Dag…Dig…Dug di Sore Hari

Jarum pendek persis di atas angka empat. Tapi pak dosen yang hobi memakai baju putih itu belum juga beranjak dari tempat duduknya di depan kelas. Beragam obrolon-obrolan yang terkadang diselingi guyonan kecil terus mengalir dari mulutnya. Teman-teman lain dengan tekun menyimak setiap perkataan. Tak lupa tertawa keras saat cerita dosen itu cukup lucu.

Diriku sudah tidak tenang. Rasanya pingin cepat-cepat meninggalkan ruangan kelas. Bukan berarti aku tidak sopan lho. Pasalnya, kali ini dosen tersebut tidak mengajar, hanya memberikan petunjuk singkat (tapi kok jadi panjang lebar ya) tentang UTS mata kuliah Analisis Sistem 2 minggu mendatang.

Kuputuskan pukul 16.10 aku harus meninggalkan kelas. Laptop dan buku-buku sudah kumasukkan dalam tas punggungku. Bergegas aku pamit dan pulang.

Mengapa aku ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan? Yah…karena aku akan ikut rapat redaksi yang biasanya diadakan pukul 16.30 dan sudah bosan memandang wajah dosen itu dari pagi sampai siang. Ingin rasanya terbang supaya cepat sampai di kantor.

Sayang, keinginanku itu sempat tertahan karena ada suatu peristiwa yang menimpa motor kesayanganku. Tiba-tiba saja saat melintas di Jl. Diponegoro, mesin motor tersendat-sendat. Gas berusaha kubesarkan, tapi tidak berpengaruh. Akhirnya setelah berjuang keras dan tidak ada hasilnya, aku meminggirkan motor tepat di depan kantor KPU. Persneling kuposisikan Normal, dan gas berulang kali aku besar-besarkan. Aneh, saat kondisi normal, gas tidak tersendat-sendat.

Aku sempat berpikir, jangan-jangan knalpotnya tersumbat tai burung ya. Pasalnya, jika aku memarkir motor di Salemba, tai burung selalu meninggalkan jejaknya di seluruh badan motor. Ah tapi gak mungkin ya. Seluruh perkiraan-perkiraan aneh menghiasi kepalaku sepanjang perjalanan.

Aku memilih melanjutkan perjalanan, meski beberapa kali harus mengubah persneling satu dan dua berulang-ulang. Untung saja, kondisi jalan belum macet seperti biasanya sehingga tidak menyusahkan pengendara motor lainnya. Namun, aku lupa. Aku harus melewati beberapa tanjakan sebelum sampai di kantor. Gimana ya?

Tepat di tanjakan di bawah terowongan Menara BNI, aku mengalami kesulitan. Sepeda motorku yang biasanya tidak menemui hambatan apapun di tanjakan, sekarang harus berusaha keras untuk mencapai puncak. Keringat dingin sudah mengalir di seluruh tubuhku. Aku hanya memainkan persneling satu dan dua supaya motor tetap bisa bergerak sampai ke puncak tanjakan. Beberapa mobil dan motor di belakangku membunyikan klaksonnya keras-keras. Tapi aku sih cuek aja. Habis, mau gimana lagi? Motorku memang lagi aneh.

Setelah berjuang keras selama hampir 5 menit, sampailah aku di puncak tanjakan dekat Hotel Shangrilla. Aku mulai berpikir untuk mencari bengkel terdekat. Tapi kan sudah hampir pukul 17.00, jangan-jangan sudah tutup ya.

Aku masih menguasai kendaraan sepanjang jalan di depan Hotel Shangrila. Tapi kesulitan lain muncul saat sampai di perempatan Karet Tengsin. Sebuah perempatan yang besar, pasti membutuhkan waktu yang lama dengan kondisi motorku seperti ini. Benar dugaanku. Kali ini aku membutuhkan waktu 5 menit untuk sampai di seberang. Aku memutuskan untuk mencari bengkel. Kebetulan di depan makam Karet Tengsin ada tukang Tambal Ban.

“Mas, dimana ya ada bengkel terdekat? Motor saya gasnya tersendat-sendat”, kataku. “Itu bu, di seberang jalan,” kata tukang tambal ban itu. Takjub juga mendengar jawabannya. Pas banget gitu lho. Aku melihat ke seberang jalan, memang ada beberapa orang yang berkumpul dan ada beberapa motor dalam kondisi rusak. Tapi aku sempat berpikir negatif, bengkel apaan ya? sepertinya gak mungkin itu bengkel.

Tapi karena kepepet, aku menuju bengkel di seberang makam Karet Tengsi tersebut. Bahkan tukang tambal itu menolongku menyebrang jalan. Sampai di seberang aku menerangkan kondisi motorku itu. Kebetulan ada seorang bapak tua yang memakai baju montir mekanik SUZUKI. Pikirku, kebetulan banget neh. Motor dicoba untuk di gas-gas lagi dalam kondisi persneling normal. Tidak ada masalah. Kemudian dicoba oleh bapak tua itu untuk berputar-putar di areal bengkel.

AJAIB…Motorku kembali seperti semula. Bapak tua itu mengatakan tidak ada yang aneh dengan motorku. Malah ada seorang pemuda yang menyeletuk,”nyangkut kali gasnya”.
Aku heran, nyangkut apanya?

Ah sudahlah, aku tidak usah mempermasalahkan lagi. Yang penting motor sudah bisa dijalankan lagi sampai kantor. Dan besok harus kubawa ke Bengkel untuk diservis. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih dengan senyumku yang paling manis untuk orang-orang di tempat itu.

Aku kembali memacu motorku dengan kecepatan tinggi, mengejar waktu rapat.
Ah…benar-benar DAG..DIG…DUG di sore hari.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s