Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga (part I)

Kemarin malam, suasana rumah kontrakanku sangat mendukung untuk membuat cerber fiksi ini. Sayang rasa kantuk yang hebat membuatku belum bisa menyelesaikan cerpen ini.

“Maafkan ya Cha, aku akhirnya menerima cinta Budi. Aku gak kuat menahan cintaku pada Budi,” kata Christin sambil terisak-isak menahan tangis. Ocha yang tadinya mencoba tegar mendengar pengakuan Christin hanyut juga dalam upacara tangis. Christin terus menangis sambil memeluk Ocha. Baju bagian punggung Ocha basah oleh air mata Christin.

Ocha hanya bisa protes atas ketidak-konsistenan pernyataan Christin. Dulu Christin pernah menyatakan tidak akan mencintai Budi karena Budi bukan tipe pria idamannya. Budi selalu bersilang pendapat dengan Christin. Dalam tangisnya, Ocha hanya bisa berkata,”kamu mengkhianatiku, Christ.”

Sayang acara tangis menangis itu harus terhenti oleh ketukan pintu. Sekuat tenaga Ocha menahan tangis dan marahnya. Secepat kilat dia lari ke kamar mandi untuk mencuci muka, membubuhkan sedikit bedak, dan berusaha untuk menarik urat senyumnya.

Saat Ocha lari ke kamar mandi, terpaksa Christin juga menghapus air matanya. Bergegas gadis berambut keriting itu menuju pintu kamar hotel untuk membukakan pintu. Ternyata, Dian teman kuliah Ocha datang mengunjunginya karena sudah hampir dua tahun mereka tidak pernah bertemu.

Suasana kamar hotel yang tadinya ‘gelap’ berubah menjadi ‘ceria’. Tentunya keceriaan yang semu dari para penghuninya. Ocha berpura-pura kembali menjadi gadis yang cerewet dan ceria. Mencoba bersenda-gurau dengan Dian. Namun, di pojokan kamar, sambil membaca buku, Christin tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan kegalauannya.

Setelah hampir satu jam Dian mengunjungi Ocha, tepat pukul 17.00, Dian meninggalkan hotel Kembang di kawasan Dago Bandung. Belum sempat Ocha membuka percakapan dengan Christin, datanglah Ika teman SMA Ocha. Kembali Ocha masuk dalam kegembiraan semu. Nostalgia masa-masa SMA sengaja dibangkitkan oleh Ocha untuk menutupi kesedihannya. Namun, Ika rupanya menangkap kesedihan di wajah Ocha. Yah, Ika memang sahabat lama Ocha. Jadi sedikit banyak tahu sifat-sifat Ocha yang senang menutupi kesedihan.

Ika menawarkan diri untuk menemani Ocha selama dia menghabiskan liburan di Bandung. Tawaran Ika pun diterima Ocha dengan senang hati karena dia bingung bagaimana menghabiskan malam minggu panjang di Bandung. Teman kantornya yang mengajak liburan ke Bandung, memilih untuk ‘jalan’ dengan teman chattingnya. Christin, sepupunya pasti memilih untuk pacaran dengan Budi.

Tak lama kemudian Budi datang dengan motor bututnya. Dia mengajak kita bertiga untuk keliling-keliling kota Bandung naik motor sambil mencari makanan khas Bandung. Ocha memang tidak punya pilihan, mau tidak mau demi sebuah itikad baik, harus menerima tawaran Budi. Akhirnya, sekitar pukul 18.30 mereka berempat beriringan naik 2 sepeda motor keluar dari Hotel Kembang.

Sebuah tempat makan di kawasan Antapani menjadi pilihan Budi untuk menjamu Ocha. Sebelumnya, aku pamit untuk mengikuti Ika ke rumahnya. Ika harus pulang ke rumah untuk menyalakan lampu dan mandi.

Saat makan, suasana agak kaku. Budi dengan joke-joke segarnya berusaha menyegarkan suasana. Ocha pun terlihat berusaha untuk terlihat selalu ceria, meski hatinya remuk redam. Begitu juga dengan Ika. Namun, aura bersalah justru terpancar dari wajah Christin.

Setelah acara makan sea food, Budi mengajak kami semua berkeliling kota Bandung dari ujung ke ujung. Ocha hampir pingsan menyaksikan kemesraan Christin dan Budi. Di depan mata Ocha, Christin menggelayut manja di lengan Budi yang kekar. Saat berboncengan pun, tangan Christin memegang erat pinggang Budi dan menempelkan seluruh badannya ke punggung Budi. Gambaran seorang kekasih yang sedang kasmaran.

Ika berusaha menenangkan Ocha. “Udahlah, Cha. Relakan saja Budi untuk Christin,” kata Ika sambil menepuk-nepuk punggung Ocha. Sambil menahan tangis, Ocha berusaha untuk menikmati suasana kota Bandung yang dingin. Sayang, Ocha tidak kuat menahan benteng pertahanannya. Di tengah-tengah perjalanan tangis Ocha meledak. Karena kendaraan Budi sudah menjauh, Ika menelpon Budi dan berbohong bahwa dia harus pulang karena lupa meninggalkan kunci rumah untuk kakaknya.

Akhirnya Ika membawa Ocha ke sebuah kedai kopi di dekat Univ. Parahiangan. Kedai kopi itu memang cukup ramai. Banyak rombongan mahasiswa duduk bergerombol atau berdua-duaan. Untung, masih ada meja kecil dengan 2
bangku di pojokan. Sesegera mungkin Ika menarik Ocha untuk duduk di meja itu. Di tengah air matanya yang terus mengalir, Ocha mengikuti langkah Ika.

