AMAZING CHRISTMAS HOLIDAY

Aku berhasil melalui libur natal 2006 ini dengan hati yang damai, tenang dan sabar. Setelah sebelumnya, aku mengalami kejadian-kejadian yang luar biasa membuatku kecewa, capek, dan patah semangat. Aku berhasil berdamai dengan semuanya dan menyambut kedatangan Tuhan.

Natal kali ini berbeda dengan natal-natal sebelumnya. Adikku yang bersekolah di Singapura tidak bisa datang karena harus menyelesaikan tugas akhirnya. Jadi kali ini suasananya sedikit sepi. Tidak ada lagi teriakan-teriakan dari Mita. Juga tidak ada yang bertugas menghabiskan hidangan-hidangan Natal. Sedih…

22 Desember (jumat sore)

Berangkat ke Gambir bersama-sama dengan mbak Dewi dan Priti. Di Gambir mbak Dewi memisahkan diri untuk bertemu suaminya. Sedangkan aku dan Priti memilih ngobrol di tangga stasiun. Aku menunggu kedatangan KA Sembrani yang akan membawaku pulang. Priti menunggu redanya hujan.

Kereta sampai di Semarang pukul 3.00 dini hari. Telat hampir 2 jam dari waktu yang tertera di tiket. Namun, badanku yang lelah sudah tidak memerdulikannya.

23 Desember (sabtu pagi)

Pukul 7.00, ibu sudah membangunkanku. Karena mau mengajakku ke tempat oom untuk bertemu sepupu yang juga baru datang dari Jakarta. Dengan mata sedikit terpejam, aku ke kamar mandi untuk pipis dan gosok gigi.

Aku memutuskan seharian penuh untuk tinggal di rumah menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Rasanya tidak sabar ingin segera meletakkan jari jemariku di atas tuts laptop. Juga ide-ide di kepalaku rasanya ingin meloncat-loncat keluar ingin segera dituangkan pada tulisan.

Aku memilih untuk mengerjakan tugas di bekas kamarku di lantai dua. Ruang yang biasanya digunakan untuk meletakkan komputer sekarang sudah penuh barang. Ada dua parsel Natal besar teronggok di sudut ruang. Buku-buku pelajaran milik Supri bertebaran di atas meja bekas komputer. Toples-toples kue natal juga tertumpuk di situ.

Diantara tumpukan toples Natal, ada sebuah toples besar bening yang cukup menarik perhatianku. Apakah isinya castangels kesukaanku? Isinya adalah dua kura-kura kecil yang asik berenang-renang di dalam toples berisi air. Wah ada penghuni baru, rupanya. Pasti ini peliharaan Supri. Di sebelahnya ada toples kecil berisi benda bulat-bulat kecil warna-warni. Tadinya kupikir makanan milik Supri. Belakangan aku baru tahu, itu adalah makanan kura-kura kecil itu.

Bekerja di bekas kamarku ternyata cukup mengasikkan. Disamping suasananya tenang, juga bisa bernostalgia saat aku mengerjakan skripsiku 5 tahun yang lalu. Suasananya mirip dan tidak ada satupun yang berubah. Mungkin yang berbeda hanya buku-buku yang tertata rapi di meja belajar. Kalau dulu buku-buku itu milikku. Sekarang berganti menjadi buku-buku milik Mita saat SMA.

Sampai pukul 12.00 aku asik mengerjakan tugas. Kemudian aku makan siang dan nonton TV. Lama-kelamaan rasa kantuk menyerang. Rupanya jam tidur kemarin malam belum terbayar lunas. Aku memutuskan untuk tidur siang.

Pukul 16.00 lagi-lagi ibu sudah membangunkanku, menyuruhku mandi karena aku harus
ke gereja, misa Adven ke-4. Entah kenapa, aku menjadi lebih bersemangat. Di Gereja, meski aku harus duduk sendiri karena bapak ibu bertugas koor, dengan tekun dan seksama mendengarkan khotbah Romo tanpa rasa kantuk sedikitpun.

Sepulang Gereja, bersama seluruh keluarga makan malam di Rumah Makan Ayam Goreng “Bambang” di Depok. Sudah lama banget aku tidak makan ayam goreng milik pak Bambang ini. Rasanya sudah ngiler.

Sepulang dari Depok, aku meneruskan pekerjaanku lagi sampai dini hari. Akhirnya tugas pertama Filsafat selesai. Bebanku berkurang satu. Meski aku tahu kualitasnya jauh dari memuaskan. Yang penting aku sudah berusaha semaksimal mungkin

Sabtu 24 Desember (Minggu Pagi)

Orang tuaku sedari pagi sudah meninggalkan rumah, pergi ke Gereja mempersiapkan perayaan Natal nanti malam.

