Keberagaman dalam Diriku

“Hai Helen, pa kabar. Sekarang tinggal dimana?” kata seorang bapak berwajah Indonesia bagian Timur. Bapak berambut kriting itu menatapku dengan ramah. Aku sempat bingung dengan pernyataannya itu karena namaku bukan Helen. Setelah sadar, aku menjelaskan bahwa namaku Puti bukan Helen. Dengan malu, bapak itu menjawab,”Maaf, saya kira keponakan saya.”

Hahahaha… itu kejadian 16 tahun yang lalu, saat aku masih duduk di kelas 6 SD. Saat itu, aku, Mita adikku, dan Santi sepupuku terpaksa pulang naik angkot karena gak dijemput mobil antar jemput. Sejak saat itu, aku mendapat julukan mbak Helen di keluargaku.

Tadinya aku gak mengerti kenapa bapak itu mengira aku sebagai keponakannya. Ternyata, rambut keriting dan kulit coklat matangku yang gelap identik dengan perempuan dari Indonesia bagian Timur, khususnya Ambon. Yah, waktu itu rambutku memang cukup keriting dan tebal. Karena aku gak suka mengikat rambut, jadilah rambut keritingku mengembang seperti jamur paku.

Herannya, setelah kejadian itu, tidak ada yang mengiraku si Helen dari Ambon. Entah kenapa ya?
************************************************************************************************************

“Lho kamu orang Jawa to,” kata seorang teman kantor saat aku pertama kali masuk kerja di Jakarta. Usut punya usut, ternyata temanku itu selama ini mengira aku orang batak. Namun, setelah aku ngomong, logat jawaku keluar, dia baru mengetahui bahwa aku orang Jawa bukan batak. Huh pantas, tadinya dia sinis sama aku. Hahahaha…tapi setelah tahu aku orang jawa, sikapnya berubah.

Wah sekarang julukanku berubah dari orang Ambon ke orang Batak. Aku masih belum ngerti kenapa aku bisa dikira orang Batak.

Gak hanya itu, saat aku tugas kantor ke Kab. Samosir, Sumatera Utara, aku semakin yakin bahwa aku memang mirip orang batak. Sepanjang perjalanan dari Medan-Parapat-Tomok-Pangururan, semua orang menyapaku dengan ramah. Aku merasa aman dan terlindung di daerah asing. Namun, aku agak keki ketika beberapa inang-inang menyapaku dan mengajak omong dengan bahasa batak yang sama sekali gak kumengerti. Akhirnya aku cuma tersenyum-senyum nyengir. Abis…mau kubalas dengan bahasa Indonesia, paling inang itu gak ngerti.

Sepanjang perjalanan menuju pulau cikal bakal suku Batak itu pula, aku sering ditanya boru apa? Wah…sampai bosan ngejawabnya dan menerangkan aku bukan orang batak. Sialnya lagi, ada beberapa orang yang gak percaya.

Sepulang dari Samosir, aku protes sama orang tuaku. Hahahaha…kok bisa-bisanya aku dibilang mirip orang batak. Atau jangan-jangan waktu di RS, aku tertukar dengan bayi yang lain ya.

Yah kedua orangtuaku asli orang Jawa. Juga dengan nenek moyangku. Banyak orang mengatakan aku sangat mirip dengan bapak. Garis wajahku kecuali hidung dan warna kulit mirip dengan bapak. Yah, berwajah kotak tegas seperti itulah.

Namun, adikku satu-satunya tidak ada kemiripan denganku. Bahkan selama ini dia lolos uji orang Jawa. Hehehehe…

Yah…mungkin ada untungnya dikira berasal dari suku lain saat berkunjung ke lokasi suku tersebut. Jadi merasa aman. Namun, mungkin akan menyusahkan saat ada beberapa orang antipati dengan suku tersebut.

Bagiku tidak ada masalah dengan bentuk mukaku. Aku lahir di Indonesia, so pasti aku orang Indonesia gak masalah terlahir di suku apa.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s