Back to School II

Awal tahun lalu, seorang temanku mengajakku untuk mengunjungi pameran-pameran pendidikan luar negeri. Meski terkadang ogah-ogahan kalau diajak, aku berusaha untuk ikut mencari informasi dan brosur-brosur. Di otakku cuma ada 2 jurusan yang aku inginkan. Jurusan pertama masih berhubungan dengan S1 ku dulu. Sedangkan yang lain adalah wujud idealismeku yaitu belajar tentang lingkungan. Brosus-brosur yang kukumpulkan Cuma kutumpuk dan kumasukkan dalam sebuah map. Di bagian luarnya aku beri tulisan “You can do it”. Entah kenapa, aku membubuhkan tulisan itu. Aku cuma berharap tidak melupakan brosur-brosur itu dan harapanku, meski harus mati-matian menggapainya.

Pertengahan tahun lalu, tiba-tiba saja bos bertanya mengapa aku tidak melanjutkan sekolah lagi. “Kamu kan masih single, gak ada tanggungan, kenapa gak sekolah lagi?” katanya. Aku Cuma bisa tersenyum kecut dengan pertanyaan beliau. Habisnya, aku merasa gak mungkin untuk melanjutkan sekolah sambil bekerja. Apalagi bekerja di sebuah media yang waktunya gak menentu. Aku sudah membayangkan bakalan capek, gak punya waktu untuk main dan bersosialisasi dengan teman-teman. Malah sempat berpikir, kapan ya punya pacarnya kalau waktuku harus tersita lagi untuk sekolah. Saat itu, aku juga gak terpikir sama sekali mau ambil bidang apa jika sekolah lagi. Entah kenapa tiba-tiba jurusan yang ada tadinya sudah menempel di otak, menguap entah kemana.

Namun, pertanyaan bos itu sempat membuatku agak stres. Pasalnya, meski tidak mengejar-ngejar, tapi rutin menanyakan hal tersebut padaku. Akhirnya aku bercerita pada sahabatku mengenai keresahanku. Sahabatku hanya berpesan,” gak papa Put kalau kamu merasa gak bisa melakukannya kali ini. Namun, jangan sampai kau lupakan harapanmu itu. Suatu saat pasti akan terwujud”. Nasihatku itu membuatku tenang dan tetap kusimpan dalam hati.

Alasan lainnya, aku gak mau dianggap karena ikut trend. Pasalnya, banyak sekali orang-orang di sekitarku yang melanjutkan sekolah untuk mengambil gelar S2 dengan tujuan meningkatkan karir, gelar dan gengsi. Orang-orang ini mengambil jalan pintas untuk mendapatkan gelar S2 dengan membayar sejumlah uang supaya cepat lulus. Jelas hal ini menodai sistem pendidikan Indonesia.

Aku hanya ingin, aku melanjutkan sekolah karena suara hatiku dan idealismeku.

Keinginan Tiba-Tiba

Sampai akhir 2005, sama sekali aku belum memikirkan soal sekolah. Aku masih menjalani kehidupanku seperti tahun-tahun sebelumnya. Kursus, liputan, survei, menulis, jalan dengan teman-teman, travelling, dan fotografi masih mendominasi kegiatanku sehari-hari.

Namun, karena peristiwa banjir di Jember dan tanah longsor di Banjarnegara, tiba-tiba saja aku jadi pingin sekolah lagi. Aneh kan? Sampai sekarang aku belum menemukan jawabannya. Namun, satu hal aku yakin dengan semua rencana Tuhan untukku. Aku tinggal menjalaninya saja.

Perkataan bupati Jember mengenai penyebab banjir di Jember itulah yang membuatku sangat marah dan sempat mengomel-ngomel. Masa seorang bupati bisa mengatakan penyebab banjir di Jember bukan karena penggundulan hutan atau alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan. Bupati Jember mengatakan penyebabnya adalah faktor alam, curah hujan yang terlalu tinggi. Bergegas aku membongkar lagi buku-buku mengenai banjir yang sempat menjadi bacaan favorit saat menyusun skripsi.

