Finally .. Prestigious Project has been Done

Setelah kurang lebih 2 bulan kita berkutat dengan data-data otonomi daerah yang seabreg-abreg banyaknya. Akhirnya hari ini (24/5) semuanya usai dan berakhir dengan indah. Tulisan dan data sudah termuat di halaman 41-43 sebuah media.

Proyek evaluasi otonomi daerah ini sebenarnya merupakan proyek prestisiusku dan mbak Rini tiga tahun yang lalu. Namun karena terkendala data, kesulitan menganalisis, dan waktu, akhirnya proyek itu terkatung-katung dan hampir dilupakan. Bahkan akupun sudah melupakan soal otonomi daerah karena bidang tugas yang kupegang sekarang berbeda.

Sejak awal tahun lalu, ada beberapa orang temanku, Mas Sriadi, Kristanto, dan mbak Rini teringat lagi dengan proyek itu. Mereka mencoba mengangkat lagi topik itu dalam rangka menyambut 5 tahun otonomi daerah. Rencananya evaluasi otonomi daerah tidak hanya berhenti pada tulisan yang keluar hari ini saja. Akan dilanjutkan pada rangkaian evaluasi-evaluasi lainnya, termasuk evaluasi daerah pemekaran di kawasan perbatasan.

Proyek ini dimulai pertengahan maret yang didahului dengan rapat dan pembentukan tim. Tim pertama yang membuat tulisan tentang kabupaten pemekaran dan induk adalah aku dan mbak Rini, yang dibantu oleh mas Pur. Ketua timnya sih tetap mas Krist.

Hampir tiap hari berkutat dengan data otonomi daerah yang seabreg-abreg. Malah sempat mengumpulkan puluhan buku statistik daerah pemekaran untuk dimasukkan data-datanya. Sempat pula terjadi bongkar pasang indikator dan data.

Aku pun masih bingung dengan konsep analisis yang ada. Ilmu tentang ekonomi pembangunan pun masih cukup ’cethek’. Beberapa kali sempat bertanya dengan teman litbang yg dulu saat kuliah belajar ilmu ekonomi pembangunan untuk menyamakan presepsi dengan mas Krist yang sudah lebih dulu menguasai ilmu ekonomi. Diskusi terus-terusan terjadi, meski diselingi dengan acara makan2 dan guyon2. Setelah sepakat dengan analisis yang akan dilakukan, tetap harus berkonsultasi dengan pihak pemerintah, khususnya Depdagri.

Tapi saat aku dan mbak Rini ketemu dengan orang Depdagri, timbul rasa kecewa. Apa pasal? Terkesan mereka merendahkan kita dan menganggap bahwa evaluasi yang berdasarkan PP 129 tahun 2000 tidak mungkin dilakukan karena instansi seperti Kompas tidak mampu untuk mengumpulkan data-data seperti itu. Bahkan data-data dari BPS pun tidak dianggap oleh mereka.

Buntut-buntutnya mereka malah meminta kerjasama dengan Kompas untuk membuat profil daerah-daerah pemekaran. Tentu saja biaya pembuatan profil dari Kompas. Gila aja…Kita yang kerja pontang-panting pihak pemerintah tinggal enak2 menikmati hasilnya.

Sebenarnya pihak pemerintah ada rasa takut untuk mengevaluasi daerah-daerah pemekaran. Takut jika merusak kondisi politik dan keamanan. Akhirnya yang mereka lakukan selama ini hanya sebatas monitoring-monitoring saja tanpa tindakan lebih lanjut. Padahal di sisi lain daerah yang ingin melakukan pemekaran semakin banyak. Banyak kabupaten-kabupaten induk yang hamil besar dan siap melahirkan.

Dalam hati aku berharap tidak ada lagi kelahiran kabupaten/kota lagi. Capek ngelistnya. Pasti masyarakat Indonesia juga capek menghapalkan. Apalagi siswa-siswa sekolah. Pasti akan pusing dengan perubahan jumlah kabupaten/kota di Indonesia.

Kembali lagi pada proyek otonomi daerah. Karena merasa tidak puas bertemu dengan orang Depdagri, kita berusaha mencari orang yang berkompeten dengan masalah otonomi daerah. Untung masih ada orang profesional yang mengerti betul tentang pemekaran. Orang itu adalah Pak Saur Panjahitan, konsultan GTEZ Jerman yang hampir 10 tahun menggeluti pemekaran. Dari orang itu pulalah kita belajar banyak tentang otonomi daerah termasuk metoda penghitungan untuk mengevaluasinya. Juga beberapa rahasia-rahasia umum tentang pemekaran daerah yang ternyata banyak dipengaruhi faktor politik ketimbang kemampuan ekonomi.

Setelah bertemu pak Saur terjadi perubahan analisis. Untung tidak banyak data yang harus dirombak. Singkat cerita ada tiga daerah sample yang akan dikunjungi untuk melihat langsung kondisi daerah, yaitu Kab Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kota Palopo dan Kota Batu, yang melibatkan tenaga 3 orang.

Singkat kata, aku, Mas Pur, dan Gianie melakukan kunjungan ke 4 daerah tersebut, diadakan pertemuan lagi dengan Pak Saur untuk menyamakan hasil temuan. Wah ternyata ada perubahan tapi masih tetap di jalurnya. Dua wilayah yang kukunjungi tidak jadi ditulis. Dan akhirnya fokus penulisan pada hasil analisis.

Sayang juga seh, hasil jalan-jalan ku ke wilayah Padang Pariaman dan Pariaman tidak kutulis satu katapun. Hanya foto kantor bupati yg kupotret iseng mewakilinya. Yah…gak papa. Itung2 liburan gratis dari kantor.

Sekarang semua sudah berlalu. Perjuangan selama 2 bulan ditutup dengan perjalanan hunting foto ke wilayah2 Sumatera Barat bersama 4 fotografer profesional. Dan satu hal yang penting tidak ada pihak yang luar yang protes. ( atau belum…jangan-jangan banyak yg gak ngerti ya) Masa bodoh lah…

Terima kasih buat semuanya. I love you all… Muah..muah…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s