacar Alex. Padahal busway masih kosong tapi petugas yang ada di pinggir pintu sudah menghalangi Alex dan Rudi. Bahkan Sisca hampir terjepit oleh pintu bis.

Rupanya, menurut cerita Dina temanku, sopir busway langsung menutup pintu bis tanpa melihat kondisi di pintu bis. Begitu duduk, aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan bis ini. Tidak ada suara dari speaker memberi petunjuk mengenai halte-halte tempat bis menurunkan dan menaikkan penumpang. Juga dengan petunjuk yang biasanya tertera di layar TV. Yang ada hanyalah suara musik dangdut yang cukup keras.

Supir busway juga terlihat ugal-ugalan saat membawa bus oranye ini. Terkadang bus melaju kencang tanpa melihat kondisi di sekitarnya. Saat berjumpa dengan busway dari jalur yang berbeda sengaja berhenti dan membunyikan klakson keras-keras. Huah mirip dengan sopir metromini.

Sepanjang perjalanan, aku dan Dina meributkan soal tingkah laku sopir busway ini. Sempat pula terpikir oleh Dina untuk melaporkan tingkah sopir tersebut ke bagian pengaduan busway yang nomernya terpampang di dinding busway. Ah…tapi akhirnya niat itu batal karena merasa tidak ada gunanya melaporkan toh pasti tidak ada perubahan yang terjadi pada pelayanan busway.

Aku bertanya dalam hati, mengapa busway koridor Pulogadung-Kalideres ini, pelayanannya tidak sebaik koridor Blok M-Kota yang sering aku naiki? Adakah perbedaan pelayanannya? Hhhmm pantas saja banyak orang complaint dan protes terhadap pelayanan busway di koridor-koridor yang baru. Jangan-jangan cerita seorang penumpang yang aku baca di situs detik mengenai kesewenang-wenangan petugas busway itu benar.

Jangan-jangan juga aku tidak sedang naik busway ya? Tapi naik metro mini. Busnya kan sama-sama berwarna oranye. Bedanya, di busway ada AC dan suara lembut wanita yang memberi petunjuk halte. Di Metro mini juga ada AC (angin cendela) dan suara musik dangdut yang keras. Hehehehe….

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s