Me vs. High Heels Shoes

“Pak, Bu, aku berangkat dulu ya,” kataku sambil melambaikan tangan dan berlari-lari kecil menuju motor RC100 ku yang sudah nangkring di depan rumah. Hampir saja aku terpeleset di depan pagar rumah karena berlari-lari. Aku lupa kalau kali ini memakai High heels shoes. Untung aku masih sempat berpegangan tembok sebelum benar-benar terpeleset.

Kembali aku mengatur langkahku menuju motor. Kali ini selamat sampai di depan motor. Tas kecil kucantolkan di bahu. Jaket dan helm segera kupakai. Pelan-pelan aku menaiki motor dan mulai menyalakan mesin motor. Namun tiba-tiba,”Gubrak aku jatuh dengan motor yang sudah menimpa tubuhku.” Sambil tergopoh-gopoh bapak keluar dari rumah dan segera mengangkat kembali motor yang menimpa tubuhku.

“Ana apa, Tik?”, kok tiba-tiba jatuh. Sambil meringis menahan sakit aku menjawab,”gara-gara sepatu hak tinggi ini. Tiba-tiba hak sepatu nyantol di alat starter dan aku tidak dapat menahan keseimbangan tubuhku.” Bapakku hanya bisa geleng-geleng mendengar penjelasanku. Kemudian beliau segera menyalakan mesin motorku. “Nih, motornya sudah siap. Hati-hati ya nanti,” kata bapakku.

Setelah aku membersihkan tanah-tanah yang menempel di bajuku, aku mulai menaiki motor. Hampir saja aku batal menghadiri acara pesta pernikahan kakak temanku gara-gara sepatu hak tinggi.

Itu cerita sepuluh tahun yang lalu. Saat itu, bukan kali pertama aku memakai sepatu hak tinggi. Namun, tetap saja aku selalu kagok memakainya. Aku selalu merasa grogi dan tidak nyaman saat memakainya. Gerakanku merasa dibatasi. Padahal aku dikenal sebagai cewek yang gesit dan lincah. Hehehe… Setelah memakai sepatu yang membuat diriku bertambah tinggi 3 centimeter itu, aku merasa pegal-pegal yang rasanya mirip setelah hiking seharian. Padahal aku cuma memakai sepatu itu satu jam!

Kali pertama aku memakai sepatu hak tinggi setelah lulus SMA. Saat itu ibuku yang sengaja membelikanku sepatu hak tinggi. “Kamu harus belajar memakainya. Nanti kalau kerja pasti memakai sepatu hak tinggi,” kata beliau saat membujukku memakai higheel. Aku Cuma bisa merengut saat ibuku berkata itu tanpa bisa menolaknya. Beberapa hari kemudian, aku dibawa ke toko sepatu. Disana ibuku sibuk memilih sepatu hak tinggi untukku.

Sepatu hak tinggi pertamaku adalah sepatu berhak 3 cm warna hitam yang menurutku mirip sepatu bu guru. Bunyinya juga cukup berisik saat dipakai,”cethok..cethok.” Aku hanya bisa menurut saat ibu membayar sepatu itu di kasir. “Karna sepatu ini sudah terbeli, kamu harus belajar memakainya. Pakailah saat ke Gereja,”kata ibuku tegas.

Hari minggu tiba. Aku mencoba memakai sepatu itu supaya ibu senang. Pertama kali memakainya rasanya cukup aneh. Separuh telapak kakiku rasanya melayang. Dua buah kelingking kakiku sampai melepuh karena belum terbiasa memakai sepatu tanpa kaos kaki. Berjalan pun rasanya seperti saat pertama kali belajar berjalan. Saat bapak, ibu, dan adikku sudah sampai di depan pintu gereja, aku masih tertatih-tatih berjalan sambil sesekali melihat ke arah sepatuku. Bapakku sudah gak sabar melihat jalanku yang lamban, apalagi adikku. Ibuku hanya bisa tertawa melihat tingkahku. “Ya ampun, kamu mirip anak yang habis disunat deh”. Aku cuma bisa meringis menahan sakit.

