Produk hukum yang latah

Pagi ini (2/3) aku membaca Kompas halaman pertama. Cukup mengejutkan membaca judulnya “Perda Kota Tangerang, Hati-Hati Minum di Jalan Bisa Ditangkap…”. Penasaran dengan judulnya, aku mendahulukan membaca koran dan kutinggalkan sarapanku.

Leadnya mengatakan “Jangan ccoba-coba bergerak-gerik mencurigakan, apalagi berciuman dengan lawan jenis di jalan, Anda bisa ditangkap!” Setelah membacanya aku menangkap pesan bahwa artikel ini berkaitan dengan RUU Pornografi dan Pornoaksi. Juga ada kaitannya dengan larangan pengedaran dan penjualan minuman beralkohol. Jadi tepat pada usia ke-13 Kota Tangerang, mengeluarkan dua perda. Perda pertama tentang larangan pengedaran dan penjualan minuman beralkohol. Sedang yang kedua menyebutkan larangan pelacuran tanpa pandang bulu.

Baris demi baris aku lanjutkan membaca. Lama kelamaan aku merasa geram sendiri. Pasalnya, bukan hanya yang berkaitan dengan dua hal itu yang terkena tetapi jika seorang perempuan sedang berada di Kota Tangerang, jangan pernah bersikap mencurigakan atau berada di sendirian pukul 19.00. Dalam artikel tersebut, beberapa perempuan yang sedang berdiri sendirian di pinggir jalan ikut diciduk juga oleh petugas Tramtib Kota Tangerang. Padahal beberapa perempuan tersebut tidak seluruhnya berprofesi sebagai PSK.

Aku menangkap pesan, rupanya petugas tramtib Kota Tangerang ingin menerapkan perda tersebut tapi tidak melihat-lihat situasi. Aku jadi berpikir, sebenarnya petugas Tramtib itu mengerti gak sih dengan isi perda tersebut. Atau sekedar menjalankan tugas dan bersikap arogan.

Lebih menjengkelkan lagi, dalam artikel tersebut disebutkan seorang wanita hamil berusia 42 tahun ditangkap sepulang bekerja di sebuah restoran di Tangerang. Dia didakwa tengah melacurkan diri saat mencari angkutan kota sepulang dari tempat kerjanya. Masa sih Petugas Tramtib gak bisa mbedain perilaku dan penampilan PSK jalanan dengan seorang wanita hamil. Goblok…atau biar dikira pintar. Sok menjalankan tugas. Munafik. Hehehehehe…

Sampai baris terakhir artikel tersebut aku tetap merasa geram. Wanita hamil itu sampai berita diturunkan belum juga dibebaskan dari tahanan. Gara-gara dia tidak bisa membuktikan bahwa telah bersuami. Suaminya memang sedang sakit. Bahkan beberapa hari setelah penahanan suaminya datang membawa surat nikah, KTP, kartu keluarga, masih harus bayar Rp 300 ribu. Alasannya sang istri telah mengaku sebagai PSK. Ya ampun…gila ya…

Aneh….Indonesia memang aneh. Semuanya latah ingin sok suci. Padahal kalau mau lihat pribadi masing2 petugas tramtib. Apakah dia juga sudah bersih? Huh…Aku pikir mereka juga suka memakai PSK dan minum-minuman keras.

Aku hanya bisa sebel sendiri membaca artikel Kompas pagi ini.
Semoga hukum di Indonesia bisa dijalankan dengan sebenar-benarnya tidak sekedar latah seperti Perda Kota Tangerang.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s