Buku tersebut mengatakan bahwa penyebab banjir selain karena faktor alam seperti curah hujan yang tinggi, kondisi topografis di dataran rendah juga karena ulah manusia. Untuk kasus Jember, itu jelas karena ulah manusia. Karena lahan di daerah hulu yang tadinya berupa hutan lindung, dirubah oleh masyarakat menjadi lahan perkebunan yang memang lebih menguntungkan dari sisi ekonomi.

Kejadian banjir ini kembali mengingatkanku tentang idealismeku bersama Onty sahabatku saat kuliah untuk belajar mengenai ilmu lingkungan. Tiba-tiba saja idealisme itu muncul lagi. Sayang, Onty sudah meninggalkanku sehingga tidak bisa membantuku lagi berdiskusi tentang masalah lingkungan.

Tadinya aku tertarik untuk belajar mengenai Manajemen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai di IPB. Jelas gak mungkin karena terlalu jauh dan pasti mengganggu waktu kerjaku. Langsung aku teringat pada sebuah jurusan di UI yang dulu sempat aku intip. Ya…jurusan kajian ilmu lingkungan.

Saat sudah menemukan jurusan yang ingin kupelajari, kebimbangan kembali menyelimutiku. Keragu-raguan dan ketakutan akan kehilangan semua waktuku kembali muncul. Semua berkecamuk di dalam diriku tanpa bisa diceritakan pada orang lain, bahkan pada orang tuaku. Aku Cuma sempat mengungkapkan kegalauanku lewat doa saat aku berkunjung ke Gereja Ganjuran.

Namun, mau gak mau harus ada orang yang mendengar kegalauanku karena aku butuh saran darinya. Aku memilih seorang teman kantor yang bertugas di Yogya. Aku percaya dia bisa memberikan saran terbaik dan menyimpan rahasiaku. Dia sangat setuju dan mendukung penuh keinginanku.

Saat keinginan sudah bulat, bahkan formulir pendaftaran seharga 400 ribu sudah ditangan, masih saja aku galau dan bingung. Namun, dorongan dari teman di Yogya itulah yang membuatku kembali memujudkan keinginanku.

Cobaan masih belum usai. Saat mau ujian masuk, aku diributkan oleh urusan pindah rumah kontrakan. Rasanya kacau sekali bulan-bulan itu. Bete berat…Untung semua berhasil kulalui walau test TPA hari pertama, aku tidak bisa mengerjakannya dengan sempurna. Aku pasrah.

Sebulan kemudian, pengumuman kelulusan keluar. Diluar dugaanku, aku lolos dan berhasil diterima masuk di Jurusan Kajian Ilmu Lingkungan UI. Senang tapi juga bercampur ketakutan. Pasalnya, masih ada keragu-raguan apakah bisa menjalaninya.

Sekarang, aku sudah benar-benar melaksanakan idealismeku. Aku sudah kembali ke bangku sekolah lagi. Awalnya memang berat karena aku masih belum bisa lepas dari ketakutan dan keragu-raguanku. Akan tetapi, aku berusaha menghilangkannya dan menjalaninya dengan senang hati. Beruntung, ke-13 temanku adalah teman-teman yang baik, lucu, pintar dan saling dukung. Paling gak membuatku betah di ruang kuliah, meski dosennya aneh-aneh dan unik.

Semua ketidak enakan sedang kujalani. Dalam sehari tidur hanya 6 jam, harus bolak-balik dan berpanas-panas naik motor dengan rute yang sama setiap harinya, dan sedikit kehilangan waktu untuk bisa bersosialisasi dengan teman-teman. Tapi sesuai dengan pribahasa, bersakit-sakit dulu bersenang-senang kemudian. Aku Cuma punya satu keyakinan, semua ketidak enakkan yang sedang kutempuh demi masa depan yang cerah (karir, ilmu, jodoh, dan harapan baru).

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s