Yogya : Sweet and Bad Memories

”Tring…”, bunyi sms dari Hpku sesaat setelah aku menyalakan HP. Sms dari bapakku mengatakan Semarang kena gempa. Sms itu dikirimkan pukul 05.50. ”Tring…” Sms berbunyi lagi. Pengirimnya sama tapi beritanya berbeda. ”YK kena gempa. Telp-listrik YK, Klaten, Solo. Kerusakan bangunan YK dan sekitarnya cukup parah”. Agak kaget mendapat sms ini. Segera aku beritakan ke teman seperjalananku sebagai orang asli Yogyakarta. Sayang, tanggapannya biasa saja. ”Ah biasa, Put. Yk sering kena gempa,” katanya. Tapi aku yakin, kali ini gempa ini serius dan tidak seperti biasanya.

Sabtu (27/5) itu, aku ada di tempat yang sukar untuk menjangkau alat-alat komunikasi. Aku dan 5 orang temanku sedang menikmati keindahan Danau Maninjau, Agam, Sumatera Barat. Bersama tiga orang fotografer dari Jakarta plus tambahan dua orang dari Padang, aku ikut hunting foto keliling Sumatera Barat.

Saat semua orang temanku sedang bergelut dalam tidurnya, aku kebingungan mencari kebenaran tentang gempa YK. Aku turun ke lantai satu berusaha melihat TV, terutama METRO TV. Ternyata daerah Maninjau tidak bisa menerima siaran METRO TV. Aku hanya melihat sisa-sisa berita gempa dari TV7 yang mengabarkan bahwa ratusan orang meninggal akibat gempa di Yogya-Klaten.

Rasa penasaranku semakin memuncak. Aku berusaha menelpon teman kantorku disana, Bimo. Hpnya gak aktif dan gak bisa dihubungi. Berpindah ke no HP sepupuku, Zenith. Lagi-lagi gak aktif. Wah benar kata sms bapak, saat itu jaringan komunikasi di daerah gempa memang sedang kacau. Mengobati rasa penasaran, aku segera menelpon bapak. Dari cerita bapak, aku bisa menangkap, gempa di Yogya kali ini adalah bencana luar biasa, mirip bencana tsunami Aceh.

Merinding rasanya mengingat kota Yogya, Bantul, Sleman, Kulon Progo, dan Wonosari, Prambanan Klatan luluh lantak. Daerah yang sangat kukenal tiba-tiba harus hancur karena gerakan tektonik lempengan-lempengan tanah selama beberapa detik. Pikiranku menerawang tempat-tempat di Yogya-Klaten dan sekitarnya.

Bagaimana kondisi Taman Sari, Kraton, Malioboro, Kampus UGM, daerah Kasongan, Ganjuran? Beberapa tempat favorit yang selalu kukunjungi saat aku main atau berlibur ke YK. Aku mengumpulkan segenap pikiranku untuk mengingat-ngingat siapa saja teman dan kerabatku yang tinggal di YK. Entah kenapa, pikiranku buntu. Aku sedih.

Bagaimanapun Yogya memiliki kenangan manis dan sedih untukku. Tempat menyenangkan untuk berlibur murah saat aku kecil – kuliah. Tempat aku mencari buku-buku murah. Tempat aku berbelanja baju batik, etnik, dan perhiasan-perhiasan etnik. Juga menjadi tempat aku mencari cinta. Bahkan tidak hanya itu, karena suatu sebab aku pernah trauma dengan kota Yogyakarta. Hampir setahun aku tidak berani menginjakkan kaki disana.

Sampai detik ini, aku belum berkesempatan untuk mengunjungi Yogya kembali. Bukan karena aku tidak mau terlibat membantu para korban gempa disana. Akan tetapi, aku berpikir aku masih bisa berbuat banyak untuk mereka dari Jakarta.

Dua hari setelah gempa, aku baru ingat dengan Ika sahabat SMAku yang tinggal di Utara Yk. Segera aku telpon dia padahal sudah pukul 22.00. Aku gak sabar mengetahui kabarnya. Lama sekali telpon tidak diangkatnya. Sempat berpikiran negatif, tapi hati kecilku mengatakan kondisi Ika baik-baik saja. Akhirnya telpon diangkat dan aku mulai mendengarkan suaranya. Puji Tuhan, kondisinya baik-baik saja. Tapi menurutnya, karena terjatuh saat gempa bayi yang dikandungnya sungsang. Ya ampun ternyata Ika sedang mengandung anak kedua. Huah…merasa bersalah sudah lama tidak menghubunginya.

