Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga (part II)

Di tengah kebimbangan Ocha memutuskan hanya menganggap Budi sebagai seorang kakak. Suatu sikap yang netral, menurut Ocha dan tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Sms-sms Budi tetap berlanjut, Ocha tetap menanggapinya dengan perasaan yang lain.

Dua bulan berjalan. Saat itu, Christin minta tolong pada Ocha untuk mencarikan seorang pasien. Christin adalah seorang mahasiswa kedokteran yang terkadang membutuhkan sukarelawan untuk dijadikan pasiennya. Ocha teringat pada Dian, teman kuliahnya yang sedang belajar desain grafis di Bandung. Dian menyanggupi dan jadilah Dian sukarelawan pasien Christin. Sayang pada hari H, Dian membatalkan karena ada tes mid semester.

Christin bingung dan menelpon Ocha lagi. Tiba-tiba Ocha teringat pada Budi yang kebetulan tinggal di kota Bandung, tempat Christin kuliah. Awal Budi merasa keberatan karena dia tidak merasa sakit. Namun berkat bujukan Ocha, Budi menyanggupi untuk menjadi pasien Christin. Ocha tidak menyangka sama sekali pertemuan Christin dan Budi akan berbuah cinta.

Pada saat yang ditentukan, Budi datang menemui Christin dan siap menjadi sukarelawan pasien. Rupanya saat pertemuan pertama, Budi langsung jatuh cinta dengan Christin. Hubungan antara dokter dan pasien tidak hanya di Rumah Sakit saja. Akan tetapi berlanjut sampai di luar rumah sakit. Hampir setiap hari Budi mengunjungi Christin. Dari sekedar berbincang-bincang sampai berdebat beberapa hal.

Tanpa sepengetahuan Ocha, Christin menceritakan hubungan Ocha dan Budi kepada orang tuanya. Agaknya ini bentuk kegembiraan Christin karena Ocha telah menemukan tambatan hati. Selama ini Ocha memang dikenal cuek soal cinta. Rupanya orang tua Christin yang juga oom dan tante Ocha ikut merasa senang. Mereka Cuma berpesan pada Christin supaya tidak mengganggu hubungan Ocha dan Budi. Dan Christin pun menjawab,”tenang Bu. Budi bukan tipeku. Dia itu pria yang aneh.”

Saat itu, batin Ocha tengah bergulat sengit. Antara mendahulukan perasaan cintanya pada Budi dan mendahulukan rasionya bahwa Budi hanya menganggap Ocha sebagai seorang adik atau sahabat. Di tengah rasa penasarannya, Ocha memutuskan untuk pergi menemui Budi di Bandung. Kebetulan saat itu adalah libur paska. Meski tidak kebagian tiket KA Parahiangan, Ocha tetap ngotot pergi ke Bandung. Beruntung, ada beberapa teman laki-laki Ocha yang akan berlibur ke Bandung. Bersama-sama mereka nekat naik KA Parahiangan dengan tiket berdiri.

Ocha berangkat dengan rasa suka cita, memendam rindu sekaligus rasa penasaran pada Budi. Rasa capai duduk di selasar gerbong tidak dirasakannya. Bahkan rasa takut akan diturunkan di tengah perjalanan pun sirna.

Tepat jam 11.00 kereta memasuki stasiun Bandung. Saat itu hawa Bandung sangat dingin ditambah dengan hujan gerimis. Budi berjanji akan menjemput Ocha di stasiun. Ocha tidak dapat menyembunyikan kerinduannya untuk segera bertemu Budi. Karena terburu-buru, hampir saja Ocha terjatuh dari gerbong kereta. Untung saja teman-temannya siap merengkuhnya. “Ih Cha, kamu seperti anak kecil saja yang sudah lama gak ketemu ibunya,” komentar Adi teman Ocha.

Ocha sudah tak peduli olokan teman-teman cowoknya. “Pokoknya aku harus segera ketemu Budi,” kata Ocha. Padahal 15 menit setelah kereta memasuki stasiun, Budi belum nampak batang hidungnya. Olokan teman-teman Ocha semakin kencang,”Mana neh pangeranmu, Cha? Kenalin ke kita-kita dong. Atau jangan-jangan Budi itu hanya karanganmu saja.

