Cinta, Coklat, dan Kunci Pintu

Cerita minggu ini bertema tentang cinta, coklat, dan kunci pintu. Cinta dan coklat memang berhubungan. Apalagi pada saat hari Valentine, cinta dan coklat korelasinya sangat kuat. Tapi apa hubungannya dengan kunci pintu? Yah memang gak ada hubungannya. Tapi itulah tema-tema yang terkuat dalam hidupku minggu ini.

Cinta

Entah menyesuaikan dengan hari valentine atau memang sedang mendapat anugerah Tuhan, beberapa minggu terakhir ini aku bisa merasakan yang namanya jatuh cinta lagi. Rasa yang sudah 3 tahun menghilang dalam hidupku. Indah sekali bisa merasakan debaran-debaran aneh saat dekat dengan dia. Tapi…

Ah…itu Cuma sesaat. Kembali aku sadar, percuma aku jatuh cinta dengannya karena dia Cuma menganggapku teman. Meski begitu, aku cukup bersyukur diberi kesempatan untuk jatuh cinta lagi. Ke depan aku Cuma berharap bisa jatuh cinta lagi dengan orang yang tepat.

Coklat

Lagi-lagi, karena Valentine, tiba-tiba aku pingin banget makan coklat. Dalam pikiranku, aku Cuma membayangkan nikmatnya coklat dalam kunyahanku. Akan tetapi, tidak satupun coklat hadir di meja kerjaku hari itu. Yang ada malah setumpuk pekerjaan yang harus selesai malam itu karena besok aku kuliah seharian.

Tapi…Tuhan memang baik padaku. Dua hari berikutnya, Mita berjanji padaku untuk mengirim sekotak coklat dari Swiss. Pekerjaan dan kuliah yang berat sirna sudah. Janji sekotak coklat, membuatku berbinar-binar.

Kunci Pintu

Tanggal 14 Februari lalu, hari yang melelahkan untukku. Kuliah seharian, berkutat di depan komputer seharian plus bolak-balik ke perpust untuk ngintip data dari buku-buku yang penuh angka. Pengin rasanya segera pulang ke rumah untuk tidur. Tapi lagi-lagi keinginanku harus tertunda sesaat.

Sampai di depan rumah, segera kunci kumasukkan ke lubang kunci. Kuputar ke kiri dan berharap pintu segera terbuka. Tapi…klik, kunci benar-benar tidak mau berputar. Aku tarik handle pintu, berharap bisa memutar kembali kunci. Lagi-lagi…susah. Aduh…

Aku ganti dengan kunci milik Yoke. Lagi-lagi tidak berhasil. Wah pasti ini gara-gara pintu yang memuai karena pergantian cuaca.

Pintu rumah pemilik kontrakan sudah tertutup rapat. Apalagi pintu kamar 2 anaknya yang terletak di luar bangunan utama. Aku mencoba untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Tapi benar-benar tidak ada jawaban. Yah mungkin sudah tidur.

Iseng, aku longok-longok jendela pemilik kontrakan, berharap ada yang melihatku. Benar, Reza anak keempat pemilik kontrakan belum tidur dan melihatku.

Tak lama kemudian Pak Rojali keluar dari rumah. Aku menceritakan kesulitanku membuka pintu rumah. Sempat ngerasa gak enak, karena sepertinya dia sudah tidur. Tapi bagaimana lagi, aku benar-benar tidak bisa membukanya. Kemudian dia masuk lagi untuk mengambil kunci cadangan. Awalnya, dia sempat kesulitan untuk membuka pintu juga. Tapi setelah beberapa kali mengotak-atik, pintu itu terbuka juga.

Pff…lega deh…Aku bisa tidur.

Ternyata yang membuat kunci sukar diputar karena sekrup yang menempel pada lubang kunci kendor. Dan malam itu aku mendapat pelajaran baru, bagaimana membongkar handle pintu. Hehehe…

Malam Valentine yang sangat melelahkan.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s