Sampai di dalam gereja, aku memilih melepas sepatuku sepanjang misa berlangsung. Hhhmm selama lebih kurang satu jam aku merasa bebas. Tapi…aduh…mati aku. Bagaimana saat komuni nanti ya? Berarti aku harus berjalan ke depan dan menggunakan sepatu yang membuatku tersiksa itu. Alamak… “Bisa-bisa orang yang berbaris di belakangku marah karena aku berjalan terlalu pelan”. Apakah aku harus melepas sepatu itu ya? Wah pasti aneh. Pikiran-pikiran itu terus meracau-racau di kepalaku, membuat aku tidak bisa berkonsentrasi mengikuti misa.

Entah kenapa, semua kekhawatiran itu lenyap saat komuni tiba. Aku memilih untuk tetap memakai sepatu berhak 3 cm itu. Dan…aku bisa berjalan wajar, meski langkahku tidak secepat kalau aku tidak memakai sepatu hak tinggi. Namun, tetap saja rasa perih terasa.

Sepulang misa, kejadian terulang lagi. Lagi-lagi aku tertinggal rombongan keluargaku. Bapak sudah siap menyalakan mesin mobil. Akan tetapi, aku masih tetap tertatih-tatih dengan sepatu baruku.

Melihat penderitaanku itu, ibu akhirnya menasehatiku. “Kalau pakai sepatu hak tinggi itu jangan dibikin tersiksa. Letakkan semua beban tubuh itu di dasar sepatu, meski dasar sepatu tidak rata. Masih mending kamu memakai hak tinggi yang cukup tebal, bukan hak tinggi yang lancip (stilletto).”. Aku masih bengong dengan pernyataan ibu. Bagaimana bisa meletakkan seluruh beban tubuh di dasar sepatu yang tidak rata?

Meski masih gak ngerti dengan pernyataan ibu, aku berusaha belajar memakai sepatu hak tinggi. Minggu kedua memakai sepatu hak tinggi, aku sudah bisa berjalan cepat. Setidaknya menyamai langkah rombongan keluarga.

Minggu-minggu berikutnya ak
u sudah berlari-lari kecil karena tiba-tiba anjing gereja mengejarku. Hehehehehe…Bahkan aku mulai bisa naik motor sambil memakai sepatu hak tinggi. Meski pertama kali memakainya terjadi tragedi jatuh dari motor.

Aku memang sudah mahir memakai sepatu hak tinggi. Namun tetap saja aku tidak bisa nyaman dengan sepatu itu. Seperti yang sudah kuceritakan tadi, diriku merasa tidak aman dan cepat merasa lelah saat menggunakan sepatu itu. Tapi sebagai seorang wanita, aku tidak boleh menganggap musuh sepatu hak tinggi. Sekali-kali waktu aku harus memakainya dalam kesempatan-kesempatan tertentu.

Setelah puas melihatku sebagai wanita yang feminim, ibu mencoba membelikanku sepatu sandal hak tinggi. Kali ini alasan beliau supaya aku terlihat anggun saat mengenakan gaun brokat warna putih pada pernikahan sepupuku. “Sepatu yang hitam itu gak cocok dengan gaun putihmu. Lagian kurang tinggi. Nanti gaun putihmu kotor kena tanah lho,”bujuk ibuku saat membawaku ke toko sepatu. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar penjelasan ibu.

“Aduh ibu ini belum puas melihat anak perempuannya yang tomboy ini kepayahan mengenakan sepatu hak setinggi 3 cm,” pikirku. Kali ini sepatu sandal yang dibelikan ibuku berwarna biru tua mendekati warna hitam dan berhak 5 cm! Alamak…kacau deh.

Entah kenapa aku menurut saja perintah ibu. Mumpung ibu berbaik hati membelikan sepatu. Dengan sepatu sandal biru itu aku tidak menemui kesulitan saat pertama kali memakainya. Namun lebih capai karena haknya bertambah tinggi 2 cm. Hasilnya, aku tampak anggun di pesta pernikahan sepupuku. Meski berulang kali aku harus mengangkat gaunku yang panjang karena mengganggu langkahku.

