Perut Melilit di KA Sembrani

Rabu sore itu (16/8) aku cukup berseri-seri melangkahkan kakiku di Stasiun Gambir. Aku akan pulang ke Semarang. Sebenarnya bukan kali pertama aku melakukannya setelah lima tahun kerja di Jakarta. Namun, kesempatan pulang kampung (pulkam) bersama teman-teman kuliah baru bisa kurasakan pada libur 17-an kali ini.

Ide pulkam bersama juga tercetus tidak sengaja diantara kami bertiga, aku, Soni, dan Danis. Bahkan tiket KA pun tidak dibeli pada saat bersamaan. Namun, karena punya pikiran yang sama, kami bertiga memilih naik KA Sembrani untuk pulkam ke Semarang. KA Sembrani adalah KA jurusan Jakarta-Surabaya yang melewati kota Semarang. Harga tiketnya terbilang cukup murah dibandingkan kereta-kereta eksekutif lainnya. Karena kita tidak membeli tiket dalam waktu yang bersamaan, tentu saja tidak bisa duduk berdekatan dalam satu gerbong. Soni duduk di gerbong 5 dan kebetulan sekali, aku dan Danis mendapat gerbong yang sama, gerbong 3.

Semakin senang saat secara tidak sengaja pula kami bertemu dengan teman kuliah yang lain. Kebetulan aku dan Danis mendapat nomor kursi yang sama, hanya berbeda lajur. Saat sedang sibuk mengatur tas, aku melihat sosok pria yang mirip suami temanku, Orlin. Namun aku ragu-ragu untuk menyapa karena sudah dua tahun lebih aku tidak bertemu dengannya. Aku baru akan menanyakan kebenaran penglihatanku pada Danis, tiba-tiba aku tersadar kalau penumpang yang duduk di depanku adalah Orlin, temanku.

Huah…kami bertiga histeris kegirangan. Pasalnya sudah lama banget kami tidak bertemu. Juga baru kali ini aku bertemu dengan anaknya yang sudah berumur dua tahun. Tiba-tiba saja terjadilah reuni singkat di antara kami. Sebelumnya aku sempat memberi tahu Soni via sms, mengenai pertemuan kami dengan Orlin.

Kami berlima ribut sendiri, sampai gak sadar kereta api sudah meninggalkan Gambir. Saling cela kembali keluar dari mulut kami masing-masing. Mungkin penumpang yang lain terganggu dengan keributan kami berlima. Tapi seperti biasa kami tidak peduli. Sayang, keributan ini terhenti karena Soni harus segera kembali ke gerbongnya.

Saat itu sudah pukul 19.00. Waktu yang tepat untuk makan malam. Beberapa Petugas KA sudah mulai mengedarkan baki-baki besar yang diatasnya tertumpang piring-piring nasi goreng, segelas kopi susu, susu, dan teh. Hhmm bau nasi goreng yang lezat mulai menggelitik perutku yang sudah kosong. Imajinasiku tentang kelezatan nasi goreng mulai mengotori pikiranku. Dalam hati aku cuma berkata,”sabar Put, sebentar lagi pasti jatah makanan dari KA keluar”.

Berdasarkan pengalamanku yang sudah beberapa kali naik KA Sembrani, setelah beberapa petugas KA mengedarkan baki berisi nasi goreng, beberapa saat kemudian ‘gerobak’ khusus yang berisi baki-baki makanan segera beredar. Akan tetapi, kali ini berbeda. Berpiring-piring nasi goreng sudah mondar-mandir tapi tidak tampak tanda-tanda jatah makanan akan keluar.

Aku sudah mulai resah gelisah. Aku mencoba untuk membaca “The Zahir” yang sudah kukeluarkan dari tas sedari tadi. Akan tetapi, perut lapar mengganggu konsentrasiku untuk membaca. Aku melirik teman sebelahku, Danis. Tampaknya dia masih sibuk membaca koran Sindo. “Wah kok Cuma aku yang gelisah ya,” pikirku dalam hati.

Kucoba untuk memejamkan mata sambil memeluk bantal kecil. Lagi-lagi susah sekali. Pikiranku benar-benar sudah ternoda oleh imajinasi sepiring nasi goreng. Untung saja anak Orlin masih sesekali mengajakku bermain dari balik kursinya. Aku masih mencoba untuk meladeninya. Namun tetap saja tidak bisa dinikmati.

