Six Days Seven Night

Tulisan ini adalah cerpen pertamaku yang dibuat selesai mengerjakan skripsi (maaf kalau bahasanya masih berantakan). Kutemukan di dalam sebuah disket di tumpukan disket-disket usang. Dan kumunculkan kembali untuk mengobati kerinduan dengan teman-teman kuliah. I miss you, guys…

Sebagai anak teknik di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Semarang, kata “nglembur” sudah menjadi makanan sehari-hari. Apalagi kalau sedang “musim tugas” yang biasanya 1 bulan sebelum Ujian Semesteran. Selama beberapa hari, kami sibuk mengerjakan tugas kelompok. Bahkan selama beberapa hari itu pula kegiatan mandi pun bisa dihitung dengan jari, mungkin hanya 3 kali dalam seminggu.Biasanya kami berkumpul di satu tempat di rumah seorang teman untuk mengerjakan tugas tersebut. Empat bahkan lima komputer bisa berkumpul di tempat tersebut, seperti Rental komputer.

Dengan kata lain selama seminggu itu, kami semua seperti merasa pindah kost/rumah atau bahkan pergi ketempat yang jauh karena kami jarang pulang ke rumah. Semua kegiatan dipusatkan disitu, dari proses pengerjaan tugas, makan, mandi, dan bahkan tidur. Sudah biasa jika cowok dan cewek tidur berdampingan (bukan pergaulan bebas, lho!). Soalnya jika sudah benar-benar capai kegiatan tidur bisa dilakukan dimana saja; di lantai, di sofa, di meja, di kursi, bahkan di depan komputer. Syukur –syukur jika si Tuan Rumah bersedia meminjamkan kasurnya. Dengan berebutan teman-teman berlomba-lomba menempatinya.

Yang paling ribut adalah jika jam makan tiba. Semua berteriak ingin makan yang enak-enak, ada yang ingin nasi goreng, bakmi godog, sate, bahkan nasi mawut (nasi goreng campur bakmi). Tetapi yang paling menjengkelkan tidak ada yang bersedia untuk membelikannya di warung. Jadinya terjadilah saling tunjuk siapa yang bersedia membeli. Untunglah ada seorang teman yang bersedia membelikan dengan berbagai macam pesanan (maklum, terbiasa jualan di kafe, sih). Setelah makanan datang acara ribut belum selesai, soalnya masih ada acara penagihan uang.Setelah selesai, barulah semua tenang, memakan pesanannya dengan lahap.

Didalam kelompok, sebelumnya sudah ada pembagian tugas. Jadi masing-masing anak mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berbeda. Ada yang bertugas untuk mengetik, mengedit, membuat peta, mengeprint, dan lain-lain. Tidak ada rasa cemburu dalam pengerjaan tugas. Jika tugasnya sudah selesai, ada yang langsung tidur tetapi ada pula yang bersedia membantu tugas temannya yang belum selesai. Di sela-sela proses pengerjaan tersebut , sering pula terjadi peristiwa-peristiwa kocak yang tidak disengaja. Seperti misalnya ada yang mengeluarkan gas beracunnya tanpa sengaja dengan bunyi yang keras. Kontan saja semua pada tertawa. Ada yang tidur dengan gaya yang khas ; kaki diangkat dan mulut terbuka dengan lebarnya (ngowoh). Untung kami semua sudah maklum dengan gayanya tersebut. Tetapi ada pula teman yang iseng kemudian memotretnya, untuk kemudian dipasang di papan pengumuman.

Selama seminggu itu, untuk menghilangkan kebosanan menghadapi komputer, biasanya diisi dengan acara main kartu, berkaraoke, nonton film dari VCD, saling curhat, atau ngemil…… Yang ramai adalah jika acara main kartu. Karena semua anggota kelompok yang terdiri dari 10 0rang semua ikut main kartu. Tetapi yang paling menghebohkan adalah acara karaoke. Semua anak dengan PD- nya bernyanyi mengikuti teks lagu dari layar Televisi. Padahal tak satupun yang bersuara merdu. Suaranya seperti piring-piring pecah. Ada yang suka lagu dangdut, lagunya boy band, lagu keroncong, dll. Yang bikin cowok-cowok suka adalah model-model video klip karaoke dengan pakaian-pakaian yang minim. Betah sekali mereka menonton. Sampai-sampai tugasnya nggak selesai-selesai.

Tetapi dari pengalaman ngelembur yang sudah kulalui, yang paling mengesankan, menghebohkan dan meninggalkan kenangan yang mendalam adalah pada saat nglembur untuk Revisi pembuatan Tugas Perencanaan Wilayah Kabupaten Kudus. Menurut rencana pembuatan revisi tersebut hanya berlangsung selama 2 sampai 3 hari karena si Tuan Rumah akan pindah rumah. Tetapi sampai hari kedua, hasil revisi tersebut belum nampak. Entah kenapa, soalnya Tugas tersebut baru akan dikumpulkan pada hari keenam. Jadi semua anak mengerjakannya dengan santai. Kemudian kami ikut pindah ke tempat lain pada hari ketiga. Anak-anak sudah mulai ribut dan meramalkan bahwa kita mengerjakan tugas tersebut selama Six Days Seven Night. Gila kali ya, masa selama 6 hari kita tidak pulang dan mandi. Sampai-sampai orang tuaku marah-marah, bahkan aku sudah dianggap anak hilang.

Selama proses pengerjaan tersebut, muncul istilah-istilah aneh bagi telinga awam, seperti “lahan tidur” bukan lahan tidur yang sering muncul di koran-koran, lho. Tetapi lahan tidur yang merupakan tempat untuk tidur. Bahkan untuk lebih mengakrabkan satu sama lain nama-nama anggota kelompok diganti dengan nama-nama julukan yang aneh, seperti Tarkobot, Tarkoceph, Surini, Mardian, Mardanis, Mbah Joyo, Tarkopol.

Acara ngelembur yang sebelumnya menjengkelkan bagi kami-kami anak Teknik, tiba-tiba menjadi acara yang paling ditunggu-tunggu. Acara nglembur ternyata dapat menjadi kenangan yang paling indah selama aku kuliah dan dapat menjadi bahan cerita untuk anak cucu nanti. Karena kegiatan nglembur inilah kami semua jadi akrab satu sama lain, seperti saudara. Mungkin pula keadaan nglembur yang dilakukan selama kuliah berbeda jika aku sudah bekerja nanti.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s