Ika meminta Ocha untuk menumpahkan semua tangisnya. “Sssttt kamu boleh nangis sepuasnya, Cha. Tapi gak boleh teriak-teriak ya. Nanti kuguyur dengan kopi lho,” canda Ika yang mencoba membuatku tertawa. Akhirnya Ocha berhasil tersenyum kecil dengan candaan Ika. Ika memang anak yang humoris. Kepalanya selalu penuh dengan candaan-candaan. Bahkan terkadang kalau sifat isengnya muncul, bisa-bisa Ocha tertawa sambil terkencing-kencing.

Setelah Ocha menumpahkan seluruh tangisnya, Ika mencoba bertanya bagaimana peristiwa tadi bisa terjadi. Selama ini, setelah Ocha bekerja di Jakarta, Ika memang tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan Ocha sahabatnya,. Karena kesibukan masing-masing, Ocha dan Ika tidak bisa seakrab saat mereka duduk di bangku SMA.

Ocha mengisahkan pertemuannya dengan Budi saat tes penerimaan masuk PNS. “Aku memang sudah menyukainya saat pertama kali melihat Budi,” aku Ocha. Sayang rasa cinta itu hanya bisa tersimpan di hati Ocha. Kebetulan, sepulang test, Budi menawarkan mengantar Ocha sampai ke rumah saudaranya di kawasan Condet. Ocha tidak menolak tawaran itu. Disamping karena senang tapi juga dia bingung rute angkot dari kawasan Senayan ke Condet.

Sayang, Ocha tidak lolos menjadi PNS. Budi lebih beruntung, dia diterima menjadi PNS. Hubungan pertemanan Ocha dan Budi tidak berhenti saat test penerimaan saja. Hubungan itu berlanjut melalui email. Meski suka dengan Budi, Ocha tidak berharap banyak dengan hubungan pertemanan itu. Budi sudah bekerja menjadi PNS di Pemkot Bandung, sedangkan Ocha memilih pulang ke kota kelahirannya Yogyakarta.

Surat-menyurat lewat email sempat terhenti saat Ocha diterima bekerja sebagai wartawan di Jakarta. Kesibukan Ocha menjalani program diklat membuatnya melupakan sosok Budi.

Enam bulan berlalu, tiba-tiba ada sms dengan nomor tak dikenal masuk ke HP Ocha. “Hai Cha, gimana Jakarta? Kamu kebanjiran gak? –Budi-.” Ocha cukup kaget dengan sms itu dan hampir tak percaya bagaimana Budi bisa mengingatnya lagi. Akhirnya sms tidak hanya berhenti soal cerita banjir Jakarta saja. SMS mulai mengarah ke SMS-SMS mesra. Hampir setiap saat SMS-SMS Budi selalu mengisi HP Ocha. Bunyi sms tidak pernah berhenti dari HP Ocha. Saat malam tiba, SMS-SMS yang datang makin gencar. Isi-isinya pun makin gombal. “Sudah bobok? met bobok. Mimpiin aku ya.

Hati Ocha makin kebat-kebit diglontor sms-sms mesra dari Budi. Apalagi Ocha jarang mendapatkan sms-sms mesra dari teman-teman cowoknya. Selama ini Ocha memang belum pernah memiliki kekasih. Jadi sms-sms Budi sempat membuatnya GR dan salah tingkah. Benteng pertahanan rasio Ocha yang cukup tinggi terkalahkan oleh perasaan cintanya pada Budi. Ocha dikenal oleh teman-temannya sebagai cewek yang mengagung-ngagungkan rasionalitas daripada perasaan. Banyak yang menjuluki Ocha sebagai cowok yang terperangkap dalam tubuh cewek.

Budi sedikit banyak telah mengubah pribadi Ocha. Gadis yang tomboy lambat laun berubah menjadi gadis yang feminim. Karakter Ocha yang keras, tegas, dan tegar, lama-lama luluh. Benar-benar Budi telah membuah Ocha berubah.

Meski dibilang berubah, Ocha masih berusaha untuk berpikir rasional. Tidak mungkin semudah itu, Budi menanggapi cintanya. Ocha memang bukan gadis dengan penampilan yang menarik, jadi dia merasa Budi punya maksud lain di balik sms-smsnya itu.

Sedikit-demi sedikit, Ocha menjauh dari Budi. SMS-SMS dan telpon Budi tidak pernah digubrisnya. Dia memang berusaha melupakan Budi. Di tengah pergulatan batinnya, Ocha mencoba bercerita pada Christin sepupunya yang cukup dekat dengannya. Ocha sudah menganggap Christin sebagai adik kandungnya karena dia merindukan kehadiran seorang adik perempuan. Sebenarnya Ocha punya satu adik tapi berjenis kelamin laki-laki dan umurnya berjarak 6 tahun darinya.

Ocha bercerita awal hubungannya dengan Budi. SMS-SMS mesranya serta pergulatan batinnya. Ocha berharap Christin menyarankan untuk menjauhi dan melupakan Budi. Akan tetapi, di luar perkiraan Ocha, Christin malah mengatakan bahwa sikap Budi pada Ocha menunjukkan Budi jatuh cinta pada Ocha. Christin terus mendorong Ocha supaya meneruskan hubungannya dengan Budi. Ocha kembali bimbang. Di sisi lain Ocha memang mencintai Budi. Tapi hati kecil Ocha mengatakan bahwa Budi tidak mencintainya dan ada maksud-maksud lain di balik sms-sms gombalnya.

Bagaimana kelanjutan kisah Ocha, Christin, dan Budi? Ikuti “Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga part II”.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s