KERJA KELOMPOK

Hampir 7 tahun aku meninggalkan bangku kuliah S1. Selama itu pula aku sudah melupakan istilah kerja kelompok. Aku hanya mengenang masa-masa indah kerja kelompok yang tak terlupakan karena banyak terjadi peristiwa lucu, mengharukan, menyedihkan, dan melahirkan benih-benih cinta.

Sekarang setelah masa 7 tahun tersebut, kembali aku mengalami kerja kelompok. Tentunya kerja kelompok mulai kukenal lagi, setelah aku kembali ke bangku kuliah. Agak sulit bagiku untuk bisa mengetik satu makalah yang melibatkan pikiran banyak orang. Selama ini karena tuntutan pekerjaan, harus bisa bekerja dengan pikiran dan kreatifitas sendiri.

Kerja kelompok pertama setelah kerja kelompok 7 tahun yang lalu adalah saat mengerjakan tugas akhir Analisis Sistem dan Aplikasi Komputer. Tugas ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari Ujian Akhir Semester. Akan tetapi karena diharuskan mengerjakan secara lengkap, maka dilanjutkan menjadi tugas Take Home Test.

Awalnya, aku dan teman-teman sekelas menganggap tugas ini mudah karena diagram alir dan grafik sudah ketemu saat mengerjakan ujian. Karena itu tugas baru kita kerjakan dua hari menjelang pengumpulan. Itupun, aku dan Farid yang memulai mengerjakan karena aku sudah mencium ada faktor kesulitan besar dalam pengerjaan tugas.

Setelah disepakati, hari rabu malam (10/1) pukul 20.00 kita bertemu di Plaza Semanggi. Selain kita berdua, juga mengajak si Ucup untuk menambah ramai proses diskusi.

Cukup sulit juga mencari kafe/restoran yang menyediakan stop kontak untuk colokan notebook kami yang memang sudah perlu dicolok. (hehehe). Beberapa tempat didatangi, tapi tidak satupun menyediakan tempat khusus. Ada tempat yang masih menyisakan stop kontak, tapi digunakan untuk colokan AC dan mesin AC.

Setelah berputar-putar ke 4 tempat, pilihan dijatuhkan pada restoran CAVANA. Sebenarnya dari sisi makanan, aku gak cocok. Tapi kan tujuan utama kita adalah untuk kerja kelompok. Kebetulan CAVANA menyediakan stop kontak di salah satu sudut ruang .Tapi lagi-lagi, tempat duduk di dekat stop kontak tersebut sudah diduduki orang.

Farid tersenyum sambil mengeluarkan rol kabel dari tasnya. ”Jangan khawatir, Put. Aku sudah siap dengan rol kabel kok.” Hahahaha…Jadilah kita bekerja bersama di CAVANA. Tentunya setelah menemukan tempat duduk kosong.

Proses bekerja dimulai. Beberapa kertas kosong dan soal ujian dikeluarkan. Kita mulai berdiskusi mencari causal loop diagram dari diagram alir yang sudah terbentuk. Aku yang membaca soal dan Farid yang menggambar. Beberapa kali diskusi terhenti karena kami sibuk berdebat.

Saking seriusnya berdebat, serasa dunia milik kami berdua. Hahaha…Bagai dua anak autis yang sibuk dengan dunianya sendiri. Tidak peduli dengan keadaan lingkungan sekitar yang sangat ramai. Bahkan HP yang kutaruh di tas tidak kudengar deringnya. Ternyata dering HP itu berasal dari Pak Heru yang ingin bergabung untuk kerja kelompok dengan kami berdua.

Kira-kira 1 jam proses bekerja, HP ku kembali berdering. Kali ini dari istri Farid yang menanyakan keberadaan suaminya. Wah…kerja belum selesai istri Farid sudah menelpon. Gimana neh?

Untung istri Farid pengertian dan mau menunggu diskusi kami. Dia memilih untuk menunggu Farid di JCO. Kembali kami asyik untuk melanjutkan diskusi. Lagi-lagi diskusi terhenti karena kami kembali berdebat untuk menentukan langkah pengerjaan yang benar.

Sesekali mataku mencari-cari sosok Ucup yang berjanji akan menyus
ul kami berdua. Dimana ya si Ucup? Ditelpon berkali-kali juga tidak diangkat.

Pukul 22.00 kerjaan kami selesai. Meski belum sempat untuk membuat pendahuluan, tujuan, analisis, dan kesimpulan. Kami memutuskan untuk mengerjakan sendiri semua hal tersebut karena sebenarnya tugas ini merupakan tugas individu. Dan sampai selesai, si Ucup pun tidak menampakkan batang hidungnya. Kemana dia gerangan?

