Bisakah Pintu Itu Terbuka Kembali?

Bisakah “pintu itu” terbuka lagi?
Kembali pertanyaan itu singgah di pikiranku malam tadi. Dilihat dari arti katanya, pintu adalah tempat masuk dan keluar. Jadi…berarti ada kemungkinan “pintu itu” bisa terbuka kembali. Namun, pertanyaan selanjutnya… kapan? akankah perlu ada aktifitas mendobrak?

Sejak 2002, “pintu itu” mulai tertutup. Lambat laun terkunci – kuncinya aus – akhirnya sukar dibuka kembali. Sudah ada beberapa orang yang ingin membukanya. Berbagai macam kunci digunakan untuk membuka kembali “pintu itu” yang tertutup. Tapi tak pernah berhasil.

Sebenarnya, “pintu itu” berusaha membuka dirinya sendiri. Bahkan akhir tahun 2002, “pintu itu” sudah terbuka kembali. Berhubung karena ada badai Katrina, “pintu itu” kembali tertutup. Bahkan kali ini tertutup lebih rapat. Pakai kunci, gerendel, dan gembok.

Lambat laun…di sekeliling “pintu itu” tertutup benalu-benalu, lumut, dan tanaman liar lainnya sehingga bagaikan benteng, “pintu itu” tertutup rapat. Sang “pintu itu” sadar akan ketertutupannya. Dia berusaha untuk membuka kembali “pintu itu” perlahan-lahan.

Langkah pertama, membersihkan benalu, lumut dan tanaman-tanaman liar. Itu sudah berhasil. Berusaha membuka gerendel. Kedua usaha itu berhasil. Semilir angin sudah mulai mengalir melalui “pintu itu”. Bahkan tidak hanya angin. Air hujan dan salju ikut masuk. Terasa segar…

Lagi-lagi badai Katrina kembali menyerang. Kali ini kekuatannya lebih dahsyat. Gerendel yang tadinya terbuka, menjadi tertutup lagi. Benalu, lumut dan tanaman liar mulai tumbuh. Yang mengherankan, pertumbuhan tanaman-tanaman liar itu sangat cepat. “Pintu itu” hanya bisa menahan tangis. Menahan rasa sakit dan darah yang mengalir deras karena body-nya yang mulai mengelupas terkena bencana dua kali. “Pintu itu” menyadari, dirinya sendiri sudah sulit untuk membukanya lagi. Gerendel, kunci, dan gembok yang dulu dengan mudah dibuka dan ditutup kini sudah berkarat.

“Pintu itu” kini hanya berteriak minta tolong kepada orang-orang yang lewat untuk membantunya membuka “pintu itu”. Dia tidak ingin “pintu itu” dibuka secara paksa dengan linggis, bom ataupun dobrakan orang. Itu semua tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, akan membuat kesakitan sang “pintu itu”.

Yah…”pintu itu” mulai sadar bahwa tindakannya mengunci pintu adalah salah. Akankah Tuhan memberi kesempatan kedua kali untuk “pintu itu” membuka dirinya sendiri? Semoga…. I wish…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s