Catatan Perjalanan Palembang-Pangkal Pinang I

Setelah hampir setahun aku tidak melakukan perjalanan keluar jawa karena tugas kantor, awal 2006 ini kesempatan itu datang lagi. Tugas kali ini tidak begitu berat, karena hanya merupakan tugas lobiying saja, tanpa ada keharusan untuk menulis. Namun, bedanya aku tidak bisa berlama-lama di satu kota, juga tidak ada kesempatan untuk berjalan keliling kota. Meski begitu aku tetap menganggap tugas DLK kali ini sebagai ‘rekreasi pribadi’ terselubung. (segalanya tetap harus dianggap tanda syukur, kan).
Setelah dengan dua ibu dari tim humaniora, Ibu Nila dan Upik, akhirnya aku memilih wilayah-wilayah Sumatera bagian utara. Pertimbanganku ada beberapa daerah di wilayah itu yang belum pernah dikunjungi. Aku memilih untuk melakukan lobiying kepala dinas kesehatan di NAD, Sumatera Utara, Riau, Palembang, dan Bangka Belitung. Dari kelima provinsi itu, Sumatera Utara dan Riau pernah kukunjungi tapi hanya dalam waktu singkat.
Aku bertekad memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Sekecil waktuku akan tetap kupadatkan dengan acara kerja, makan, dan jalan-jalan.

Rupanya rencana kepergianku tidak semulus yang kubayangkan. Rencana semula aku berangkat tanggal 23-26 Januari 2006. Akan tetapi karena desk humaniora memberiku tugas menulis, dengan terpaksa rencana kuubah tanggal 24-27 Januari 2006. Sebelum berangkat, rasanya badan capek semua. Weekend sebelumnya, ada raker litbang database di Puncak. Sepulang raker aku masih harus nglembur nulis untuk diserahkan desk humaniora besok pagi. Ternyata senin sore aku tidak bisa pulang cepat karena harus ikut rapat desk nusantara. Akhirnya aku pulang Meski terasa berat bagiku, bayangan liburan sudah melambai-lambai di depan mata, membuat aku tetap semangat menjalaninya
Akhirnya hari yang kunanti-nanti telah tiba. Hawa pagi yang dingin tidak membuatku malas. Aku siap menyambut perjalanan rekreasiku ini dengan semangat tinggi. Pukul 8.15 aku berangkat dari rumah menuju kantor untuk mengambil beberapa souvenir yang sengaja kutinggal. Karena jalan arteri permata hijau di depan kantor macet, aku baru sampai di kantor pukul 9.15. Melihat kondisi jalan yang macet dan langit mendung, aku berpesan pada sopir Taksi Express yang kutumpangi untuk menjemputku 2 jam lagi.
Segera aku masuk kantor dan mengerjakan tabel pesanan dari desk humaniora untuk artikel kekerasan terhadap anak. Untung hanya ada satu kolom tabel yang belum kuisi. Dengan cepat aku mengerjakan, sambil sesekali berkonsultasi dengan Susan, anak PIK.
Pukul 10.30, tugas selesai dan segera kukirim ke Evy (wartawan humaniora) melalui email. Setelah berkemas-kemas dan berpamitan dengan beberapa teman, tepat pukul 11.00 aku turun ke bawah. Taksi Express yang kupesan sudah setia menunggu di depan gerbang kantor.
Perjalanan ke Bandara, mulus, tanpa halangan sedikitpun. Setengah jam kemudian aku sudah sampai ke terminal 2 keberangkatan. Perut sudah mulai berbunyi keras, segera aku menuju KFC untuk makan siang. Kira-kira pukul 12.00, aku selesai makan dan segera check-in.
Tepat pukul 13.00 pesawat Garuda yang membawaku terbang ke Palembang siap terbang. Cukup beruntung bagiku karena kursi-kursi pesawat banyak yang kosong dan aku segera memilih untuk duduk di pinggir jendela pesawat sambil melihat awan-awan yang berjejer di samping kiri dan kanan pesawat.
Melihat awan-awan putih yang melayang-layang, imajinasiku kembali terbentuk. Aku teringat dengan buku yang kubaca “Five People You Meet in Heaven”. Dalam buku itu, si tokoh, Alex diceritakan berjalan melayang-layang di atas awan saat bertemu 5 orang dalam perjalanannya di surga. Aku berharap di salah satu awan yang kulihat, Alex duduk sambil berbincang-bincang dengan manusia biru. Sambil melamun, tak sadar aku pun tertidur.
Beberapa saat kemudian, aku terbangun karena pramugara membangunkanku untuk segera makan roti. Buyar sudah semua kantukku. Dus roti biru garuda tidak kusentuh dan hanya kumasukkan dalam tas roti Jacylin C Cakes. Aku ingin segera melanjutkan tidur, apa daya pilot sudah mengumumkan, beberapa saat lagi pesawat akan memasuki Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Segera kubuka mata lebar-lebar dan aku berteriak dalam hati, “Palembang, aku datang! Siap berburu empek-embek dan jalan-jalan”

