Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga (Part III)

Baru kali ini cerber dilanjutkan. Berhubung 2 minggu terakhir aku sakit flu berat, kerjaan kantor menumpuk, dan laptopku dipinjam Tanti. Padahal ide-ide sudah meletup-letup siap keluar dari dalam otak.

Misa Jumat Agung kali ini terasa berbeda bagi Ocha karena didampingi sang pujaan hati. Padahal dari tahun ke tahun prosesi Jumat Agung selalu sama. Sayang karena saat itu Gereja penuh, Ocha dan Budi tidak mendapat tempat yang nyaman. Meski begitu, kenyamanan tetaplah bisa dinikmati. ”Gimana gak nyaman, ada Budi di sampingku,” kata Ocha dalam hati sambil cengar cengir sendiri.

Misa Jumat Agung yang berlangsung selama 3 jam terasa cepat. Saat masuk Gereja, langit Bandung masih terang. Sekarang sudah berubah menjadi gelap. Sepulang dari Gereja, Budi mengajak Ocha untuk menikmati serabi imut di kawasan Setiabudi. Sungguh enak menikmati serabi imut panas di tengah udara Bandung yang dingin. Ocha memesan serabi imut kornet keju plus secangkir Capuccino hangat. Sedangkan Budi memilih serabi bertabur coklat keju. Cocok dengan kesukaannya makan coklat.

Saking asyiknya makan serabi, Ocha lupa dengan niatnya. Mereka asik mengobrol soal tempat-tempat makan enak di Bandung. Kemudian berpindah pada makanan khas Bandung dan daerah-daerah lain. Akhirnya berujung pada Christin. Obrolan pun sama sekali tidak menyinggung soal sikap Budi pada Ocha. Mereka ngobrol seru sampai tiga jam lebih. Entah kenapa perasaan Ocha pada Budi saat itu sedikit bergeser. Ocha seolah-olah mengobrol dengan seorang teman lama, bukan dengan cowok taksirannya.

Jarum pendek sudah bergeser ke angka sembilan. Hawa dingin Bandung mulai terasa di kafe Serabi Imut. Isi piring sudah habis, begitu juga dengan cangkir Cappucino. ”Ayo, Cha. Kita pulang, sudah malam. Gak enak dengan ibu kost Christin,” ajak Budi pada Ocha. Ocha mengiayakan karena dia sudah mulai ngantuk dan kedinginan.

Tak sampai 15 menit, Ocha dan Budi sudah sampai di kost Christin di kawasan Cisitu. Christin tampak cemas menanti mereka berdua. Dia mondar-mandir di depan pintu kost. ”Aduh, kalian berdua kemana sih? Gak enak neh sama ibu. Sebentar lagi pintu gerbang depan ditutup,” kata Christin sambil merengut. Ocha dan Budi cuma bisa tertawa melihat sikap Christin. ”Sori ya, tadi kita ke serabi imut, kelamaan ngobrol jadi lupa waktu”

Setelah Budi pulang, Ocha dan Christin masuk ke kamar. ”Gimana, Cha? sudah tanya blum?” tanya Christin. Ocha hanya tersenyum,”belum je”. ”Walah gimana to? kupikir tadi lama membahas masalah itu”, kata Christin lagi. Ocha menerangkan situasi tidak mendukung untuk membahas masalah itu. Ocha sengaja tidak menyinggung masalah itu karena dia tidak ingin merusak suasana persahabatan dan pertemanan yang sudah mulai terbangun.

”Mungkin besok aku ngomongnya, Christ,” kata Ocha. Christin menimpali,”Besok? kan besok kamu mau ke Lembang?”. ”Yah besok, di jalan. Pas Budi ngantar aku ke Lembang,” jawab Ocha. Christin hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban Ocha. ”Ocha…Ocha…kamu kok gak konsisten to. Sudah kesini susah-susah, niatnya kok gak diwujudkan” ketus Christin.