Aku masih meneruskan tugasku. Kali ini beranjak pada tugas ke-2 Filsafat. Berbeda dengan tugas pertama, tugas kedua ini aku belum mendapat inspirasi apapun. Yah tapi setidaknya aku mencoba untuk berpikir cepat. Semua buku-buku filsafat yang kupinjam dari perpustakaan kantor aku lahap habis. Hehehehe meski aku pun sulit mengerti semua maksudnya. Untung saja aku masih menyimpan secarik kertas berisi coret-coretan petunjuk Aris mengenai tugas kedua ini. Berbekal itu, aku segera merumuskannya.

Lagi-lagi setelah makan siang, aku diserang rasa kantuk. Dan kuputuskan untuk tidur siang.

Pukul 17.00, aku bersiap-siap untuk pergi ke Gereja. Meski misa baru dimulai pukul 19.00, tetapi bapak menyuruh kami untuk datang lebih awal supaya bisa duduk di depan. Tujuannya supaya bisa melihat visualisasi drama natal. Hahaha…

Boleh juga ide bapak. Daripada bosan mengikuti misa selama 3 jam lebih, lebih baik memerhatikan drama Natal.

Entah kenapa, misa Natal tahun ini aku bisa sangat betah mengikutinya. Aku menyimak semua bacaan-bacaan Injil, menyanyi dengan penuh semangat, dan menyimak homili Romo. Rasa kantuk yang biasanya menyerang hilang. Yah mungkin karena berkat Natal.

Sambil mengikuti misa, sesekali aku mencuri-curi waktu untuk sms kepada teman-teman yang merayakan Natal. Hehehehe…

Selesai misa Natal, keluarga oom Ismawan mengajakku untuk makan malam. Daripada menunggu orang tuaku yang sibuk meladeni romo, lebih baik ikut makan, pikirku. Plus aku ingin ngobrol-ngobrol banyak dengan seluruh anggota keluarga. Rasanya kangen sudah lama tidak bercengkrama dengan mereka.

Sepulang dari makan nasi liwet di Simpang Lima, aku meneruskan pekerjaanku lagi. Kali ini aku berpindah tempat karena Supri protes tidak bisa tidur. Aku memilih bekerja di ruang tamu. Saat malam, ruang tamu menjadi tempat favorit bagiku karena sangat sepi.

Sambil sesekali memindah-mindah saluran TV menonton acara-acara Natal dan sms beberapa teman, aku mencoba meneruskan pekerjaanku. Meski masih agak bingung dengan bahasan yang akan kutulis, setidaknya sudah menemukan kerangka pikirnya. Huah…menulis filsafat memang sulit ya. Apalagi bagiku
yang baru kali ini mengenal filsafat. Mau tidak mau harus membacanya.

Tenang sekali malam Natal itu. Aku masih berharap sinterklas datang memberiku seonggok hadiah. Hehehehe…

Akhirnya pukul 3.00 aku memilih untuk tidur karena sudah sangat capai.

25 Desember

Hari Natal telah tiba. Seperti tahun kemarin, ibu sibuk memasak beberapa hidangan untuk saudara-saudara yang berkunjung. Entah jam berapa seluruh penghuni rumah bangun. Yang jelas, saat aku bangun pukul 8.00, meja dan kursi sudah tertata. Rangkaian bunga mawar merah sudah ada di samping meja makan.

Ibu hanya bilang, “Tolong tumpukan piring-piring itu dilap.” Masih menahan kantuk, aku mencoba melaksanakannya. Tidak lama kemudian, rombongan keluarga pak Sus, teman bapak datang. Wah gawat. Semua penghuni rumah belum mandi. Bapak sudah ke gereja untuk mengawasi misa Natal anak-anak. Terpaksa aku meninggalkan pekerjaanku dan menemui mereka. Hihihi jadi malu…

Bergegas setelah mereka pergi, aku dan ibu bergantian mandi. Pasti tak lama akan datang rombongan tamu-tamu yang lain. Benar…saat aku mandi, pintu kamar mandi digedor-gedor. Rombongan keluarga oom Paulus sudah datang. Mereka mau numpang sarapan. Gawat!!! nasi belum matang, ayam bakar pesanan belum diambil. Lauk yang sudah jadi baru satu.

Ibu dan Unyil segera mengambil pesanan ayam bakar. Tapi karena memang belum siap, lama. Tamu-tamu gelisah. Seluruh hidangan roti sudah lahap dimakan. Tata anak Nana pun sudah berganti pakaian hanya memakai celana dalam dan singlet saja. Yah gimana lagi? Mereka salah waktu .

Pukul 10.00 ayam bakar baru datang. Segera diserbu oleh seluruh keluarga oom Paulus.

Setelah itu, silih berganti tamu-tamu datang. Rumahku yang kecil semakin kelihatan sesak. Yah sekali-sekali saat Natal rumah kecil ini dipenuhi orang. Pukul 13.00 rombongan tamu-tamu sudah habis. Aku memutuskan untuk tidur. Yah cuaca kota Semarang saat itu cukup mendukung. Mendung…angin semilir…semakin membuatku mengantuk.