Candu Empek-Empek Palembang
Tepat pukul 14.00 pesawat Garuda mendarat mulus di landasan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Wow…ternyata bandaranya cukup bagus dan bau harum cat masih tercium. Menurut cerita sopir taksi, bandara yang kusinggahi ini merupakan bangunan baru dan masih tiga bulan dioperasikan. Masih cukup bagus dan layak menyandang gelar bandara internasional. Bandara Ahmad Yani yang juga merupakan bandara internasional, penampilannya kalah jauh dibanding bandara ini.
Setelah memesan taksi, aku siap meluncur mencari hotel di Palembang. Tujuan utama adalah Hotel Bumi Asih karena berdasarkan info seorang teman, hotel itu cukup bagus dengan harga per harinya masih terjangkau dengan jatah kantor. Namun, setelah mendengar penjelasan dari sopir hotel bahwa Hotel itu jelek, dan sebagainya, aku mengikuti sarannya untuk menginap di Hotel Sapa Marwa yang katanya ada di pusat kota, dekat dengan Carrefour dan sebagainya. Dari hati kecil aku masih belum bisa percaya dengan info sopir taksi itu. Segera kutelpon caca untuk mencari kejelasan mengenai hotel. Tapi ternyata dua nomer Caca tidak nyambung juga. Untung aku masih punya no telpon Lukita. Lama tidak diangkat, akhirnya kuputuskan untuk mengikuti saran sopir. Untung beberapa saat kemudian Luki telpon dan menyarankanku untuk menginap di Hotel Swarna Dwipa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor Kompas.
Segera kuubah keputusanku untuk menginap di hotel Sapa Marwa dan berganti ke Swarna Dwipa. Beruntung Palembang bukan seperti Jakarta yang jika salah jalan harus memutar jauh. Kali ini meski hotel Swarna Dwipa berbeda arah dengan Sapa Marwa, tetap saja mobil bisa memutar dan mencari jalan lain. Yah itung-itung jalan-jalan keliling kota Palembang.
Satu jam berlalu, pukul 14.00 aku sampai di hotel Swarna Dwipa. Setelah check in, aku masuk kamar dan tidur… Tidur siang merupakan kemewahan bagiku. Dan aku memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Ditambah lagi tidur siang di kamar AC dengan udara luar yang sedikit mendung, menambah nikmat tidur siangku.
Pukul 17.00 Caca menelponku. Dia berniat menjemputku di hotel setelah dia menyelesaikan tulisannya. Tapi tak lama kemudian aku berubah pikiran, karena aku tidak mau lama menunggu Caca. Aku memutuskan untuk naik angkot ke kantor kompas yang katanya tidak begitu jauh dari hotel.
Naik angkot warna biru, aku pergi ke kantor kompas di Jl. Jaksa Agung Suprapto nomer 12. Rupanya kantor kompas biro palembang merupakan rumah bangunan lama yang berwarna putih dan biru muda.
Beberapa saat kemudian aku sudah terlibat pembicaraan dengan mas Mul, kepala Biro Palembang, Caca, dan Ilham. Sambil ngobrol, mataku tak lepas dari monitor komputer. Aku masih menyempatkan diri untuk chatting, buka-buka email, dan surfing. Dari Ilham aku mendapat banyak info tentang Pulau Bangka. Sayang dia tidak menyimpan no telpon hotel tempat dia bisa menginap.
Sekitar pukul 20.00 aku meninggalkan kantor Kompas. Tujuan utama adalah makan empek-empek Candy. Saat yang tepat karena perutku memang telah lapar. Dalam pikiranku tidak ada yang istimewa dengan empek-empek Palembang. Toh aku sering makan empek-empek di Jakarta dan Lampung. Pasti tidak ada bedanya dengan empek-empek di dua kota tersebut.
Aku memesan empek-empek kapal selam yang besar dan Caca empek-empek lonjong dan bunder yang disebut adaan. Gigitan pertama empek-empek kapal selam, aku tidak menemukan keistimewaan, bahkan sampai gigitan terakhir. Tawaran Caca untuk mengicipi adaan segera kutanggapi. Saat kucicipi adaan, saat gigitan pertama, kurasakan nikmat yang luar biasa. Rasa tengiri yang menyelimuti empek-empek bundar tersebut sangat terasa. Gigitan selanjutnya, aku seperti orang ketagihan o
bat saja. Aku makan tiada henti.
Baru aku menyadari pesan Caca, bahwa hati-hati jika makan adaan bisa ketagihan. Baru gigitan pertama saja aku sudah merasakannya. Esok harinya saat memesan empek-empek untuk teman-teman di Jakarta, Tangerang, dan Semarang aku tergoda untuk mencicipi adaan lagi.