Ocha hanya bisa tersenyum. Sebenarnya Ocha juga tidak tahu mengapa niat dia yang menggebu-nggebu tiba-tiba kendor setelah Misa Jumat Agung. Setelah menikmati serabi imut, setelah ngobrol dan bercanda dengan Budi. Dalam hati Ocha cuma bisa membatin,”Tuhan, apa yang sedang Kau lakukan untukku? Aku yakin tangan-Mu sedang bekerja untukku.”

Jumat malam itu, Ocha tidur dengan tenang. Senyum terus menghiasi bibirnya.

Perjalanan ke Lembang

Pukul 6.00 Ocha sudah bangun. Kali ini mendahului Christin. Sambil tersenyum-senyum, Ocha melenggang ke kamar mandi sambil menenteng handuk. Selesai mandi dia sengaja membawa gayung yang berisi sedikit air. Keisengan Ocha mulai muncul. Air dari gayung langsung dicipratkan ke muka Christin. ”Hap…hap….buah…Edan kowe Cha. Aku bisa mati karena jantungan lho,” umpat Christin. Ocha cuma tertawa-tawa melihat tingkah Christin yang terkaget-kaget sampai jatuh dari tempat tidur. ”Kamu ngapain sih, iseng banget,” kata Christin. Christin ter
heran-heran dengan keisengan Ocha dan mengambil sikap waspada. Yah Ocha sebenarnya cewek yang iseng. Namun keisengan itu sirna saat dia stress dan tertekan ”Hhhmm berarti kakakku ini sudah gak stress lagi ya,” kata Christin dalam hati. Namun tetap saja Christin bertanya-tanya mengapa tiba-tiba sikap Ocha berubah drastis.

Setelah mengisengi Christin, Ocha mulai bersiap-siap. Hari sabtu dia harus ke Lembang untuk bergabung dengan teman-teman cowoknya dari Jakarta. Di Lembang, Ocha akan mengadakan reuni kecil-kecilan dengan teman-teman kuliahnya. Dulu Ocha kuliah di jurusan Teknik Arsitektur UGM Yogyakarta. Reuni tidak diadakan di Yogyakarta karena hampir sebagian besar teman kuliah Ocha berdomisili di Bandung, Jakarta dan sekitarnya.

Tepat pukul 8.00 Budi menjemput Ocha dengan sepeda motor. Ocha segera berpamitan dengan Christin dan ibu kostnya. ”Aku ke Lembang dulu ya Christ. Sori sudah merepotkan, bye…” teriak Ocha dari balik pagar sambil melambaikan tangan. Dari dalam pagar Christin juga berteriak,”It’s Ok Cha. Aku gak merasa direpotkan. Sering-sering main ke sini lagi ya. Eits jangan lupa dengan niatmu lho.”

Ocha hanya tersenyum mendengar pesan Christin. ”Aku memang akan mewujudkan niatku saat ini juga,” batin Ocha. Mesin sepeda motor Budi sudah dinyalakan. Dengan cepat Ocha duduk di belakang Budi sambil menggendong tas punggung hitamnya yang besar. Entah kenapa, Ocha mulai iseng. Tiba-tiba saja dia memeluk erat pinggang Budi sambil menarik-narik baju Budi, mirip anak kecil yang dibonceng orang tuanya. Budi heran melihat tingkah Ocha tapi dia tetap mendiamkan sikap aneh Ocha.

Tiba-tiba Ocha membuka pembicaraan. ”Bud, kaget ya dengan keisenganku. Sori ya…aku lagi iseng berat. Gak papa kan kalau aku memegang erat pinggangmu,” kata Ocha. Budi hanya bisa menganggukkan kepala sambil terus bertanya-tanya ada apa dengan Ocha? Jangan-jangan dia mabuk serabi imut kemarin malam ya.

