Hujan Deras Pertamaku di Akhir Oktober

Akhirnya setelah hampir 4 bulan Jakarta tidak pernah diguyur hujan deras, malam terakhir bulan Oktober, Tuhan mengguyurkan air hujan di bumi Jakarta. Hawa yang tadinya panas, bahkan malam hari sekalipun berubah menjadi sejuk. Bau tanah yang khas setelah tersiram air hujan mulai tercium. Semua penduduk bakalan senang karena permukaan air tanah di sumur mulai meningkat lagi. Masalah sumur yang mengering bakalan terjawab. Tidak ada lagi yang harus cuti kerja untuk meningkatkan kedalaman sumur. Hehehe…

Kalau tanaman bisa ngomong, pasti dia juga akan berteriak kegirangan karena bisa mandi dan minum sepuas-puasnya. Tanaman yang ngambek berbunga tak lama lagi akan berlomba-lomba memunculkan bunga-bunga aneka warna.

Pengendara motor yang semula mengeluh jalanan lebih berdebu dan panas, setidaknya bisa berlega hati. Untuk sementara besok pagi, debu akan menghilang tersapu air hujan. Panas yang tercipta dari pantulan sinar matahari pada permukaan aspal akan lebih berkurang pantulannya.

Begitu juga dengan aku. Sebagai pengendara sepeda motor dan pengguna air sumur ikutan bersorak. Thanks God, akhirnya ada juga hujan deras lagi.

Merayakan hujan deras pertamaku, aku sengaja berhujan-hujanan naik motor. Sebelum pulang, aku tahu bakalan terjadi hujan deras karena saat turun dari lantai 4 bunyi percikan air hujan sudah cukup keras. Tetap saja aku nekat pulang. Bahkan aku membiarkan sepatu “Geox”ku melindungi sepasang kaki tanpa harus ganti sandal jepit.

Benar dugaanku. Aku baru memakai jas hujan kuning, hujan tanpa bisa di hentikan sudah muntah ke bumi. Ingin menyembunyikan tas punggungku di balik jas hujan jelas gak bisa karena jas tidak bisa dikancingkan dan pasti seperti kura-kura. Akhirnya kubiarkan tas menggantung di punggung tanpa perlindungan apapun.

Hujan semakin deras saat aku pulang. Aku harus ekstra hati-hati kalau tidak mau jatuh terpeleset. Pandanganku mulai kabur karena terhalang air hujan. Bahkan mataku mulai perih terkena air hujan. Mau menutup cover helm jelas gak mungkin karena sama sekali tidak terlihat pandangan di depan. Meski awalnya sempat mengumpat-umpat tapi aku tetap menikmati hujan deras pertama ini.

Sampai di rumah, ruang tamu rumah kontrakanku bocor. Air sudah menggenang di pinggir tembok. Untung Yoke sudah pulang jadi setidaknya sudah teratasi. Aku melihat kondisi tas punggungku. Ya ampun. Benar-benar basah kuyup! Segera kubuka dan kukeluarkan isinya. Hampir sebagian buku-buku dan kertas yang ada di dalam tasku basah. Satu persatu aku keluarkan dan ditaruh di atas TV, jemuran handuk, dan di lantai. Sepatu yang basah kuyup segera dimasukkin kertas koran untuk mempermudah pengeringan. Pokoknya heboh sendiri. Setelah kejadian itu, jadi terpikir untuk beli sepatu boot karet dan cover penutup tas anti air.

Semoga curah hujan yang mengguyur bumi Jakarta tidak terlalu tinggi. Karena pasti di akhir tahun akan ada cerita sedih lagi, yaitu banjir. Tapi dugaanku, jika curah hujan tidak tinggi, Jakarta tetap aja akan banjir. Lihat saja sungai-sungai masih penuh sampah belum sempat (atau gak diambil ya) oleh pemerintah. Sungai juga mendangkal karena sedimentasi yang belum dikeruk. Saluran drainase yang melingkari Jakarta pastinya juga sama.

Bagaimanapun…hujan deras di malam akhir Oktober cukup menyenangkan seluruh masyarakat Jakarta. Setuju gak?

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s