Dua Orang Pikun

Siang itu (6/1) sekitar pukul 10.30, aku berjalan tergesa-gesa memasuki kantor untuk mengambil tatakan tabung gas. Tatakan itu sudah terbeli kemarin. Namun karena tergesa-gesa pulang barang itu tertinggal di bawah meja kantor.

Sedangkan Soni yang mengantarku memilih untuk menunggu di lobi sambil membaca koran. Beberapa saat kemudian aku sudah menenteng tas plastik berisi tatakan gas itu. Entah kenapa aku langsung aja mengeloyor pergi meninggalkan lobi. Padahal, langkahku sempat terhenti karena menyapa Bruno.

Baru sepuluh langkah, tiba-tiba aku teringat. “Ya ampun, aku ke kantor kan bareng Soni. Dimana dia? Yah…dia tertinggal di lobi,” kataku dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri. Aku balik lagi ke lobi dan menemukan Soni sedang membaca koran. Lalu aku menepuk keras lengan Soni sambil cekikikan. “Son, hampir saja aku meninggalkanmu,” kataku. Soni Cuma geleng-geleng kepala melihat tingkahku.

Karena Soni duduk menghadap lukisan di Lobi, aku tidak melihatnya. Padahal Soni duduk di depan Bruno. Sebelum meninggalkan lobi, aku sempat bercakap-cakap dengan Bruno. Dia menanyakan tempat tinggal baru Yoke dan Tjahyo. Sayang, karena pikiranku masih ruwet, aku lupa nama perumahannya. Bahkan aku sempat menyebut wilayah Ciledug (kawasan tempat tinggal Yoke dan Tjahyo) sebagai wilayah Cinere. Lagi-lagi Soni Cuma geleng-geleng kepala.

Sambil berjalan menuju tempat parkir, aku kembali tertawa keras, menertawakan kebodohan. “Untung kamu gak langsung pulang naik angkot dan meninggalkanku,” kata Soni. Soni juga mengungkapkan kekesalannya menungguku di lobi, “Pantas, kamu lama banget. Ternyata hampir meninggalkanku, to.” Soni terus mengolok-ngolokku, menertawakan kebodohanku.

Aku hanya tertawa-tawa. Yah, gimana lagi. Terbiasa untuk pergi sendiri sih. Sekalinya pergi dengan seorang teman, hampir saja meninggalkannya. Padahal aku pergi ke kantor naik motor Soni. Untung saja, aku belum sampai di tempat parkir. Bisa-bisa panik sendiri karena tiba-tiba motorku raib.

Lima menit kemudian, kebodohan menimpa Soni. Sementara Soni mengeluarkan motor dari parkiran, aku menunggu di pos satpam sambil membawa STNK dan kartu parkir untuk diserahkan ke satpam. Soni memang menjemputku di Pos Satpam. Tapi…entah kenapa, dia juga hampir meninggalkanku.

Hahaha…rupanya dia mengira aku sudah membonceng. Padahal, aku baru siap-siap mengangkat kakiku untuk membonceng, dia sudah tancap gas dan pergi. Kupikir dia ingin cari tempat yang terhindar dari sinar matahari atau ingin menggodaku. Ternyata, dia benar-benar tidak sadar kalau aku sang penumpang belum naik.

Aku coba manggil berkali-kali sambil menepuk-nepuk tanganku. Wah…kok gak dengar ya. Malahan motornya semakin maju meninggalkan pos satpam. Bisa-bisa aku ditinggal neh. Gak lucu neh.

Akhirnya dia mendengar panggilanku. Lalu memundurkan motor dan tertawa. “Kukira kamu sudah naik, Put. Pantas terasa enteng,” katanya. Aku sudah tidak bisa menahan tertawaku, begitu juga dengan Soni. Aku segera naik ke motornya melanjutkan perburuan tabung gas.

Akhirnya dua orang pikun tertawa bersama-sama. Menertawakan kebodohan masing-masing.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s