Glaukoma ???

“Sepertinya ada yang aneh dengan syaraf mata anda. Dicurigai anda terkena glaukoma,” kata dokter wanita yang memeriksa mataku. Seketika itu juga jantungku berdegup kencang. ”Wah penyakit apa lagi neh”, kataku dalam hati. Padahal niatku semula periksa mata hanya ingin mendapatkan secarik resep kacamata supaya biaya pembelian kacamata bisa diganti kantor.

Yah beberapa bulan terakhir, pandangan mataku mulai kabur. Dalam jarak sekitar 6 meter aku sudah kesulitan untuk melihat meski masih bisa mengindentifikasi benda yang terlihat. Aku berpikir pasti minusku bertambah.

Sebenarnya aku sudah memakai kacamata minus ¼ sejak semester 2. Itupun sebenarnya aku gak percaya kalau harus pakai kacamata. Waktu itu, aku memakai kacamata setelah mengeluh sakit kepala. Kemudian waktu mengantar bapak ke optik, bapak menyuruhku untuk sekalian periksa mata di optik. Aku pun tidak berpikiran akan memakai kacamata karena diduga penyebab sakit kepalaku adalah kurang tidur. Yah…semester 2, tugas-tugas kuliah mulai banyak dan mengharuskanku untuk begadang beberapa hari. Hasil pemeriksaan menunjukkan minus ¼ dan silindris. Alamak…jadi juga aku memakai kacamata.

Impianku memakai terwujud. Tapi di sisi lain aku merasa keberatan memakai kacamata karena lensanya terbuat dari kaca bukan plastik. Hehehe…gimana seh? Di antara sepupu-sepupuku Cuma aku dan adikku yang tidak memakai kacamata.

Namun, Cuma 2 tahun saja aku bertahan memakai kacamata. Setelah itu kacamata kutinggalkan dan gak pernah dipakai lagi. Yah karena aku masih merasa bisa melihat jauh. Sampai akhirnya setelah bekerja 3 tahun di Jakarta, aku mulai mengeluh dengan pandangan yang mulai mengabur disertai dengan sakit kepala yang berdenyut-denyut. Terutama kalau terlalu lama dan tegang memandangi layar monitor.

Kuputuskan kupakai kacamataku lagi. Entah kenapa, malah tidak berkurang. Akhirnya aku memutuskan untuk periksa mata saat libur paska di Semarang. Dugaanku Cuma satu : minusku bertambah.

Penyakit Glaukoma

Kembali ke cerita pemeriksaan dokter. Saat dokter mengatakan nama penyakit yang menurutku aneh, kucoba untuk mengingat-ngingat pelajaran biologi saat SMA dulu. Apakah ada penyakit mata yang namanya glaukoma? Seingatku justru penyakit aneh itu berkaitan dengan peningkatan kadar gula darah. Alamak…gula darah? Hiii ngeri…

Aku masih tidak puas dengan pernyataan dokter tersebut. Dokter wanita yang ternyata bernama Rini itu menyebutkan bahwa penyakit glaukoma adalah berkaitan dengan tekanan bola mata yang meningkat dan tidak ada kaitannya dengan gula darah. Ini murni penyakit mata. ????? Agak membingungkan ya pernyataannya. Sebelum pertanyaan-pertanyaanku dijawab, dokter sudah menyuruh untuk melakukan serangkaian tes. Ibu yang menungguku di luar ruang praktek sempat jengkel karena terlalu lama menunggu.