Perjalanan Singkat Menyusuri Sungai Musi
Setelah perut kenyang dengan berbagai macam empek-empek, perjalanan dilanjutkan ke pinggir Sungai Musi dan Benteng Kuto Besak. Rasa penasaran masih menyelimutiku bagaimana bentuk sebenarnya jembatan ampera dan benteng tersebut.
Tak lama kemudian motor Caca mendekati pinggir sungai Musi. Dari kejauhan jembatan Ampera tampak berdiri kokoh menghubungkan dua bagian kota Palembang yang terpisah oleh Sungai Musi. Sekilas jembatan ini mirip Golden Gate di San Fransisco AS. Lampu-lampu yang sengaja dipasang di sekeliling jembatan semakin menambah keindahan jembatan Ampera.
Pemkot Palembang juga menyediakan daerah-daerah pinggir sungai Musi untuk sekadar nongkrong. Yah seperti Plaza. Lumayan jugalah pariwisata di Palembang. Seperti biasa aku tidak tahan untuk mengeluarkan kamera dan memotret-motret suasana yang ada. Kali ini kamera nikonku bisa diajak kerjasama, karena bisa digunakan untuk memotret kondisi malam hari. Meski ada beberapa gambar yang membias.
Tiba-tiba saja ada tawaran untuk menyusuri Sungai Musi di sekitar jembatan Ampera dengan ongkos Rp 20 ribu. Tanpa pikir panjang langsung kuiyakan. Kapan lagi bisa menikmati sungai Musi di malam hari. Saat itu, Caca gak mau menemani dengan alasan mabuk laut. (hehehe mabuk laut or mabuk sungai?) Entah kenapa akhirnya dia mau menerima rayuan tukang perahu untuk menemaniku.
Alhasil, kami bertiga (dengan tukang perahu) menyusuri sungai Musi saat malam hari. Momen yang tak terlupakan adalah saat melewati bawah jembatan Ampera. Baru kali ini aku berperahu di bawah jembatan. Di kanan kiri sungai banyak kapal-kapal nelayan yang tertambat. Ada juga satu buah klenteng yang terletak persis di pinggir sungai. Di sebelah kanan sungai Musi ada pom bensin untuk melayani kebutuhan BBM kapal-kapal nelayan.
Saat asyik motret-motret tiba-tiba saja ada ombak yang mengombang-ambingkan perahu kecil kami. Kaget juga karena hampir saja aku terjatuh ke sungai. Untung tukang perahu cepat menguasai keadaan dan perahu tenang kembali.
Aku masih tetap menikmati suasana pinggir sungai Musi sambil sesekali ngobrol dengan Caca. Mendekati tempat keberangkatan perahu, ada rumah makan terapung. Sebenarnya konsepnya bagus, sayang belum laku. Mungkin karena belum dikenal oleh masyarakat atau karena transportasi menuju rumah makan tersebut sulit.
Setelah perahu mendarat di pinggir sungai, kami memutuskan segera pulang. Caca tampak lelah dan matanya mulai merah karena mengantuk. Sedangkan aku harus mempersiapkan diri untuk hari esok

Misi Menemui Kepala Dinkes Sumsel
Rabu (24/1) saat yang kutentukan untuk menemui kadis Kesehatan Sumsel. Sebenarnya orang yang ingin ketemui bukan kepala dinas. Lebih tepatnya adalah Kepala bagian penyakit menular, Bp Adjad. Beliau lebih mudah ditemui daripada kepala dinas yang sering bepergian untuk rapat atau sekedar meninjau wilayah-wilayah lain.
Sesuai dengan yang kujanjikan, sebelum pukul 8.00 aku sudah sampai di kantor Dinkes. Angkot dari hotel ke kantor tersebut relatif mudah kumengerti. Pak Adjad baru selesai apel pagi, dan minta kesempatan untuk melakukan briefing dengan anak buahnya di ruangan. Hampir satu jam aku menunggu beliau. Akhirnya kuberanikan diri untuk melongok isi ruangan karena kulihat beberapa menit terakhir, beberapa orang keluar masuk ruangan.
Ternyata setelah mengadakan briefing, beliau masuk ruangan dan asik membaca koran. Untung saja aku berinisiatif menunggu di depan ruang kerjanya. Coba kalau tidak, baru bisa jam 10.00 aku ketemu beliau.
Dari surat pengantar yang kukirimkan sebelumnya lewat fax, cukup membantu proses lobiying kali ini. Pak Adjad sudah mengerti dengan misi yang kumaksud. Beliau malah menyarankan untuk proses pengiriman data bulan-bulan berikutnya bisa melalui email. Dan ada beberapa data kasus penyakit yang tidak bisa dikirim per bulan. Dari sederetan daftar penyakit yang kukirim hanya data penyakit demam berdarah yang bisa dikirim per bulan, sisanya dikirim tiap tiga bulan.
Kemudian aku dikenalkan dengan dr Milzan yang bertugas mengirim data itu kepadaku tiap bulannya. Dokter itu masih muda dan cakep. Hehehehehe…Tapi aku tetap berusaha untuk bekerja seprofesional mungkin. Jadi aku berusaha menerangkan kembali maksud dari litbang Kompas untuk mendapatkan data itu setiap bulannya. Rupanya dia setuju. Dalam hati aku Cuma berharap agar janji dokter itu ditepati.
Selanjutnya…tugas pertama selesai dan aku siap jalan-jalan. Oh ya… aku masih harus kulakan empek-empek untuk teman-teman di Jakarta, ortu di Semarang, dan Nana di Tangerang.

