Nostalgia Banjir

Hampir 20 tahun lebih aku tinggal di dataran banjir di daerah bawah kota Semarang. Aku tidak asing dengan banjir. Bahkan desember lalu aku sempat deg-degan karena hampir saja rumah orang tuaku di Semarang kebanjiran, sekarang aku benar-benar berkesempatan menikmati banjir. Tentunya bukan di Semarang tapi di Jakarta. Meski aku tidak mengalaminya langsung, karena rumah kontrakanku tidak kebanjiran.

Jumat, (2/2) lalu ketika akan berangkat ke kantor, aku nekat melewati banjir di gang-gang kecil belakang kantor. Penyebabnya aku Cuma malas untuk memutar jalan yang lebih jauh. Sebenarnya aku sudah bisa melihat dari kejauhan bahwa jalan tersebut tergenang air. Entah kenapa, sambil naik sepeda motor, aku nekat menembus genangan air yang sudah berubah menjadi banjir. Orang-orang yang bermukim di situ pun dengan pandangan aneh memandangku yang nekat menembus banjir Saat itu aku benar-benar merasa diriku cukup gila. Sambil mengendarai motor menembus banjir, aku mengumpat-ngumpat diriku sendiri. Akibatnya, aku tidak konsentrasi dan tanganku terlepas dari gas. Bisa ditebak, mesin motor langsung mati. Keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuhku. Bergegas, sekelompok anak-anak kecil mendatangiku dan beramai-ramai mendorong motorku. Akupun turun dari motor dan menuntun motor.

Gila…benar-benar berat menuntun motor menembus banjir setinggi lututku. Apalagi harus menggendong ransel. Untung sekelompok anak-anak itu cukup membantuku. Aku berharap ada jalan belok ke kanan yang posisinya lebih tinggi sehingga aku bisa beristirahat dan menyalakan kembali motorku. Tapi kok gak ada ya. Aku sudah kelelahan, kakiku kram. Lagi-lagi dorongan anak-anak kecil membuat semangatku muncul lagi.

Doaku terkabul. Beberapa orang berteriak menyuruhku untuk belok ke kanan. Ya…benar belok ke kanan jalanan lebih tinggi, meski masih tetap saja tergenang air. Tapi tetap saja aku tidak menjumpai jalanan yang kering. Wah sampai berapa lama aku harus mendorong motor di tengah gerimis kecil-kecil yang terus mengguyur.

Tiba-tiba anak-anak itu mendorong motorku ke arah kanan. Rupanya ada deretan rumah-rumah kontrakan berbentuk town house yang pondasinya lebih tinggi sehingga tidak tergenang air. Lumayan…dalam hatiku. Aku sudah cukup lelah.

Aku masih berharap bisa langsung menyalakan motorku dan melanjutkan perjalanan ke kantor. Rupanya harapanku salah. Banjir setinggu lututku, menyebabkan knalpot dan busi terendam air. Jelas saja mesin tidak mau nyala. Saat sedang berusaha menyalakan motor, ada seorang bapak yang rumahnya kebanjiran menghampiriku. Dengan cekatan bapak itu membongkar busi motor dan mengelapnya sampai kering. Namun tetap saja motor tidak mau nyala selama air terus mengalir dari lubang knalpot. Aku sudah tidak bisa merasakan rasa panik atau apapun. Aku hanya berharap semua ini cepat berlalu dan berjanji tidak akan menembus banjir lagi dengan naik motor.

Setengah jam berlalu, akhirnya motorku bisa nyala. Thanks God…Aku segera melanjutkan perjalanan ke kantor melewati jalan arteri hijau yang bebas banjir dan segera memasukkan motor ke bengkel Suzuki. Pff…benar-benar nostalgia banjir yang cukup melelahkan.

Tidak cukup dengan kejadian hari jumat, keesokan harinya aku kembali tergoda menikmatinya. Kali ini bersama dengan Soni, teman kuliahku aku menikmati banjir di daerah Benhil. Sebenarnya tidak tepat disebut dengan kata menikmati karena tidak sengaja mengalaminya.

Hari itu, harusnya aku, Hari, dan Danis berangkat ke Bandung untuk menghadiri pernikahan Oci di Majalaya. Sudah terbayang kesenangan saat di Bandung karena selain kondangan, kami akan mengadakan reuni kecil-kecilan dengan beberapa teman kuliah yang sudah lama tidak berkumpul bersama. Kesenangan itu gagal karena banjir. Danis memutuskan tidak berangkat. Sedangkan aku dan Hari mencoba untuk berangkat ke Bandung.

Apa daya, karena Wisma Benhil, pool V-Trans terendam air setinggi lutut orang dewasa. Aku cukup terperangah melihat kondisi daerah Benhil yang terendam banjir cukup dalam. Tiba-tiba mood untuk melakukan perjalanan ke Bandung hilang. Sirna sudah semua harapanku menikmati kesenangan sebelum memulai perkuliahan lagi.

Bahkan saat Hari mengeluarkan kamera mencoba untuk memotret kondis banjir, aku hanya terdiam lesu. Tapi aku memaksakan diri untuk mengabad
ikannya. Hari mengajakku untuk menembus banjir menuju Wisma Benhil. Tiba-tiba keringat dingin mengalir deras. Aku merasa takut, trauma dengan banjir yang sudah 20 tahun kualami. Hari berjalan di depanku, aku mencoba untuk memegang tas kameranya sambil berteriak-teriak supaya aku tidak ditinggal. Akhirnya Hari memegang erat tanganku sambil menembus banjir. Cukup menenangkan, tapi masih ada juga was-was menembus banjir yang Cuma setengah kaki.

Setelah sampai di Wisma Benhil, aku dan Hari tidak segera mencari lokasi pool V-Trans. Hari malah melanjutkan memotret-motret. Sebenarnya, tanpa mencari lokasinya pun aku sudah yakin bahwa travel tersebut tidak berangkat. Aku hanya mengikuti Hari yang sibuk memotret-motret banjir. Untuk meyakinkan kami, Hari mencoba menelpon pool travel yang berlokasi di Bandung. Dan memang benar, travel itu tidak berangkat.

Huah…aku benar-benar capek. Sekarang harus kembali menyebrangi banjir menuju tempat parkir motor di trotoar. Aku sudah berhasil mengatasi traumaku dan aku Cuma berpegang pada tas kamera Hari.

Aku memutuskan untuk istirahat di kantor, sambil berpikir rencana selanjutnya.

Benar-benar nostalgia banjir yang tidak hanya melelahkan tapi cukup membuatku merinding. Aku Cuma berharap, bisa berbuat lebih banyak supaya banjir besar tidak terjadi lagi tahun 2012 atau tahun-tahun berikutnya. Bisakah aku bisa mengamalkan ilmu perencanaanku?

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s