Kebetulan lalu lintas Bandung saat weekeng sangat padat. Semua kendaraan baik mobil maupun motor menuju Lembang. Terpaksa Budi mencari jalan pintas untuk menghindari kemacetan. Hal ini merupakan keuntungan bagi Ocha karena bisa melaksanakan niatnya.

Saat motor melintasi jalan yang sepi, Ocha mulai melaksanakan niatnya. Dia sudah merangkai kalimat bahkan sudah menghapalkannya dalam mimpi.

Ocha : Bud, bolehkah Ocha bertanya sesuatu padamu? (wah formal banget)

Budi : Boleh aja kok Cha. Apa sih?

Ocha : Hhmmm …e…e…. huk..huk…

Budi : Kamu kenapa sih? kok tiba-tiba batuk. Perlukah kita berhenti sebentar?

Ocha : Gak usah…gak usah…kalau kita berhenti nanti aku telat. Sudah ditunggu teman-teman.

Aduh…Adi sudah misscall pula

Budi : Ok deh…kita lanjutkan perjalanan kita ya. Tapi kamu mau nanya apa sih?

kok sepertinya susah banget.

Ocha : Ok deh Bud. Dengerin ya. (Jantung Ocha tiba-tiba berdebar cepat)

Bud, sebenarnya kamu ini nganggap aku apa sih?

Budi : Ya ampun, Cha. Cuma mau nanya itu to. Ya aku ini anggap kamu sebagai teman.

Bahkan lebih dari itu kamu itu sahabatku. Juga sudah kuanggap adikku sendiri. Kamu

kan tahu aku anak tunggal. Aku pingin kamu jadi adik perempuanku.

Ocha : (Upss jawaban yang sudah kuduga. Kenapa harus kutanyakan lagi. Bodohnya diriku)

Ya udah. Hehehehe senangnya punya kakak laki-laki. Dari dulu aku pingin punya

kakak laki-laki. Terima kasih ya Mas Budi. Bolehkah aku memelukmu sebagai tanda

persahabatan?

Budi : Boleh aja kok Cha. Tapi tadi aku sempat heran waktu tiba-tiba kamu memelukku erat.

Aku tadi sampai gak bisa bernapas lho.

Ocha : Hehehehe…maafkan yang tadi ya. Kan sudah kubilang aku lagi iseng.

Tapi Bud?…sebenarnya, aku cinta kamu. (Tiba-tiba saja alat penggilas jalan aspal ber-

suara berisik melewati mereka)

Budi : Apa Cha? sori aku gak dengar. Sialan tuh jogjig.

Ocha : Gak kok Bud. Tadi aku ngomel sendiri. Abisnya Adi misscall-misscall terus.

Perasaan Ocha campur aduk gak karuan. Antara lega, sedih, senang, bingung. Lega karena niat sudah diwujudkan. Sedih karena gayung cinta tidak bersambung. Senang karena semuanya jelas meski Budi tidak suka dengan Ocha tapi Ocha punya ’kakak’ baru. Dan bingung? yah karena semuanya terjadi begitu saja.

Tak terasa motor Budi sudah sampai di Hotel Lembang tempat teman-teman Ocha menginap. Di pintu gerbang hotel, Adi tampak was-was menanti kedatangan Ocha. ”Aduh, Cha. Kamu kok lama banget seh. Ditelpon kok gak diangkat-angkat. Gak dengar ya. Penyakit budheg mu belum diobati ya,” umpat Budi. Adi menanti Ocha di depan pintu hotel karena Ochalah yang membawa seluruh uang untuk keperluan reuni termasuk untuk membayar DP hotel.

Ocha hanya bisa tersenyum mendengar umpatan Adi. ”Sori ya Di. Aku benar-benar gak dengar. HP kutaruh di tas,” kata Ocha. Sebelum Adi ngomel panjang lebar, segera Ocha mengenalkan Budi pada Adi. ”Kenalin Di, ini Budi yang kemarin ketemu di Stasiun” Seketika itu omelan Adi berhenti,”oooo ini to yang namanya Budi. Ocha sering banget nyebut-nyebut nama Budi. Eh Cha, teman apa teman neh?” gurau Adi. Ocha tersenyum kecut dan berkata dalam hati. ”Maunya sih lebih dari teman atau kakak, tapi apa daya?”