Baru setengah jam tidur, HP ku berbunyi. Rupanya Sugi, teman kantor di Semarang menelpon akan berkunjung. Wah jadi gak bisa tidur.

Beberapa saat kemudian, Sugi datang ditemani Lawni anak Grafis Yogya. Lawni ini rumahnya dekat sekali dengan rumahku. Kira-kira setengah kilometer, tapi harus menyeberang sungai kecil terlebih dahulu. Berhaha..hihi…melepas kangen. Ngobrol macam-macam. Akhirnya pukul 15.00, Sugi harus pulang karena harus masuk kantor.

Kemudian aku mandi dan memutuskan untuk tidur. Rupanya Supri juga ikut menyusulku tidur karena ibu yang mengajari IPA juga tidur. Hehehe…

Saat itu hujan turun cukup deras. Tapi karena sudah mengantuk aku tidak berfirasat apapun soal hujan kali ini.

Pukul 17.00, ibu berteriak-teriak membangunkanku, katanya ada budhe Ani datang berkunjung. Terpaksa aku bangun, meski masih ingin memeluk bantal. Setelah bersalam-salaman, aku ngikut ngobrol bersama mereka, meski gak ngerti apa yang mereka obrolkan.

Tak lama kemudian, ada orang berteriak-teriak di depan rumah Dina, tetanggaku. ”Banjir…banjir…Kali besar sudah meluap, sudah ada yang banjir”. Rada takjub juga mendengar kata banjir. Pasalnya, sudah hampir 5 tahun lebih aku tidak mengalami banjir.

”Ha? Banjir”, kataku. Gak mungkin..gak mungkin. Hujan sudah reda, bahkan langit sudah mulai cerah. Air darimana? Aku masih tidak percaya. Melongok saluran air di depan rumah, semakin tidak percaya lagi karena tidak ada air sama sekali.

Tapi seluruh penghuni rumah sudah panik. Bahkan keluarga budhe Ani memutuskan pulang melihat kepanikan kami. Secepat kilat ibu menaikkan tumpukan buku-buku dan kertas-kertas kerja miliknya. Bantal di ruang tamu juga ikut dinaikkan. Korden digulung setinggi mungkin. Beberapa mainan dan buku-buku Supri yang berantakan dijadikan satu dalam buntalan taplak meja.

Lagi-lagi aku masih gak percaya dan yakin bahwa tidak mungkin rumah ini terkena banjir lagi. Aku sih Cuma mondar-mandir kebingungan melihat kepanikan seluruh penghuni rumah. Akhirnya kuputuskan untuk melongok sungai yang berada tak jauh dari rumahku.

Baru keluar gang, aku menengok ke arah samping. ”Ya ampun!…Seluruh rumah di jalan Cemara, gang sebelah sudah terendam air setinggi lutut orang dewasa. Beberapa penghuninya aku lihat sibuk menyelamatkan barang-barang.

Kemudian aku melanjutkan perjalanan untuk melihat sungai. Benar…air sungai hampir meluap melewati bibir tanggul. Namun airnya tidak jalan, karena tumpukan sampah menghalangi laju air. Pantas saja rumah-rumah di Jl. Cemara banjir. Kalau air sungai tidak jalan, berarti siap-siap rumahku bakalan tergenang.

Balik lagi ke rumah, barang-barang dalam kondisi aman. Cuma rumah jadi lebih berantakan. Aku memilih untuk melihat banjir di gang sebelah. Hehehe sekalian nostalgia masa kecil.

Hampir 50 persen rumah di gang sebelah sudah berganti pemilik. Aku tidak mengenali wajah-wajah mereka. Namun, masih ada beberapa penghuni lama yang mengenaliku. Aku ngobrol-ngobrol sedikit menanyaik keadaan mereka. Tapi yang bikin was-was, katanya ketinggian air semakin tinggi. Dan mendung hitam di langit Semarang masih tebal dan berpotensi untuk hujan besar. Wah…masa seh…Natalan dapat banjir kiriman dari Ungaran.

Aku jadi teringat perkataan Arko, saudaraku saat malam Natal. ”Gak kebanjiran lagi, mbak?” Glek…kaget juga mendengar perkataan Arko. Kata banjir sudah terhapus dalam ingatanku. Bahkan trauma banjir bandang 16 tahun yang lalu sudah hilang. Jangan-jangan gara-gara perkataan Arko jadi banjir beneran.

Jam 19.00 banjir sudah mulai surut…Lega hatiku.

Malamnya aku menuntaskan pekerjaanku sampai selesai dan meninggalkan semua kenangan tentang banjir.

It’s really amazing christmas holiday!…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s