Dengan sabar, aku mengikuti tes yang menurutku cukup aneh dan menggelikan. Tes pertama adalah tes untuk mengetahui seberapa luas jarak pandangku karena dokter mencurigai jarak pandangku menyempit. ”Kok jadi begini, ya,” aku Cuma membatin. Aku diminta meletakkan daguku pada sebatang besi yang telah dibentuk menyerupai dagu orang. Persis dihadapanku, ada papan tulis hitam bersegi 8 yang sudah digambari garis-garis berpusat di tengah mirip jaring laba-laba. Suster yang memeriksa telah menyiapkan sebuah lidi yang diujungnya diberi kapas berkaret. Aku diminta menutup mata kiriku dan diharuskan memakai penutup mata mirip bajak laut. Mata kananku diminta dibuka lebar-lebar. Lidi berkaret yang telah disiapkan diketuk-ketukkan ke papan tulis.Kalau aku melihat ujung lidi yang berwarna putih, aku diharuskan menjawab ”ya”. Kalau tidak ya diam saja. Aku sudah hampir tertawa saat melakukan pemeriksaan itu. Jadi teringat saat aku kecil, bapak sering memanggil cicak di dinding dengan lidi berkaret itu supaya aku bisa melihat dengan jelas bentuk cicak. Karena menahan geli, aku sering telat berkata ’ya’ padahal jelas-jelas aku melihat ujung putih lidi itu. Begitu juga dengan mata kiriku. Aku sudah habis-habisan menahan tertawaku pada pemeriksaan pertama.

Pemeriksaan kedua lebih masuk akal lagi. Kali ini aku diminta berbaring di tempat tidur. Kedua mataku ditetesi obat tetes mata. Kemudian suster memegang sebuah alat yang katanya alat pengukur bola mata. Aku diminta memandang ke langit-langit dan tidak boleh berkedip barang sedetik pun. Huah…tegang banget…sampai menahan napas.

Pfff akhirnya dua tes berlangsung dengan sukses. Aku masih diminta menunggu hasilnya beberapa saat. Tapi hatiku masih tetap berdebar-debar dan mengutuk-ngutuk diriku lupa membawa kacamata. Pasalnya ruangan periksa dipenuhi orang yang sakit mata ’belekan’. Hii ngeri. Aku sampai tidak berani untuk memandang para penderita tersebut.

Setelah menunggu setengah jam, dokter kembali memanggilku. Aku tidak sabar untuk menanyakan penyakit tersebut. Dokter kembali memeriksa syaraf mataku dengan stetoskop khusus mata (maaf gak tahu istilah khususnya). Dan dokter kembali mengulangi pernyataan bahwa ada yang aneh dengan syaraf mataku. Selanjutnya dia membaca hasil tes-tes tersebut dan mengatakan bahwa tekanan bola mataku normal. Tekanan bola mataku hanya 18 mmHG dan masih dalam batas normal (10-20 mmHG). Pfff berarti aku bukan kena glaukoma dong. Ternyata…wah masih ada kelanjutannya. Jarak pandangku dicurigai menyempit dari hasil pemeriksaan pertama dan diminta untuk melakukan tes Humprhey dengan komputer dan lebih canggih di RS Kariadi.

Aku memutuskan untuk menjalani tes Humprhey di RS Kariadi. Aku sudah pasrah dengan segala hasilnya. Lha wong aku juga gak ngerti sebenarnya yang dikatakan dokter itu sakit apa. Untung saat menjalani tes tersebut tidak usah antri lagi. Namun, cukup mengejutkan tes pengukuran jarak pandang tersebut cukup mahal, sekitar 300 ribu rupiah. Untung saja, di dompetkmu masih tersisa uang sebanyak itu. Perawat yang akan memeriksa mengatakan aku harus menutup mata dulu karena pemeriksaan ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi dan tidak semua berhasil melakukannya. Hhhmm semakin penasaran diriku.

Aku memilih untuk duduk dan mencoba menutup mata. Tapi ternyata sulit karena pikiranku menerawang kemana-mana. Sms dan telpon tidak henti-hentinya berbunyi. Hampir 45 menit aku memejamkan mata. Suster kemudian memanggilku dan menerangkan cara kerja alat tersebut. Sebelumnya aku bercerita bahwa semalam tidurku sangat kurang. Semalam, aku baru menempuh perjalanan Jakarta- Semarang dengan kereta api dan baru sampai Semarang kira-kira pukul 1.00 pagi. Aku baru bisa tidur sekitar pukul 2.30 dan dibangunkan pukul 6.30. Badanku pun terasa masih capai.