Karena ditunggu oleh rombongan reuni, Ocha segera masuk ke hotel dan melambaikan tangan pada Budi yang juga harus segera meninggalkan Lembang. Perasaan Ocha masih campur aduk, tapi dia punya keyakinan bahwa Tuhan punya rencana lain dengan peristiwa ini.

Reuni

Saat reuni, Ocha tidak dapat menyembunyikan kegalauan hatinya. Dia gelisah sekali. Keceriaan dan keisengan yang biasanya hinggap di diri Ocha terbang entah kemana. Ocha cuma bisa berdoa dalam hati,”Tuhan, bantu aku menyelesaikan masalahku.” Saat teman-teman lain menari-nari di panggung, Ocha memilih duduk di pojokan sambil menikmati secangkir cappucino hangat kesukaannya.

Adi sahabat Ocha memerhatikan tingkah Ocha. Setelah selesai menari-nari dia menghampiri Ocha. Sambil meremas jari-jemari Ocha, Adi menatap wajah Ocha sambil berkata ”Cha, kamu kenapa seh? Ada mendung menggantung di wajahmu. Padahal baru sore tadi ada mentari di wajahmu.” Mau gak mau Ocha menyunggingkan senyum mendengar perkataan Adi yang sok berpuisi. Air mata Ocha sudah mengumpul di mata siap dimuntahkan. Akhirnya gak tahan dia menangis tersedu-sedu di pelukan Adi.

”Adi, aku putus cinta lagi,” kata Ocha sambil sesenggukan. Untung saja teman-teman tidak melihat adegan ini karena tempat mengobrol mereka cukup tersembunyi dari panggung. Meski Ocha dikenal tomboy, tetapi kalau sudah menyangkut urusan cinta, air matanya bisa membanjir kemana-mana. Bagaimanapun Ocha juga manusia kan.

Ocha menceritakan kisahnya dengan Budi. Saat mereka pertama kali bertemu, sms-sms Budi, sampai peristiwa terakhir tadi. Adi hanya bisa bengong mendengar cerita Ocha. Sambil menepuk-nepuk punggung Ocha, Adi mencoba menenangkan Ocha. ”Ya ampun, kamu kok gak pernah cerita sama aku seh? Aku kan sahabatmu. Siapa tahu aku bisa membantu kamu,” kata Adi. Ocha menjawab bahwa dia tidak cerita pada Adi karena tidak ingin membebani Adi dengan kisah cintanya yang gak mutu. Ditambah lagi saat itu Adi juga sedang ada masalah dengan pacarnya.

”Sekarang aku harus bersikap bagaimana ke Budi? Aku kan gak mungkin secepat itu mengubah perasaanku,” tanya Ocha pada Adi. Adi menjawab dengan lenguhan panjang karena sebenarnya dia pun sedang tidak dalam kondisi siap untuk memberikan saran pada sahabatnya itu. Adi hanya berkata,” ya udah to. Cintai Budi seperti kamu mencintai aku, sahabatmu.” Adi yakin pasti Ocha bisa melakukannya karena selama ini Ocha dikenal Adi sebagai perempuan yang tabah dan tegar.

Ocha lega. Semua uneg-unegnya sudah kluar. Adi sahabatnya pun sudah mengetahui masalahnya. Meski perasaannya masih campur aduk, namun Ocha yakin pasti dia bisa mengubah perasaannya pada Budi.

Kisah Ocha, Budi, dan Christin belum selesai. Meski nilanya sudah jatuh ke belanga susu, tapi susunya belum tercemar. Tunggu lanjutannya ya….

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s