Sepatu-sepatu hak tinggi selanjutnya datang tiba-tiba di hadapanku. Aku sampai takjub melihat sepatu-sepatu hak tinggi sudah nangkring di rak sepatu. Sepatu itu aku dapat dari tetangga sebelah rumah. Budhe Mar, begitu aku memanggilnya memberiku 2 pasang sepatu sandal hak tinggi warna hitam.”Ini untuk Puti. Ada orang tua murid yang memberikan 2 pasang sepatu ini untuk budhe. Budhe kan sudah gak pantas memakainya,” begitu kata tetanggaku yang berprofesi sebagai guru SMP. Aku hanya bisa melongo melihat kehadiran 2 pasang sepatu itu. Upss hampir saja aku lupa mengucapkan terima kasih saking takjubnya.

Dua pasang sepatu itu lebih aneh modelnya. Hak tinggi di belakang setinggi 5 cm. Tapi di bagian depan sepatu ini juga cukup tebal. Akhirnya aku menyebut sepatu aneh ini sebagai alat untuk melempar anjing. Hehehe…

Mungkin ibuku bersyukur dengan kehadiran 2 pasang sepatu itu. Berarti tugasnya untuk membelikanku sepatu hak tinggi untuk sementara berhenti. Sedangkan aku, meski takjub juga mencoba untuk mensyukuri. Setidaknya bisa untuk ganti-ganti sepatu saat ke Gereja atau kondangan.

Setelah lulus kuliah, aku mendapat panggilan kerja di sebuah media nasional di Jakarta. Sepatu hak tinggi ‘bu guru’ tak lupa kubawa. Pikirku supaya terlihat resmi dan formal saat mengikuti tes-tes masuk. Rupanya sepatu itu cukup berharga untuk mengantarku mendapatkan pekerjaan itu.

Sayang, setelah masuk kerja, sepatu itu kutanggalkan dan tersimpan rapi di dus sepatu. Aku masih merasa tidak nyaman memakai sepatu itu. Masa naik turun bis, mengejar bis harus memakai sepatu hak tinggi. Bagiku itu sangat menghalangi gerak tubuhku. Aku memilih kembali memakai sepatu kets, sepatu tertutup tanpa hak, atau sepatu sandal tanpa hak saat pergi ke kantor. Kebetulan sekali (bersyukur) tempat kerjaku tidak mengharuskan para karyawatinya memakai sepatu hak tinggi.

Sejak saat itu aku hanya memakai sepatu hak tinggi saat kondangan. Saat ke gereja, aku memilih memakai sepatu kets, atau sepatu tertutup lainnya, pokoknya sepatu tanpa hak dengan alasan keamanan. Bagaimanapun naik sepeda motor di Jakarti itu beresiko tinggi, aku harus merasa senyaman mungkin dengan alas kakiku.

Meski begitu, terkadang kodrat wanitaku memanggilku untuk tampil feminim. Sesekali aku pingin memakai sepatu atau sandal hak tinggi. Dengan catatan, aku harus dibonceng teman cowokku, atau naik taksi. Kalau harus mengendarai motor sendiri, mendingan sepatu itu kumasukkan dalam bagasi motor. Selama perjalanan aku memakai sepatu kets.

Saat teman-teman cewekku asik melihat sepatu atau sandal hak tinggi di mal, aku tidak tertarik sedikit pun untuk melihatnya. Aku merasa gak ada gunanya membeli sepatu hak tinggi lagi. Toh aku pasti jarang memakainya. Aku lebih tertarik melihat-lihat sepatu kets, sepatu tertutup tanpa hak, atau sepatu sandal tanpa hak.

Mungkin karena itu, ketika tiba-tiba aku memakai sandal hak tinggi, pacar temanku kaget dan sempat bertanya,”Put mau kondangan ya?” Pasalnya saat malam minggu lalu, aku tampil cukup feminim dengan celana kain warna krem, kaos ketat bunga-bunga berlengan ¾ yang bernuansa coklat, tas jinjing coklat, dan sandal hak tinggi warna coklat.

Aku hanya bisa tersenyum kecil,”Aku Cuma mau nonton kok.” Dan dia cuma melongo dengan penampilanku.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s