Kamis pagi (11/1), aku berangkat ke kantor dan memutuskan mengerjakan sebagian tugas individu tersebut di kantor. Belum sampai menginjakkan kaki di lantai 4, masih di parkiran motor, HP ku kembali berdering. Tika menanyakan asumsi yang dibentuk dari model penyakit demam kuning. Karena aku belum sempat berpikir, aku tidak bisa menjawab pertanyaan Tika.

Setengah hari aku sibuk membuat Latar Belakang tugas itu. Tapi kok jadi ribet ya. Padahal pendahuluan sudah tercantum di soal. Yang membuat ribet, aku harus menerjemahkan latar belakang yang ditulis dalam bahasa inggris ke bahasa indonesia. Selain itu juga harus mencari tambahan latar belakang untuk menambah jumlah kepustakaan. Rada ruwet karena penyakit demam kuning tidak terjangkit meluas di Indonesia. Tak lupa aku mengirimkan hasil diskusiku dengan Farid ke milis untuk membantu teman-teman lain. Meski akhirnya pekerjaan tersebut ada yang salah.

Setelah makan siang tugas belum selesai. Padahal aku belum sempat menyentuh pekerjaan kantor. Kuputuskan untuk menutup tugas dan konsentrasi pada kerjaan kantor. Akan tetapi beberapa teman masih sms untuk menanyakan tugas. Begitu juga dengan diriku yang sibuk menelpon satu dua orang teman mengenai tugas ruwet tersebut.

Hari itu aku pulang dari kantor pukul 21.00. Sudah sangat larut. Padahal aku belum menyelesaikan tugas tersebut. Karena pulang terburu-buru, buku-buku untuk pelengkap tugas Analisis Sistem plus file pendahuluan yang telah kuketik tertinggal di kantor. Aku mengabaikan hal tersebut dan berkonsentrasi untuk mengerjakan bagian-bagian yang lain.

Aku mencoba membaca lagi soalnya. Wah…mati aku…kok jadi ruwet begini ya. Rasa panik menyerang. Pikiran tiba-tiba buntu. Aku memutuskan untuk menelpon Ucup. Dia masih ada di luar asrama untuk makan malam. Sambil menunggu Ucup kembali ke kamar asrama, aku mencoba untuk mengerjakan hal yang bisa aku kerjakan.

Sekitar pukul 23.00 aku mulai mengerjakan serius mengerjakan, tentunya setelah menelpon Ucup untuk berdiskusi. Rupanya Ucup juga mengalami hal yang sama denganku. Sama-sama bingung dan panik. Akhirnya tanpa disengaja, kita mengerjakan tugas individu bersama-sama lewat telepon.

Setiap setengah jam sekali Ucup menelponku menanyakan perkembangan tugas. Ucup memilih menelponku karena memanfaatkan fasilitas free talk dari indosat. Kabut gelap tugas Analisis Sistem mulai terbuka dan rasa panik kami berdua mulai hilang. Perlahan tapi pasti, aku menyelesaikan tugas itu. Rasa kantuk hilang karena serius untuk mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan keesokan harinya pukul 10.00.

Seru sekali kamu mengerjakan tugas berdua, meski di tempat yang berbeda. Karena aku di rumah sendiri, tidak ada yang memprotes aktivitasku. Beda dengan Ucup. Teman sebelah kamarnya protes karena suara Ucup yang keras cukup mengganggu aktivitas tidur temannya. Sampai teman Ucup mengira dia pacaran melalui telepon sepanjang malam. ”Pacaran kok ngomongin causal loop diagram, hubungan positif, negatif”. Hahahaha…

Pukul 4.00, kerjaan kami selesai. Aku harus tidur untuk mengistirahatkan tubuh yang seharian sudah bekerja keras. Begitu juga dengan Ucup, berhenti menelponku.

Jumat pagi (12/1), aku tiba di kampus pukul 9.30. Tapi baru 3 orang yang nongol. Ternyata teman-teman yang lain juga bekerja kelompok untuk mengerjakan tugas Analisis Sistem di beberapa tempat.

Seorang teman bertanya kepadaku,”Kamu dan Ucup kerja dimana semalam?”

Jawabku,” Di rumah masing-masing (sambil tersenyum)”.

Temanku Cuma heran. Aku dan Ucup tersenyum penuh rahasia.

Kerja kelompok tidak perlu bertatap muka dan bertemu langsung kan? Buktinya via telepon pun jadi. Tapi dibutuhkan konsentrasi dan imajinasi yang tinggi.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s