Untung saja, 5 menit kemudian Budi datang. “Sori Cha, aku telat. Habisnya hujan, jalanan licin. Seketika itu juga, teman-teman Ocha berhenti mengolok-olok Ocha. Mereka terkesiap dengan sosok Budi. Ocha hanya membatin sambil tertawa,”He…aku menang, Aku gak bohong.”

Akhirnya rombongan dari Jakarta berpisah di stasiun. Ocha diantar Budi ke kost Christin. Sedangkan rombongan teman-teman cowok Ocha menginap di sebuah penginapan di kawasan
Lembang.

Ocha bahagia. Rasa rindunya terhapus setelah bertemu Budi. Tas punggung Ocha dibawa oleh Budi. Dan dengan bangganya Ocha berjalan di samping Budi sambil terus menempel-nempel Budi karena Budi hanya membawa satu payung. Meski separuh baju Ocha basah, tapi rasanya tetap saja kering karena ada Budi di sampingnya.

Malam itu Budi segera mengantar Ocha ke tempat kost Christin. Sebenarnya Ocha sudah gak sabar untuk menanyakan perasaan Budi pada Ocha. Apa daya, malam sudah sangat larut. Ocha sudah sangat capai dan mengantuk. Dan Budi berjanji akan menjemput Ocha untuk mengikuti misa Jumat Agung keesokan harinya.

Keesokan paginya, Ocha bangun kesiangan. Christin sengaja tidak membangunkan sepupunya karena dia tahu Ocha sangat lelah dan telah menyiapkan semangkok bubur ayam untuk Ocha. Hampir saja Ocha meloncat dari tempat tidur setelah melirik jam tangannya sudah hampir jam 10 lewat. “Hei Cha, mau ke mana? Tenang…tenang. Ini masih jam 10, buburnya dimakan dulu, nanti gak enak lho,” cegah Christin saat melihat gelagat Ocha akan lari ke kamar mandi.

Ocha sadar bahwa waktu ke gereja masih sekitar 4 jam lagi. Gerakan cepatnya dihentikan dan segera menyambar bubur ayam di meja. Gak ada 5 menit bubur ayam itu tandas. “Hehehe…sori ya Christ, aku lapar. Kemarin malam gak sempat makan di kereta api,” kata Ocha.

Setelah acara sarapan selesai, Ocha tidak segera pergi ke kamar mandi. Dia masih ingin mengobrol dengan Christin dan meminta pendapat sepupunya itu kapan sebaiknya dia bertanya pada Budi. Christin menyarankan setelah misa adalah saat yang tepat untuk bertanya pada Budi. Namun, tiba-tiba terbersit keraguan di benak Ocha dan dia memilih mengurungkan niatnya. Untung niat itu segera dicegah Christin. “Ngapain kamu susah-susah ke Bandung sampai duduk di selasar gerbong tapi gak mewujudkan niatmu?” kata Christin.

Akhirnya Ocha mantap dengan niatnya itu. Hhhmm tapi mengapa jam berjalan lambat ya?

Sekitar pukul 12.30, Budi datang ke kost Christin sambil membawa 3 nasi bungkus. Untung saat Budi datang, Ocha sudah mandi dan berdandan sehingga wajahnya terlihat segar. Budi tahu bahwa dua temannya itu belum makan siang. “Nih kubawain makan siang, pasti kalian belum makan siang, kan. Keasyikan ngobrol,” kata Budi.

Satu jam berlalu. Ocha segera berganti baju untuk mengikuti misa Jumat Agung. Meski misa masih akan mulai pukul 15.00, tapi lebih baik jika bisa berangkat satu jam sebelumnya. Gereja saat Misa Perayaan Wafat Kristus akan sangat ramai.

Pukul 14.00 Ocha dan Budi berangkat berboncengan ke Gereja. Christin gak mengikuti misa karena dia beragama Kristen. Hati Ocha kembali berdebar-debar. Sanggupkah aku melakukannya? Bisakah mulutku terbuka hanya untuk menanyakan perasaan Budi padaku?

Apakah Ocha berhasil mewujudkan niatnya? Ikuti “Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga Part III”

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s