Untung perawat itu mau melanjutkan test karena aku hanya punya waktu 3 hari di Semarang (Hari Jumat dan Sabtu tempat test tutup). Dengan runtut perawat menerangkan sistem kerja alat tersebut. Alat Humphrey tersebut berbentuk setengah bola berwarna putih. Sekilas seperti bolam lampu besar yang terbelah dua. Aku harus meletakkan mukaku pada separuh bola putih tersebut dengan posisi tegak. Pandangan mataku lurus ke depan memandang pada sebuah titik besar di tengah. Lampu ruangan periksa dimatikan dan hanya lampu pada alat Humprhey yang menyala. Seperti pada tes pertama, mata kiriku ditutup terlebih dahulu. Aku diminta memperhatikan seksama kerlip-kerlip seperti nyala kunang-kunang yang muncul dari sisi sebelah kanan. Jika merasa melihat kerlip lampu-lampu itu, harus segera memencet alat yang berbentuk seperti bel. Beberapa kali aku melakukan kesalahan karena terburu-buru memencet. Akhirnya, setelah beberapa kali aku mencoba aku lolos test itu.

Hasil pemeriksaan

Pfff….pemeriksaan yang menegangkan berakhir sudah. Ternyata sama tegangnya saat wawancara masuk kerja. Hasil pemeriksaan keluar 10 menit kemudian. Tapi tetap saja aku tidak bisa membaca hasil pemeriksaan tersebut karena terlalu teknis. Rasa penasaran tetap aja menggelantung dan tidak sabar untuk menanti hari sabtu.

Untuk mengobati rasa penasaranku, aku mencoba menghubungi sepupuku yang berprofesi sebagai dokter mata. Seharusnya aku cukup periksa saja ke dia tapi karena kesibukannya, aku memilih untuk periksa mata di RS mata.

Esok harinya, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah mbak Dartiek, sepupuku. Hasil pemeriksaan kuperlihatkan kepadanya. Dia menyatakan bahwa ada gejala penyempitan pada jarak pandangku. Namun, tambahnya lagi, tidak perlu dikhawatirkan. Mungkin itu juga disebabkan kelelahan pada mata karena kurang tidur. Tapi ada sesuatu yang perlu diperhatikan, setelah dia memeriksa mataku dengan stetoskop mata. Ada kelainan dengan syaraf mataku. Wah kok analisanya sama. Ada apalagi neh? Dia wanti-wanti untuk mengurangi minuman penambah tenaga seperti Krating Daeng, M150, coklat, serta kopi. Wah untuk dua benda yang disebut di awal, aku memang jarang menyentuhnya. Tapi kopi…wah, minuman yang setiap hari kuminum dan tidak bisa kutinggalkan. Yah aku memang penggemar kopi…terutama kopi susu. Mungkin itu juga pemicu tekanan bola mata yang tinggi. Ditambah lagi, sebulan belakangan aku sibuk memandangi data-data otonomi daerah.

Hari sabtu, aku kembali lagi ke rumah sakit untuk menyerahkan hasil tes Humprhey. Ternyata dokternya ganti. Wah, berarti aku harus cerita dari awal neh. Dokter yang memeriksa mengatakan aku tidak menderita penyakit glaukoma. Cuma memang ada sedikit kelainan pada syaraf mataku yang tidak terdeteksi dengan pemeriksaan sekilas. Aku disarankan untuk periksa sebulan lagi. Hhhmm lagi-lagi aku belum sempat dan sekarang hampir dua bulan aku belum periksa mata.

Dokter menyarankan untuk memakai kacamata setidaknya untuk mengurangi radiasi komputer. Akhirnya sekarang kacamata berframe biru muda bertengger di hidungku. Lumayan seh.
Sakit kepala mulai berkurang. Pandangan mataku mulai normal lagi.

Jadi sebenarnya aku gak menderita glaukoma kan????

Kutipan singkat dari internet mengenai penyakit glaukoma

glaukoma adalah suatu penyakit dimana tekanan di dalam bola mata meningkat, sehingga terjadi kerusakan pada saraf optikus dan menyebabkan penurunan fungsi penglihatan.

terdapat 4 jenis glaukoma:

· glaukoma sudut terbuka

· glaukoma sudut tertutup

· glaukoma kongenitalis

· glaukoma sekunder.
keempat jenis glaukoma ditandai dengan peningkatan tekanan di dalam bola mata dan karenanya semuanya bisa menyebabkan kerusakan saraf optikus yang progresif.