In Memoriam Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, S.H.,M.L

“4 Jam Mengajar Tanpa Minum!”

Rabu (7/3), pagi yang mendung di Jakarta, tak menyurutkan langkahku untuk melaju di jalanan yang macet menuju Salemba. Jam pertama adalah mata kuliah favoritku, “Pengembangan Wilayah dan Penataan Ruang”. Sayang, tiba-tiba mendung menggelayuti diriku setelah menerima sebuah sms. Tidak hanya diriku tapi juga seluruh kelas.

Sms dari bapakku,”Garuda meledak di YK”. Aku hanya bercerita pada Pak Budi teman sebelahku karena sebentar lagi kuis dimulai. Pak Budi ternyata sudah mengetahui karena dalam perjalanan dari rumah ke Salemba beliau selalu memantau El Shinta.

Setelah kuis selesai, aku segera bercerita pada teman-temanku. Seperti biasa mereka hanya dingin karena toh tidak ada kaitannya dengan mereka. Tak lama kemudian Yusup yang baru saja kembali dari ruang Sekretariat berteriak,”Pak Koesnadi ada dalam pesawat Garuda yang meledak itu.” Kami semua kaget dan tak percaya mendengar perkataan Yusuf.

Bergegas aku mengecek perkataan Yusuf ke Sekretariat. Aku lihat, Bu Erni Kepala Sekretariat sedang sesenggukan sambil beberapa kali menghapus air mata. Ya ampun…ternyata benar.

Siang itu kabar Pak Koesnadi masih simpang siur. Ada yang mengatakan beliau sudah ada di RS Bethesda, beliau ada di rumah, bahkan ada yang mengatakan belum ada kabarnya. Kuliah jam kedua, aku lebih tertarik memantau El Shinta daripada mendengarkan pelajaran karena penasaran dengan berita itu.

Sambil mendengarkan radio, ingatanku menerawang mengingat sosok Pak Koes sehari yang lalu. Ya…hari Selasa (6/3), kami baru saja diajar mata kuliah ”Hukum Lingkungan” selama 4 jam!

Hari itu, aku memilih duduk di bagian belakang karena agak jenuh menyimak mata kuliah Hukum Lingkungan yang isinya deretan undang-undang, keppres dan pasal-pasal yang susah kumengerti. Meski berusaha menyimak, tetapi tetap saja aku mengantuk.

Saat mengajar hari selasa lalu, pak Koes tampak beda dari minggu sebelumnya. Beliau lebih banyak tertawa dan bercanda dengan kami mahasiswanya. Bahkan intermezzo atau ilustrasi yang diberikannya lebih banyak daripada minggu yang lalu. Satu hal yang kuingat adalah leluconnya mengenai Koes Hendratmo. Rupanya beliau sebel dengan Koes Hendratmo karena terlalu berlebihan saat merayakan pernikahan keduanya. ”Biasanya kalau siraman yang disirami kan masih muda. Tapi yang ini sudah tua. Ih saya benar-benar malu,” katanya sambil menutup mukanya. Gayanya sangat lucu saat memperagakan hal tersebut.

Yang agak unik, baju yang dikenakan saat mengajar hari Selasa itu sama dengan yang dikenakannya minggu yang lalu. Baju lengan pendek berwarna biru muda. Tidak disangka oleh kami semua, hari itu adalah kali terakhir beliau mengajar. Pertemuan terakhir dengan kami. Namun, satu hal yang kuingat beliau masih berjanji untuk mengajar kami tanggal 13/3. Bahkan beliau mengatakan baru bisa mengajar jam 9.00 karena baru sampai di Jakarta sekitar jam 7.00.

Saat mengajar melalui buku karangannya ”Hukum Lingkungan” beliau berusaha menekankan ketelitian dalam menuliskan isi undang-undang. Bahkan sesekali beliau bercerita mengenai latar belakang undang-undang tersebut. Tidak hanya itu, buku setebal 640 halaman itu sudah direvisi sebanyak delapan kali. Hal itu menjadi bukti bahwa beliau serius dalam menerbitkan sebuah buku. Beliau berusaha merevisi setiap perubahan perundang-undangan di Indonesia.

Sambil menerangkan, beliau juga membahas 50 tema tugas yang akan diberikan pada akhir kuliah. Sebenarnya kami agak ngeri juga dengan tugas yang beliau berikan karena dalam waktu singkat kami harus membuat makalah sebanyak ± 75 halaman plus presentasi satu persatu. Gak terbayang jika itu benar-benar dilaksanakan, presentasinya bisa satu hari penuh, dari pagi sampai tengah malam. Yah seperti yang terjadi pada kelas angkatan lalu.

Aku agak menyesal karena sempat mengira beliau adalah dosen yang killer karena tampak serius mengajar saat pertemuan pertama. Bahkan selama 4 jam mengajar beliau tidak menyentuh sekalipun dua gelas minuman yang telah disebeliaukan. Kalau tidak diingatkan oleh temanku, beliau tidak akan minum. Itupun setelah dua jam mengajar karena temanku agak takut untuk mengingatkan beliau. Padahal mahasiswa yang diajar sudah tidak betah dan satu-persatu keluar-masuk hanya untuk sekedar ke toilet, minum ataupun menerima telepon.

Aku perhatikan pada pertemuan pertama, sulit sekali bagi beliau untuk mengembangkan senyuman, saking seriusnya. Tetapi setelah dua jam berlalu, tampak juga pribadi beliau yang sebenarnya. Benar-benar dosen yang hangat, baik, dan teliti.

Sekarang beliau sudah meninggal. Meninggal dengan sangat tragis dalam kecelakaan pesawat Garuda. Meninggalkan semua kenangan bagi orang-orang terdekatnya dan kami mahasiswanya. Akankah beliau mengajar minggu depan pukul 9.00 ya?

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s