“Put, aku lapar,” kata Danis tiba-tiba. Ya ampun, ternyata Danis juga ikut lapar. Kupikir cuma aku yang lapar. Danis juga heran, mengapa sudah pukul 20.00, makanan belum juga keluar. Keresahanku sudah memuncak. Iseng aku menulis sms pada Soni.

Puti : Resah gelisah menunggu makanan datang

Soni : Iya nih, jangan-jangan gak ada makanan

Puti
: Seharusnya ada. Sepertinya jatah makanan ditunda biar nasi goreng yang dijual itu laku.

Soni : Yoi…jahat emang. Dari tadi perut menari-nari. Karepe irit, perut malah melilit

Puti : Iya neh. Kalau aku tadi malas beli roti karena bawaanku sudah banyak. Lagian yakin

dapat jatah makanan. Pelajaran neh:belilah roti Holland sebelum naik KA

Tiba-tiba Danis nyeletuk,”Put gimana kalau oleh-oleh donat JCO nya kita buka aja. Ya ampun aku sampai lupa kalau ada dua dus donat JCO diatas kepalaku. “Yah tapi itu kan untuk oleh-oleh keluargamu, Nis. Nanti ibumu bingung, ada beberapa donat yang hilang.”

Kuteruskan kegiatan sms-an dengan Soni

Puti : Eh Son, ada donat JCO tuh diatas kepalaku milik Danis. Lumayan ya kalau dimakan.

Hihihi.

Soni : Kita bikin pingsan aja tuh anaknya. Terus kita comot donatnya. Paling-paling dia gak

tahu. he5X “jahat mode on”

Puti : hehehe…gak usah dibikin pingsan, Danis sudah pingsan karena kelaparan 8P.Danis tadi

juga sudah nawarin donatnya tapi gak tega makan oleh-oleh untuk keluarganya.

Sms sudah terhenti karena aku sudah putus asa mengatasi keresahanku. Kucoba untuk meng-sms temanku yang lain untuk sekedar menumpahkan kekesalanku.

Karena capai berharap, aku tertidur. Begitu juga Danis.

Rupanya saat aku menghentikan sms dengan Soni. Soni masih belum bisa menyembuhkan keresahannya. Dua sms bertubi-tubi masuk ke HP ku.

Soni : Naga2nya gak dikasih makan neh. Mana dingin pula. Ga ada selimut lagi

Soni : Gila neh. Jangan-jangan gak dikasih makan. Bedebah benar.

Beberapa saat kemudian, aku terbangun karena tersedak. Begitu membuka mata, samar-samar aku melihat petugas KA sudah mulai mendorong-dorong ‘gerobak’ makanan. Aku sempat gak percaya dengan penglihatanku. Kacamata yang kucantolkan di baju, segera kupakai. Aha…ternyata benar. Jatah makanan sudah mulai beredar. Legalah hatiku. Segera kubangunkan Danis. Ternyata Danis sudah tahu.

Segera kubetulkan posisi dudukku. Kubuang bantal ke bawah kursi. Tak lupa untuk sms Soni, “Tenang Son, makanan sudah datang di gerbongku. Sebentar lagi sampai di gerbongmu.

Makanan sudah terhidang di pangkuanku. Seperti biasa, menunya tidak berubah dari saat aku terakhir naik Sembrani 2 bulan yang lalu. Nasi dan telur ceplok yang ditempatkan di tempat alumunium foil, oseng-oseng buncis dan kentang, sepotong ayam kecil, ditambah seplastik kecil kerupuk udang, dan pisang. Aku hampir gak berselera dengan makanan itu. Namun, karena mengingat perutku yang kosong, mencoba untuk memakannya. “Daripada penyakit maagku kumat,” pikirku.

Namun, saat akan memakan oseng-oseng buncis, aku merasakan bau yang gak enak. Gila, oseng-oseng buncisnya sudah basi. Segera aku memberi tahu Danis dan Soni. Meski kami bertiga mengumpat-ngumpat dalam hati, makanan yang terhidang tetap dihabiskan.

Makanan habis, aku bergegas menuju toilet. Aku merasa segar kembali. Resah gelisahku hilang. Tak lama kemudian selimut-selimut mulai beredar. Aku mencoba tidur dengan selimutan. Mencoba menghilangkan kekesalanku.

Rupanya Soni belum bisa menghilangkan kekesalan itu. Beberapa sms kekesalan masuk lagi ke Hpku.

“Iya aku juga gak makan oseng-oseng buncis itu kok. Tulis di surat pembaca yuk”

Dan sekarang aku benar-benar menuliskan pengalaman ini. Bukan di surat pembaca tapi di multiply. Perut melilit di KA Sembrani.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s