Perjalanan Menyusuri Jembatan Ampera
Setelah menyelesaikan urusan pengiriman empek-empek, aku tergoda kembali untuk mengicipi empek-empek adaan. Padahal saat itu bukan saat yang tepat untuk makan siang. Hehehehe…adaan benar-benar membuatku nyandu.
Aku memutuskan pulang ke hotel setelah menikmati sepiring adaan untuk mengurus segala keperluan di Pangkal Pinang. Sebelumnya, tak sengaja di sebelah Empek-Empek Candy, ada biro perjalanan. Kebetulan…karena aku belum mendapatkan tiket Pangkal Pinang-jakarta.
Sesampai di hotel, aku segera menggunakan ponselku untuk menghubungi ibu Farida, Plh Kadis Kesehatan Babel. Karena hari kamis beliau pergi ke Batam, aku diminta menemui ibu Etty. Untuk sementara masalah itu beres. Sekarang tinggal mencari tempat menginap di Pangkal Pinang. Kemarin aku lupa menanyakan nomor telepon hotel di Pangkal PInang yang direkomendasikan Ilham. Aku baru ingat, ada kontak person humas Prov Bangka Belitung yang sebelumnya sering aku hubungi. Lewat sms, aku menanyakan hotel di Pangkal Pinang dan Pak Monang (humas Babel) memberikan beberapa alternatif hotel. Dari tiga nomer itu, aku hanya bisa menghubungi no telpon Hotel Centrum. Setelah harganya cocok, aku memutuskan untuk menginap di Hotel Centrum.
Urusan untuk hari kamis sudah beres. Aku bertekad untuk jalan-jalan keliling kota Palembang. TUjuan utamaku adalah makan siang di salah satu plaza di Palembang. Setelah sampai disana aku segera mencari food court. Sungguh mengecewakan, di Istana Plaza Palembang tidak ada food court. Hanya ada beberapa restoran siap saji di lantai dasar. Kupikir tidak mengasyikkan makan makanan fast food di Palembang. Aku ingin mencari makanan khas Palembang selain empek-empek. Namun karena perut lapar tidak bisa ditahan, aku memilih makan mie ayam bakso di lantai atas. Lagi-lagi, diluar perkiraanku, makanan yang disajikan cukup anek dipandang dan dirasakan. Mienya berukuran besar dan dagingnya tidak berwarna coklat tetapi putih. Lagi-lagi karena perut lapar, tetap aja makanan aneh itu kusantap.
Nafsu makan terpuaskan. Tinggal hasrat untuk jalan-jalan yang belum terpenuhi. Bergegas aku menyeberang Istana Plaza dan naik bis ke arah Jembatan Ampera. Setelah bis menyeberang jembatan Ampera, aku turun dan berjalan di sepanjang jembatan. Tetap aja asyik dengan kameraku tanpa memedulikan teriknya matahari dan pandangan aneh orang-orang terhadapku. Setelah lima menit jalan-jalan, baru aku teringat dengan pesan Caca bahwa daerah ini rawan. Setelah itu perasaanku jadi deg-degan dan mencurigai orang-orang yang berjalan di belakangku.Meski begitu, tetap aja aku tidak menyembunyikan kameraku.
Setelah hampir 15 menit aku berjalan menyusuri jembatan, aku sampai lagi di depan mesjid agung Palembang di perempatan …… (saying aku tidak tahu namanya).Aku masih berminat untuk melanjutkan petualanganku. Kali ini tujuanku adalah pinggir Sungai Musi.Aku ingin mendapatkan gambar jembatan ampere di siang hari. Naik becak dari depan mesjid, aku menuju lokasi yang kumaksud. Setelah berpuas-puas diri, aku kembali ke hotel. Sudah terpuaskan hasratku untuk makan siang dan berpetualang di Pa
lembang. Aku capek dan ngantuk.

To be continued…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s