Bocah Kecil Berkepala Botak

Suara celoteh dan jeritan anak-anak kecil membuyarkan kesibukanku di depan komputer. Aku hanya bertanya dalam hati, “Anak siapa tuh?” Aku tengok di sisi sebelah kanan, kubikus mbak Ino tidak tampak seorang anak kecilpun. Aku masih berpikir itu anak mbak Anik yang ada di ruang sebelah. Kembali aku meneruskan kesibukanku di depan komputer.

Tak lama kemudian, suara celoteh dan jeritan-jeritan kecil kembali terdengar. Kali ini arahnya dari selasar di depan ruangan. Karena penasaran, aku bertanya pada mas Rustri teman sebelahku. “Itu anak-anak mbak Riri”, jawab Rustri. Aku Cuma mengangguk-anggukkan kepala dan kembali bekerja.

Keesokan harinya, kembali aku mendengar celoteh dan jeritan-jeritan khas anak kecil. Aku masih cuek mendengar suara-suara itu. Aku masih belum tertarik untuk menengoknya.

Namun, hari itu juga ketika aku mau pulang kantor, aku tergoda untuk memasuki ruang sebelah untuk mencari tahu siapa pemilik suara-suara kecil itu. Baru saja melangkahkan kaki di depan ruangan, aku disambut oleh seorang anak kecil berumur sekitar 2,5 tahun, berkepala botak dengan rambut jabrik-jabrik di depan pintu. Aha…rupanya inilah pemilik suara-suara kecil itu.

Segera aku mengajaknya berkenalan sambil jongkok. “Namanya siapa?” Dia belum segera menjawab. Bukan karena malu tapi karena senang melihat aku dan Ratna. Dia sibuk berceloteh gak jelas. Kembali aku mengulangi pertanyaanku sambil tersenyum kecil. “Namanya siapa?” Akhirnya dia menjawab,”Jove” sambil berteriak tentunya. Aku pun tidak bisa menangkap jawabannya.

Entah kenapa, aku sangat senang dengan keceriaan bocah kecil ini. Segera aku menggendongnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Ini kebiasaanku kalau bertemu anak-anak kecil. Bukannya takut, dia malah tertawa-tawa kesenangan. Ya ampun…lincah banget anak ini.

Aku antar dia masuk dan kutaruh diatas lemari buku supaya dia bisa melihat kondisi ruanganku. Wah dia tambah senang. Sambil terus tertawa-tawa. Anak kecil yang sangat ramah, kataku dalam hati. Aku tengok sebentar di ruang duduk, kakaknya yang berumur 5 tahun sedang sibuk makan sambil disuapi ibunya.

Rupanya dia menemukan mainan baru di atas lemari buku. Diman adalah mainannnya. Hehehe…dia kegirangan dengan tingkah laku Diman yang menekuk-nekuk wajahnya sambil sesekali menjulurkan lidah. Wah rasanya jadi ingin berlama-lama di kantor bermain dengan anak ini. Tapi apa daya, aku sudah berjanji dengan Priti untuk makan bakso di Pati Unus.

Akhirnya kuturunkan anak itu dan aku pamitan untuk pulang. Tanpa diduga, anak itu terus mengikuti sambil berkata,”aku antar… aku antar…” Wah gawat…gimana neh? Dia terus menggandengku sambil keluar ruangan. Aku pikir dia akan melepaskan pegangan tangannya setelah keluar pintu. Rupanya dia bersikeras mengantarku sampai di depan lift.

Padahal Ratna dan Upik sudah ada di depan lift dan berteriak-teriak memanggilku. Aku mencoba memberi pengertian padanya dan kuantar kembali ke ruangan. Untungnya dia mau.

Dan kita berpisah di depan pintu Puslitkom. Daag…Daag…Sampai ketemu lagi…

Ah…aku benar-benar terkesan dengan bocah kecil itu. Ingin rasanya membawanya pulang untuk mainan. Hahahaha…

Dan sampai sekarang aku masih terbayang-bayang jeritannya, tingkah lakunya, dan karakternya yang lucu dan ramah. Kapan aku bertemu lagi dengannya?

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s