Selanjutnya dia mulai bercerita pengalamannya saat gempa. Saat gempa dia sedang ada di dalam rumah sedang bermain-main dengan anak pertamanya. Gempa terjadi, dia panik keluar sambil menyeret-nyeret anaknya. Sebelum sempat menyeret anaknya dia sempat terjatuh. Akhirnya dengan susah payah dia berhasil keluar. Saat itu Prodo, suaminya sedang dalam perjalanan menuju kantor.

Menurutnya, gempa terjadi berulang-ulang. Sampai karena ketakutan malam harinya dia memilih tidur di luar rumah. Begitu juga dengan para tetangganya. Mereka memilih tidur di lantai supaya bisa merasakan gempa dan mencari tetenger barang yang bergoyang keras saat gempat. Untungnya hari kedua, Ika sudah bisa menghilangkan traumanya dan berani tidur di kamar.

Kembali ke kenangan tentang Yogya. Kenangan manis, tentunya. Sudah tak terhitung dengan jari intensitas kunjungan ke Yogya. Saat aku kecil, Yogya, terutama Malioboro menjadi tempat favorit piknik keluargaku. Rute perjalanan dimulai dari Candi Borobudur, Malioboro dan berakhir di Candi Prambanan-Ratu Baka. Entah kenapa bapak selalu menolak jika kuajak mampir ke Kraton Yogya. ”Gak ada apa-apanya, Ti. Cuma diorama tok,” kata bapak tiap aku merengek-rengek mampir ke Kraton Yogya. Kunjungan ke Taman Sari pun baru kulakukan sekitar tiga tahun lalu, saat aku sudah bekerja di Jakarta. Ternyata ini Taman Sari yang dulu sering ditayangkan di televisi dan aku penasaran ingin memasukinya.

Saat
kuliah, aku sudah mulai berani dolan ke Yogya sendirian naik bis. Saat itu aku dan beberapa teman kuliah berniat mencari buku-buku atau bahan Tugas Akhir. Bersama Dian, Diah, dan Ontang satu-satunya cowok kita naik bis Smg-YK non AC. Banyak cerita lucu saat pergi bersama mereka tapi memberiku pengalaman banyak hal. Seperti salah turun di terminal yang salah, Ontang tidak boleh masuk ke Perpustakaan UGM karena hanya memakai kaos oblong, ketinggalan bis YK-Smg. Untuk yang terakhir ini kita terpaksa ganti bis di terminal Magelang. Alhasil baru jam 22.00 kita sampai Semarang.

Selain itu, bersama sekitar 50 orang anak-anak Plano Undip kita pernah piknik ke Borobudur – Kaliurang – Yogyakarta. Saat itu tujuan piknik adalah menghabiskan uang sisa KKL Bromo-Prigen Jatim. Bersama rombongan, menginap di wisma UGM Kaliurang yang bentuk bangunannya mirip dengan rumah Gadang khas Sumbar. Perjalanan terakhir bersama teman-teman Plano 96, karena setelah itu kita semua disibukkan dengan urusan pengerjaan Tugas Akhir.

Perjalanan-perjalanan ke Yogya selanjutnya dilakukan secara acak bersama kedua orang tuaku, teman-teman ataupun sendiri.

Selanjutnya aku mendapat kenangan buruk tentang Yk yang membuat hatiku remuk redam dan berdarah-darah. Aku sempat trauma setiap saat mengunjungi Yogya. Pasalnya, terkenang-kenang dengan peristiwa pengkhianatan itu. Sudahlah tidak usah kuceritakan lagi.

Namun apa daya setelah peristiwa tersebut, aku harus mengunjungi kota pelajar tersebut. Salah satu teman kantorku menikah di YK dan mau tidak mau aku harus menghadirinya. Untung kedua ortuku mengerti dan mereka mau menemaniku ke YK sekalian liburan keluarga. Setelah itu aku bersumpah tidak akan pergi ke Yogya selama aku siap menikmatinya lagi.

Satu setengah tahun berlalu. Aku mulai berani menginjakkan kaki di kota gudeg. Yah itupun dengan perjuangan berat penyembuhan diri. Saat itu aku sedang bertugas di Surabaya selama tiga bulan. Kebetulan, saat bulan kedua ada libur panjang dan aku diberi kesempatan untuk libur agak panjang tanpa harus cuti. Tujuan utamaku hanyalah menengok Ika yang saat itu sedang hamil anak pertama. Aku kangen dengannya setelah bertahun-tahun tidak pernah ketemu.

Sejak itu kunjunganku ke Yk menjadi sesuatu yang menyenangkan kembali. Kenangan indah kembali tercipta. Dan…aku mulai sering dolan-dolan lagi keYK.

Sekarang…mungkin YK akan meninggalkan kenangan buruk bagi siapapun yang pernah berkunjung kesana hanya karena gempa. Mungkin bagiku tidak. Sayang aku belum berkesempatan menengoknya lagi.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s