Back to School I

Akhirnya kupuaskan kerinduanku untuk bisa berkata-kata lagi. Gak tanggung-tanggung sampai berlembar-lembar.

“Kalau nanti sampai bulan Juni kamu belum dapat pekerjaan, sekolah lagi aja ya,” kata bapak ibu, saat menginjak bulan ke-4 aku menganggur. Mendengar itu aku hanya bisa bergidik ngeri. Bahkan merasakan itu bagai sebuah ancaman yang sangat membahayakan. Bagaimana tidak, aku harus memilih jurusan S2 yang mirip dengan ilmu yang kudapat saat S1. Pada perguruan tinggi yang sama pula. Berarti aku harus ketemu lagi dengan dosen-dosen yang aneh itu. Hiii…syerem…menyebalkan. Kapan majunya ya?

Aku sempat mengelak gak mau melanjutkan S2 karena tidak ingin membebani orang tuaku lagi yang setahun lagi pensiun. Padahal saat itu adikku belum lulus SMA. “Yah, nanti kan uangnya bisa dicari-carikan,” kata ibuku saat aku menentang keputusan ortuku. Aku paling gak suka dengan pernyataan itu. Berarti jelas-jelas akan sangat merepotkan.

Alasan yang lain, aku gak suka dengan jurusan S2 yang disarankan ortuku. Magister Teknik Perencanaan Kota (MTPK), disarankan untukku karena dirasa tidak akan jauh berbeda dengan ilmu yang kudapat saat S1. Keuntungan lain, aku lebih mudah mengikutinya. Namun, karena merasa dendam dengan seorang dosen yang membantaiku habis-habisan saat sidang ujian sarjana, aku jadi tidak suka.

Sambil omong ngawur, aku bilang ingin ambil S2 Arsitek. Pilihan yang aneh. Tapi itu obsesiku sejak dulu, pingin masuk jurusan arsitek tapi gak diterima.

Hampir saja aku menerima tawaran itu ketika sampai bulan ke-5 aku belum juga mendapat pekerjaan. Aku sempat nangis-nangis di depan sahabatku, saat aku gagal masuk kerja pada sebuah perusahan media. Sudah terbayang lagi wajah dosen-dosen aneh yang harus kutemui lagi saat kuliah S2.

Namun Tuhan berkehendak lain. Beberapa saat kemudian, aku diberi kesempatan untuk melaksanakan tes lanjutan pada perusahaan yang sama. Aku semakin senang ketika akhirnya aku diterima kerja pada perusahaan itu. “Berarti tidak ada keharusan lagi untuk melanjutkan S2 neh,” pikirku dalam hati.

Tawaran kedua

Setelah masuk kerja, aku harus bekerja keras untuk menerima semua pengetahuan baru. Setiap hari rasanya seperti sekolah. Semuanya terasa baru untukku. Saat kuliah, aku yang terbiasa menulis panjang lebar, harus belajar untuk menyederhanakan topik, kalimat, dan kata. Tulisan yang biasanya berlembar-lembar harus rela dipotong menjadi satu atau dua halaman saja. Gaya penulisan yang biasanya kaku karena untuk Rencana Tata Ruang harus berubah menjadi gaya penulisan jurnalistik yang menarik untuk dibaca.

Tulisan pertamaku sangat kacau dan masih berpanjang-panjang. Bahkan sempat kesulitan untuk membuat lead. Namun, setelah bolak balik ketik-hapus-ketik-hapus, tiba-tiba saja inspirasiku keluar dan berhasil. Tulisan pertamaku tentang profil daerah kab.Lampung Tengah. Sebelum membuat tulisan itu, aku harus melihat sendiri kondisi daerah tersebut. Pengalaman yang menarik karena baru pertama kali aku melangkahkan kaki keluar pulau Jawa (setelah pulau Bali). Untung saja, ada sepupuku yang tinggal di Bandar Lampung, sehingga merasa tenang ada yang kukenal di luar jawa.

Perjalanan-perjalanan berikutnya, sangat kunikmati. Meski harus bersusah payah untuk mencapai kabupaten/kota yang akan kutulis. Aku berpikir, ini pekerjaan yang sangat menyenangkan. Hobi travellingku bisa tersalur tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Banyak teman-temanku yang iri dengan semua perjalanan-perjalanan yang kulakukan.

Di tengah proyek profil daerah (otonomi daerah), aku ditugaskan untuk membantuk Litbang Jawa Timur yang kekurangan orang. Lagi-lagi aku mendapat banyak pelajaran berharga saat bertugas di Jawa Timur. Selain ilmu, juga menambah banyak relasi dan kenalan. Hhhmm meski awalnya aku sempat stres karena tidak suka dengan kota Surabaya.

Tahun-tahun berikutnya, ilmu yang kudapat semakin banyak. Aku disuruh ikut jurnalistik di sebuah lembaga jurnalistik. Saat kursus, pengetahuanku semakin berkembang. Aku semakin percaya diri untuk terus menulis dalam bidang apapun. Apalagi saat aku bertugas di desk metro. Semua ilmu yang kudapat saat kuliah tercurah di dalam semua tulisan yang kuhasilkan. Saat itu, semua buku-buku kuliah yang sudah ‘terkubur’ lama kubongkar lagi. Bahkan sampai meminjam pada beberapa teman kuliahku. Aku juga sering tukar pikiran dengan beberapa teman kuliah yang masih menekuni dunia perencanaan.

Saat asyik dengan dunia itu, aku dipindah lagi ke tempat semula. Huah… meski sebel aku berusaha menerimanya. Karena aku Cuma berpikir, ada keuntungannya jika mengetahui banyak bidang. Bahkan dari bidang otonomi daerah, sekarang aku mengurusi bidang pendidikan dan kesehatan.

Belajar dari nol lagi. Karena aku sama sekali buta mengenai pendidikan dan kesehatan. Lama-lama, aku mengerti dan menguasainya, meski untuk bidang kesehatan masih harus banyak belajar dan bertanya.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s